Messi vs Maradona: Siapa yang Punya Karier Terbaik Bersama Timnas Argentina?

Jumat, 09 Okt 2026, 08:10 WIB

BUENOS AIRES — Lionel Messi akhirnya menutup perjalanan panjangnya bersama tim nasional Argentina. Perpisahan itu berlangsung emosional di Buenos Aires, Rabu (7/10), ketika ikon berusia 39 tahun tersebut memberikan salam terakhir kepada para pendukung dalam balutan seragam kebanggaan negaranya.

Tampil di hadapan sekitar 85.000 penonton, Messi menutup laga dengan mencetak gol internasional ke-126 saat Argentina menang 3-0 atas Benin. Gol tersebut menjadi sentuhan terakhir dalam perjalanan internasional selama 21 tahun yang dipenuhi pencapaian, drama, kegagalan, kebangkitan, hingga momen-momen yang akan terus hidup dalam sejarah sepak bola Argentina.

Ket. Foto: Lionel Messi dan Diego Maradona. — Sumber: FIFA

Messi, yang mencatat penampilan ke-208 sekaligus memperpanjang rekornya sebagai pemain dengan penampilan terbanyak untuk Argentina, juga memberikan assist bagi Nicolas Otamendi untuk membuka keunggulan.

Namun, pada malam itu statistik dan hasil pertandingan seolah menjadi urusan sekunder. Panggung sepenuhnya menjadi milik Messi dan jutaan penggemar yang telah mengikuti perjalanan luar biasanya bersama La Albiceleste.

Sebelum pertandingan, Messi bahkan tak mampu menahan air mata. Saat bus yang membawa dirinya dan rekan-rekannya menuju stadion melewati lautan suporter, sang kapten terlihat menyeka matanya di tengah sambutan emosional masyarakat Buenos Aires.

Perpisahan tersebut terasa nyaris sempurna.

Namun, setelah bab terakhir karier internasional Messi resmi ditulis, muncul satu pertanyaan besar: bagaimana warisan Messi bersama Argentina jika dibandingkan dengan Diego Maradona?

Maradona dan Argentina telah lama menyatu seperti tubuh dan jiwa. Namanya memiliki tempat yang nyaris sakral di tengah masyarakat yang begitu mencintai sepak bola. Bagi rakyat Argentina, Maradona bukan sekadar pemain. Ia merupakan simbol identitas, perjuangan, kebanggaan, sekaligus kemampuan sebuah bangsa untuk bermimpi.

Messi menghabiskan lebih dari satu dekade hidup di bawah bayang-bayang legenda tersebut. Ia menghadapi ekspektasi nyaris mustahil untuk menyamai pemain yang legendanya terus membesar dari generasi ke generasi.

Namun, pada akhirnya, Messi berhasil membangun warisannya sendiri.

Angka Memihak Messi

Jika membandingkan karier internasional keduanya dari sisi statistik, Messi memiliki keunggulan yang cukup jelas.

Messi telah tampil lebih dari dua kali lipat dibandingkan Maradona. Dalam kariernya bersama Argentina, Messi mencatat 208 penampilan dan 126 gol, sementara Maradona membukukan 91 penampilan dengan 34 gol. Rata-rata gol Messi juga lebih tinggi, yakni 0,60 gol per pertandingan berbanding 0,37 milik Maradona.

Pengaruh Messi tidak berhenti pada urusan mencetak gol. Ia juga tercatat memiliki 66 assist sejak pencatatan tersebut dimulai pada 2006. Sementara itu, data assist sepanjang karier Maradona tidak sepenuhnya terdokumentasi, meski ia tercatat memiliki delapan assist di Piala Dunia.

Messi juga memiliki pengalaman lebih panjang di panggung Piala Dunia. Ia tampil dalam enam edisi, mencatat 34 pertandingan dan mencetak 21 gol. Maradona bermain dalam empat Piala Dunia dengan 21 penampilan dan delapan gol.

Dalam urusan trofi, keduanya sama-sama pernah membawa Argentina menjadi juara dunia. Maradona melakukannya pada 1986, sedangkan Messi meraih gelar tersebut pada 2022.

Namun, Messi memiliki tambahan pencapaian yang membuat koleksi gelarnya lebih lengkap. Ia dua kali menjuarai Copa América, pada 2021 dan 2024, serta menjadi bagian dari tim Argentina yang memenangkan Finalissima 2022. Dengan demikian, Messi telah mengoleksi empat gelar senior utama bersama Argentina.

