Beri Kesempatan Masyarakat Produktif agar Tidak Terus Bergantung Bantuan Pemerintah

Senin, 12 Okt 2026, 03:10 WIB

NEW YORK - Upaya Tiongkok mencapai pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan patut diteladani. Negara tersebut juga telah membuktikan bahwa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG) PBB dapat dicapai, seiring dengan Inisiatif Sabuk dan Jalan Sutra (Belt and Road Initiative/BRI) yang membantu mewujudkan tujuan-tujuan tersebut.

Analis Ekonomi Politik Amerika Serikat (AS) untuk Afrika yang terlibat dalam kebijakan pembangunan ekonomi benua itu, Lawrence Freeman mengatakan keberhasilan ekonomi Tiongkok dua generasi terakhir menjadi contoh berharga bagi negara-negara lain.

Ket. Foto: Pembangunan Berkelanjutan — Sumber: afp

“Dunia menghadapi tantangan berat untuk mewujudkan SDG pada 2030, dengan sekitar 800 juta jiwa hidup dalam kemiskinan ekstrem di seluruh dunia,” kata Freeman dalam sebuah wawancara dengan Xinhua baru-baru ini.

Di Afrika saja, sekitar 440 juta orang hidup dalam kemiskinan ekstrem, sedikit di bawah sepertiga dari total populasinya, sementara angka kemiskinan terus meningkat.

“Namun, kabar baiknya adalah Tiongkoka , dalam kurun waktu dua generasi, telah merombak total perekonomiannya, menghapus kemiskinan ekstrem di perdesaan, dan memimpin dunia dalam pertumbuhan ekonomi fisik berbasis infrastruktur. Tiongkok membuktikan bahwa hal tersebut dapat diwujudkan,” kata Freeman.

Tiongkok dengan komitmen yang teguh terhadap pembangunan negaranya, dan kemahirannya dalam tata kelola ekonomi yang efektif, telah membuktikan kepada dunia bahwa SDG dapat diwujudkan.

Inisiatif Pembangunan Global yang diusulkan oleh Tiongkok pada September 2021 menjabarkan konsep esensial pembangunan yang paling penting untuk dipahami oleh semua negara, sementara pertumbuhan BRICS telah memberikan masukan krusial serta kontribusi nyata di lapangan guna mewujudkan SDG.

Peran utama Tiongkok di Global South sangat berharga dalam mendorong kemajuan ekonomi dunia. “Kita harus mengakui bahwa masa depan planet ini bergantung pada pembangunan Global South,” katanya.

Dirasakan Masyarakat

Pengamat ekonomi Universitas Wijaya Kusuma (UWKS) Surabaya, Ermatry Hariani, menilai, keberhasilan Tiongkok mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengentaskan kemiskinan menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam mempercepat pencapaian SDGs pada 2030.

Pemerintah katanya perlu memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dalam angka statistik, tetapi juga dirasakan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, pemerataan pembangunan, dan peningkatan pendapatan. Pengalaman Tiongkok serta pengembangan Inisiatif Sabuk dan Jalan atau Belt and Road Initiative (BRI) juga menunjukkan pentingnya pembangunan infrastruktur dan konektivitas ekonomi, meski penerapannya di Indonesia perlu disesuaikan dengan kebutuhan nasional.

“Yang bisa dipelajari dari Tiongkok itu bagaimana pertumbuhan ekonomi benar-benar diarahkan untuk mengubah kehidupan masyarakat. Bukan sekadar angka pertumbuhan tinggi, tetapi bagaimana orang yang sebelumnya miskin bisa punya pekerjaan, penghasilan, dan akses terhadap pendidikan yang lebih baik.”

  • Pembangunan Berkelanjutan

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.