PLTA Batang Toru Mulai Digenangi, Apa Dampaknya bagi Pasokan Listrik Indonesia?

Jumat, 09 Okt 2026, 13:52 WIB

TAPANULI SELATAN - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot secara resmi memulai tahap penggenangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Batang Toru yang berlokasi di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

“Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, penggenangan PLTA Batang Toru, Tapanuli Selatan, dimulai,” ujar Yuliot di Bendungan Air PLTA Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat.

Ket. Foto: Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot (tengah) ketika meninjau bendungan air PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat (9/10). — Sumber: Antara foto

Yuliot menyampaikan dengan adanya penggenangan, PLTA yang dikembangkan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) juga akan melalui uji coba terhadap seluruh instrumen yang ada.

Adapun yang dimaksud dengan uji coba instrumen, yakni memastikan power house atau rumah pembangkitnya dapat berfungsi dengan baik, tercapainya target genangan air, serta evakuasi atau penyaluran daya untuk transmisi.

“Jadi, proses yang kita lakukan hari ini adalah untuk proses penggenangan. Tanpa penggenangan, kita tidak bisa melakukan uji coba atas seluruh fasilitas yang ada di sini,” ucap Yuliot.

Dengan adanya penggenangan ini, Yuliot menyampaikan PLTA Batang Toru dapat memasuki tahap selanjutnya sebagaimana timeline atau lini masa yang sudah ditentukan.

Yuliot berharap agar pada akhir Oktober, seluruh kegiatan yang terkait dengan penggenangan bisa diselesaikan.

“Ini dua minggu dilakukan uji coba terhadap seluruh instrumen,” ujar Yuliot.

PLTA yang dikelola oleh PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) ini memiliki kapasitas terpasang total 510 megawatt (MW). PLTA tersebut dirancang untuk beroperasi penuh pada jam beban puncak (18.00–24.00).

PLTA Batang Toru dibidik untuk menjadi pilar stabilitas dan fleksibilitas subsistem Sumatera Bagian Utara (Sumbagut).

Selain itu, pemerintah juga membidik agar kehadiran PLTA Batang Toru dapat menggantikan pembangkit fosil dan/atau menghentikan pembangkit sewa berbiaya tinggi, seperti PLTD dan PLTMB BBM saat beban puncak.

Sejatinya, proyek tersebut dibidik untuk beroperasi pada akhir 2025, akan tetapi tertunda akibat terdampak oleh banjir dan tanah longsor yang terjadi di Sumatera pada November 2025.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.