Mentan Siapkan Solusi Permanen untuk Atasi Persoalan Pasokan Pakan Ternak

Sabtu, 10 Okt 2026, 15:52 WIB

JAKARTA – Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyiapkan solusi permanen untuk mengatasi persoalan pakan ternak melalui ekosistem terintegrasi dari hulu hingga hilir. Skema ini mencakup penyediaan bahan baku pakan, kemitraan peternak dengan petani jagung, penyerapan hasil panen, hingga pengembangan industri pengolahan produk peternakan.

Solusi tersebut dibahas dalam pertemuan Amran bersama perwakilan peternak, koperasi, dan asosiasi peternakan di Jakarta, Jumat (9/10). Pemerintah ingin membangun sistem yang menjaga ketersediaan pakan, menstabilkan harga, dan memastikan peternak memperoleh keuntungan yang layak.

Ket. Foto: — Sumber: Kementan

“Rapat hari ini adalah kita menghasilkan beberapa kebijakan dan insyaallah menjadi solusi permanen. Arahan Bapak Presiden, dengarkan suara rakyat, dengarkan suara peternak dan petani Indonesia. Buat regulasi yang menguntungkan, yang berpihak pada mereka,” ujar dia.

Amran mengatakan, persoalan peternakan perlu ditangani melalui ekosistem usaha yang saling terhubung. Peternak tidak hanya menjadi pengguna bahan baku pakan, tetapi juga dapat membina petani jagung, menyerap hasil panen, dan mengelola stok melalui koperasi.

“Yang pertama adalah kita membangun ekosistem yang sehat. Dari hulu sampai hilir harus kita jaga. Kita bangun sistem yang bagus,” ucap dia.

Pada sisi hulu, Kementerian Pertanian menyiapkan bantuan benih jagung gratis untuk pengembangan lahan seluas 20.000 hektare hingga Desember 2026. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kemitraan peternak dengan petani jagung agar kebutuhan bahan baku pakan dapat dipenuhi melalui produksi dalam negeri.

Dalam skema tersebut, peternak membina kelompok petani jagung sekaligus menjadi pembeli hasil panen. Jika produksi melebihi kebutuhan, Perum Bulog akan berperan sebagai pembeli siaga atau offtaker untuk menyerap kelebihan pasokan.

“Peternak punya binaan, binaan petani jagung. Kementerian Pertanian memberikan sampai Desember 20.000 hektare benih jagung gratis. Setelah ditanam, peternak yang menjadi pembeli. Kalau terjadi kelebihan pasokan, yang menjadi offtaker adalah Bulog,” kata Amran.

Pemerintah juga menyiapkan dukungan alat dan mesin pertanian untuk menunjang produksi jagung. Pada tahap awal, bantuan direncanakan berupa 20 unit traktor dan dapat ditambah sesuai kebutuhan di lapangan.

Selain memperkuat produksi, Amran meminta Bulog menjaga ketersediaan stok jagung pada periode kritis September hingga Desember. Pemerintah menargetkan stok sebanyak 250.000 ton agar kebutuhan peternak tetap terpenuhi ketika produksi dan distribusi mengalami tekanan.

“Ini dijaga. Stoknya kita minta 250.000 ton pada bulan-bulan kritis,” ujar dia.

Pemerintah turut memperkuat mekanisme resi gudang untuk mengatasi keterbatasan modal petani, koperasi, dan peternak. Melalui mekanisme ini, Bulog dapat membeli serta menyimpan hasil panen yang belum terserap karena keterbatasan modal pembeli.

Jagung yang disimpan tetap menjadi milik koperasi atau pihak terkait sesuai mekanisme yang disepakati. Stok tersebut dapat digunakan kembali ketika dibutuhkan atau dijual kepada pihak lain atas persetujuan pemiliknya.

“Misalnya, peternak sudah membeli sebagian hasil panen, tetapi masih ada yang belum terbeli karena modal terbatas. Bulog yang membeli dan menyimpannya di gudang. Itu tetap menjadi milik koperasi, menjadi tabungannya. Ketika membutuhkan, stok tersebut bisa ditarik kembali,” jelas Amran.

Menurut Amran, mekanisme tersebut memungkinkan hasil panen petani tetap terserap meskipun pembeli memiliki keterbatasan modal. Peternak juga dapat memiliki cadangan bahan baku untuk digunakan ketika pasokan jagung di pasar berkurang.

Pada sisi hilir, pemerintah mendorong peningkatan penyerapan telur melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu langkah yang dibahas adalah meningkatkan konsumsi telur menjadi tiga kali seminggu untuk memperluas pasar dan membantu menjaga harga di tingkat peternak.

Pemerintah juga membahas pengembangan pabrik pengolahan tepung, telur, dan daging melalui koordinasi lintas kementerian. Pengembangan industri tersebut diharapkan memperluas pasar produk peternakan, meningkatkan nilai tambah, dan menyediakan alternatif penyerapan ketika produksi meningkat.

Selain itu, pasokan bahan baku pakan berupa soybean meal (SBM) turut menjadi perhatian pemerintah. Melalui ID FOOD, pemerintah mengupayakan penyediaan bahan baku tersebut dengan harga lebih terjangkau dan distribusi langsung kepada peternak untuk membantu menekan biaya produksi.

Amran menegaskan, seluruh kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat keberlanjutan usaha peternakan nasional. Ia menilai peningkatan produksi ayam dan telur hingga mampu menembus pasar ekspor perlu didukung kebijakan dan sistem usaha yang memadai.

“Selama kami sehat, kami berada di sisi petani. Tidak akan saya biarkan peternak jalan sendiri. Kami akan membela semaksimal mungkin. Itu perintah Bapak Presiden: jaga mereka, lindungi mereka, beri kesempatan peternak untung, pasti dia berproduksi,” kata dia.

Amran meminta asosiasi dan koperasi peternak ikut mengawal pelaksanaan kebijakan agar manfaatnya dirasakan langsung di lapangan. Pemerintah akan terus memperbaiki regulasi untuk memperkuat rantai usaha peternakan, mulai dari penyediaan bahan baku, produksi, penyerapan, penyimpanan, hingga pemasaran.

“Intinya kita bangun ekosistem. Ekosistem ini adalah solusi permanen,” ucap Amran. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.