Bapanas Bongkar Biang Kerok Harga Ayam-Telur: Middleman Mainkan Harga 100 Persen!
📅 Senin, 12 Okt 2026, 21:30 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA- Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyoroti anomali harga ayam dan telur yang terjadi di tingkat produsen dan konsumen. Di tengah keluhan peternak akibat rendahnya harga jual, masyarakat justru harus membayar lebih mahal untuk mendapatkan kedua komoditas tersebut.
Amran meminta dugaan permainan harga di rantai distribusi atau middleman ditindaklanjuti bersama aparat penegak hukum. Ia menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena peternak dan konsumen sama-sama menghadapi persoalan harga, meskipun berada pada sisi yang berbeda.
“Ada yang menarik, inflasi telur ayam, inflasi ayam, inflasi beras, itu yang paling menonjol. Tiga ini menonjol, tapi lucu. Di harga di produsen, di bawah HPP yang ditentukan pemerintah. Jadi, karena harga rendah, peternaknya demo. Tapi dalam waktu bersamaan, konsumen juga berteriak,” ujar Amran dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (12/10).
Amran mengungkapkan, harga ayam dan telur di tingkat produsen berada di kisaran Rp20.000–Rp21.000, sedangkan di tingkat konsumen dapat mencapai Rp40.000–Rp45.000. Menurutnya, perbedaan harga tersebut perlu ditelusuri karena peternak yang bekerja keras memenuhi kebutuhan pangan justru menghadapi persoalan harga jual, sementara masyarakat harus membayar lebih mahal.
“Harganya Rp20.000, Rp21.000. Tetapi di konsumen bisa Rp40.000, Rp45.000. Middleman ini, ada yang memainkan harga. Kami sudah menyurat ke Pak Kapolri. Kami sudah sepakat, beliau, kalau kolaborasi, kita harus perangi,” tegas Amran.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menegaskan, dugaan permainan harga tidak boleh dibiarkan terus berlangsung. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan koordinasi lintas lembaga agar dugaan praktik yang merugikan peternak maupun konsumen dapat ditelusuri dan ditindak sesuai ketentuan.
“Ini tidak akan selesai kalau mafianya masih bercokol di tengah-tengah kita. Ini nggak bisa,” tegasnya.
Amran juga menyoroti kerja keras peternak dalam menjaga produksi pangan nasional. Ia menyebut Indonesia telah mampu memenuhi kebutuhan ayam dan telur, bahkan melakukan ekspor. Karena itu, kondisi harga di dalam negeri yang dinilai tidak sejalan dengan situasi produksi menjadi perhatian pemerintah.
“Ini peternak berjibaku, siang malam tidak tidur, kerja berproduksi. Kita surplus, kita ekspor. Tapi harga dalam negeri naik melampau,” ujar Amran.
Sebelumnya, pada Jumat (9/10/2026), Amran menegaskan komitmen pemerintah untuk membela peternak ayam petelur rakyat melalui percepatan penyaluran jagung program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta penguatan penyerapan telur produksi dalam negeri. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga keberlangsungan usaha peternak, terutama dalam menghadapi persoalan biaya produksi dan ketersediaan bahan baku pakan.
Dalam pertemuan bersama para peternak saat itu, Amran menekankan perlunya pembenahan persoalan peternakan secara menyeluruh. Pemerintah tidak hanya memperhatikan ketersediaan bahan baku pakan, tetapi juga mendorong penguatan penyerapan hasil produksi dalam negeri. Sorotan terhadap anomali harga kali ini turut menempatkan rantai distribusi sebagai bagian yang perlu mendapat perhatian.
Di sisi lain, sebagai bagian dari aksi bela beli peternak, pemerintah terus mempercepat penyaluran jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta memperkuat penyerapan telur produksi dalam negeri. Hingga 12 Oktober 2026, realisasi penyaluran jagung SPHP telah mencapai 192.732.350 ton atau 79,91 persen dari pagu 241.199 ton. Pemerintah juga memperkuat pemenuhan stok jagung hingga mencapai 250.000 ton pada akhir 2026 untuk mendukung keberlanjutan pasokan bagi peternak.
Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah membenahi persoalan peternakan dari hulu hingga hilir, mulai dari ketersediaan bahan baku pakan dengan harga terjangkau hingga penyerapan hasil produksi dalam negeri. Melalui aksi bela beli peternak, pemerintah mendorong ekosistem usaha yang lebih sehat agar peternak memperoleh kepastian usaha, sementara kebutuhan masyarakat terhadap ayam dan telur tetap terpenuhi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!