Menekraf: PPh Royalti Buku Dipangkas Jadi 1,5 Persen
📅 Minggu, 11 Okt 2026, 17:50 WIB | Oleh: Ilham SudrajatJAKARTA – Pemerintah berencana menurunkan pajak penghasilan (PPh) royalti buku dari 15 persen menjadi 1,5 persen untuk meningkatkan kesejahteraan penulis. Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf), Teuku Riefky Harsya, mengatakan ini merupakan salah satu upaya memperkuat ekosistem penerbitan nasional.
Menurut dia, rancangan peraturan pemerintah mengenai kebijakan tersebut telah memperoleh persetujuan Presiden Prabowo Subbianto. Ini dilakukan melalui tahapan partisipasi bermakna dan selanjutnya memasuki proses harmonisasi.
“Rancangan peraturan pemerintah terkait kebijakan ini telah memperoleh persetujuan izin prakarsa dari Bapak Presiden,” ujar dia, Minggu (11/10). “Ini telah melalui tahapan partisipasi bermakna untuk selanjutnya memasuki proses harmonisasi.”
Menekraf berharap kebijakan perpajakan tersebut memberikan kepastian bagi penulis sekaligus mendorong keberlanjutan industri penerbitan nasional. Menurut dia, pemerintah juga berupaya memperluas pemanfaatan karya sastra Indonesia agar memiliki nilai ekonomi dan menjangkau pasar lebih luas.
Menekraf mengatakan subsektor penerbitan memiliki peran strategis untuk menciptakan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP). Karya sastra Indonesia berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif, mulai dari film, animasi, gim, hingga produk turunan lainnya.
“Karena itu hilirisasi dan komersialisasi IP menjadi penting agar karya-karya para penulis Indonesia dapat terus berkembang,” ucap dia. “Sehingga dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan memberikan manfaat ekonomi bagi para kreatornya.”
Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif, Cecep Rukendi, mengatakan Festival Literaia 2026 dirancang untuk memperkuat subsektor penerbitan. Kegiatan ini menyajikan pameran buku, temu bisnis, pameran kekayaan intelektual lokal, diskusi panel, serta pembekalan pitching dan pemahaman kontrak.
“Festival ini digagas sebagai wujud nyata komitmen pemerintah di dalam mendorong subsektor penerbitan dan literatur,” ujar dia. “Sehingga nantinya tidak hanya menjadi ruang penciptaan karya, tetapi juga motor penggerak ekonomi kreatif, melalui hilirisasi kekayaan intelektual.
Cecep berharap penyelenggaraan Literaya berikutnya menghadirkan program yang lebih beragam untuk menjawab kebutuhan sektor penerbitan. Melalui kolaborasi antara penulis, penerbit, dan pelaku industri kreatif, festival ini diharapkan membuka peluang kerja sama serta memperluas pemanfaatan karya Indonesia. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!