• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Superhero Tewas Ditembak, ...

Superhero Tewas Ditembak, Fans DC yang Kecewa dengan Serial Lanterns Serukan Boikot Clayface

Minggu, 11 Okt 2026, 05:15 WIB

Seruan boikot terhadap film Clayface mulai bermunculan di media sosial setelah episode final serial Lanterns memicu kekecewaan sebagian penggemar DC. Mereka mempersoalkan nasib Hal Jordan, salah satu karakter penting Green Lantern, serta keputusan cerita yang dinilai tidak sesuai dengan karakterisasi dalam komik.

Film Clayface yang menjadi bagian dari semesta DC Universe (DCU) besutan James Gunn dijadwalkan tayang di bioskop pada 23 Oktober 2026. Namun, menjelang perilisan tersebut, sejumlah penggemar menyatakan tidak akan membeli tiket sebagai bentuk protes terhadap arah kreatif DC Studios.

Ket. Foto: Komentar sebagian fans tersebut merupakan reaksi di media sosial dan belum membuktikan adanya boikot berskala luas. Dampaknya terhadap penjualan tiket Clayface baru dapat dinilai setelah film tersebut dirilis. — Sumber: Istimewa

Salah satu seruan boikot datang dari akun penggemar Green Lantern di platform X, @G_O_A_T_Lantern. Akun tersebut menyatakan tidak akan menonton Clayface karena kecewa dengan cara serial Lanterns memperlakukan Hal Jordan. Ia juga mengajak penggemar lain yang memiliki pandangan serupa untuk melakukan tindakan yang sama.

Kekecewaan tersebut berkaitan dengan akhir cerita Lanterns, yang menggambarkan Hal Jordan tewas ditembak seorang polisi. Sebagian penonton juga mempersoalkan keputusan John Stewart yang membiarkan pelaku pergi, serta sejumlah konsekuensi cerita setelah kematian karakter tersebut.

Bagi para penggemar yang menyuarakan protes, persoalannya bukan hanya kematian Hal Jordan. Mereka menilai penyelesaian cerita tidak memberikan pertanggungjawaban yang sepadan kepada pihak yang dianggap bertanggung jawab, sementara karakter Hal sebelumnya digambarkan harus menjalani hukuman penjara selama bertahun-tahun.

Kritik juga meluas ke penulisan karakter Green Lantern lainnya, termasuk John Stewart, Guy Gardner, dan Sinestro. Sejumlah penggemar menilai penggambaran mereka tidak konsisten dengan versi komik, terutama dalam hal kemampuan, motivasi, dan hubungan antarkarakter.

Meski demikian, komentar-komentar tersebut merupakan reaksi sebagian penggemar di media sosial dan belum membuktikan adanya boikot berskala luas. Dampaknya terhadap penjualan tiket Clayface baru dapat dinilai setelah film tersebut dirilis.

Di tengah perdebatan itu, sutradara sekaligus pimpinan bersama DC Studios, James Gunn, turut menanggapi kritik terhadap proyek Clayface. Menanggapi pertanyaan mengenai siapa yang menginginkan film tersebut, Gunn membandingkannya dengan film Back to the Future melalui komentar bernada retoris: “Siapa sih yang meminta Back to the Future?”

Pernyataan itu muncul ketika sebagian penggemar mempertanyakan alasan DC Studios mengembangkan film yang berfokus pada Clayface, karakter antagonis Batman yang dikenal memiliki kemampuan mengubah bentuk tubuhnya. Film ini menjadi salah satu proyek DCU yang mencoba membawa karakter dari dunia komik ke dalam cerita tersendiri.

Di sisi lain, perubahan kepemimpinan perusahaan induk juga menjadi perhatian. Dalam pengumuman struktur kepemimpinan Paramount Skydance, James Gunn dan Peter Safran dikonfirmasi tetap menjabat sebagai ketua bersama DC Studios. Keduanya bertanggung jawab mengembangkan arah kreatif semesta DC di bawah struktur perusahaan baru tersebut.

Laporan Cosmic Book News menyoroti bahwa pengumuman kepemimpinan itu tidak menyebut Clayface. Namun, tidak dicantumkannya judul film dalam sebuah siaran pers tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya masalah terhadap proyek tersebut.

Dari sisi komersial, proyeksi yang dikutip Cosmic Book News dari Boxoffice Pro memperkirakan pendapatan pembukaan Clayface di Amerika Utara berada pada kisaran 23 juta hingga 33 juta dolar AS. Angka itu berada di bawah proyeksi yang disebutkan media tersebut untuk Supergirl, yang memperoleh pendapatan pembukaan 37,1 juta dolar AS.

Proyeksi tersebut masih berupa perkiraan, bukan hasil penjualan tiket. Kinerja film nantinya juga akan dipengaruhi ulasan penonton, promosi, persaingan di bioskop, serta minat terhadap cerita yang ditawarkan.

Kontroversi ini memperlihatkan tantangan yang dihadapi DC Studios dalam membangun semesta film yang saling terhubung. Ketika sebuah serial memicu ketidakpuasan sebagian penggemar, reaksi tersebut berpotensi terbawa ke proyek lain yang berada di bawah waralaba yang sama.

Meski demikian, keberhasilan atau kegagalan Clayface tidak dapat ditentukan hanya dari seruan boikot di media sosial. Perilisan film pada 23 Oktober 2026 akan menjadi salah satu tolok ukur untuk melihat sejauh mana kontroversi Lanterns memengaruhi minat penonton terhadap proyek terbaru DCU.

  • Clayface

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.