Maradona tidak pernah memenangkan Copa América bersama tim senior Argentina dan memiliki dua gelar senior utama.

Dari sisi penghargaan individu di Piala Dunia, Messi juga unggul. Ia dua kali mendapatkan Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen, yakni pada 2014 dan 2022. Maradona meraih penghargaan serupa pada Piala Dunia 1986.

Meski demikian, angka-angka tersebut perlu ditempatkan dalam konteks zamannya. Maradona bermain pada periode ketika sepak bola internasional menawarkan jauh lebih sedikit pertandingan dibandingkan era modern. Karena itu, jumlah penampilan dan gol tidak sepenuhnya dapat dijadikan ukuran mutlak untuk menentukan siapa yang lebih berpengaruh.

91 penampilan dan 34 gol tetap merupakan catatan luar biasa untuk Maradona. Pengaruhnya pun sering kali tidak tercermin dalam statistik akumulatif, melainkan melalui momen-momen besar ketika Argentina membutuhkan pemain terbaiknya untuk mengambil alih pertandingan.

Karena itu, keunggulan Messi dalam jumlah pertandingan bukan sekadar hasil dari lebih banyak kesempatan. Kemampuannya mempertahankan level permainan tertinggi selama hampir dua dekade juga merupakan pencapaian luar biasa.

Jika Maradona memiliki puncak karier yang nyaris mitologis, Messi menawarkan kombinasi berbeda: puncak yang luar biasa sekaligus konsistensi tinggi dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Messi 2022 vs Maradona 1986

Jika Piala Dunia menjadi panggung terbesar untuk membandingkan keduanya, maka edisi 1986 dan 2022 menjadi dua bab terpenting.

Maradona tampil luar biasa di Meksiko. Ia mencetak lima gol dan menyumbangkan lima assist ketika Argentina menjadi juara dunia. Namun, statistik tersebut belum sepenuhnya menggambarkan besarnya pengaruh Maradona dalam turnamen tersebut.

Ketika memasuki fase gugur, Maradona seperti menemukan level permainan yang berbeda.

Pada perempat final melawan Inggris, ia mencetak dua gol. Gol pertama adalah "Tangan Tuhan", sementara gol keduanya merupakan aksi solo luar biasa yang kemudian dikenal sebagai Gol Abad Ini.

Dua gol dalam rentang beberapa menit tersebut menjadi gambaran sempurna tentang sosok Maradona: kontroversial, berani, penuh kejeniusan, sekaligus mampu menghasilkan momen yang kemudian menjadi bagian dari mitologi sepak bola Argentina.

Gol pertama, yang tercipta melalui tangan dan memicu kontroversi besar, justru semakin memperkuat aura Maradona. Sementara gol kedua memperlihatkan sisi artistiknya ketika ia melewati sejumlah pemain Inggris sebelum menaklukkan kiper Peter Shilton.

Dari sana, Maradona seolah berubah dari seorang pemain hebat menjadi figur yang jauh lebih besar dalam imajinasi publik Argentina.

Messi mengambil jalan berbeda menuju kejayaan di Piala Dunia 2022.

Di Qatar, Messi mencetak tujuh gol dan memberikan tiga assist. Ia juga menjadi pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang mencetak gol pada fase grup, 16 besar, perempat final, semifinal, dan final dalam satu turnamen.

Ketika Argentina berada dalam situasi sulit, Messi hampir selalu hadir.

Ia mencetak gol melawan Australia, memberikan assist brilian kepada rekan setimnya sebelum mencetak gol dari titik penalti melawan Belanda, tampil dominan saat menghadapi Kroasia di semifinal, kemudian mencetak dua gol pada final dramatis melawan Prancis.

Final tersebut menjadi salah satu pertandingan paling dramatis dalam sejarah Piala Dunia. Argentina sempat unggul, kemudian Prancis bangkit dan memaksakan perpanjangan waktu. Messi kembali mencetak gol, tetapi Kylian Mbappe membawa Prancis menyamakan kedudukan sebelum Argentina akhirnya menang lewat adu penalti.

Ada kesamaan menarik dalam kedua keberhasilan tersebut.

Maradona berusia 25 tahun ketika memimpin Argentina pada 1986 dan berada di puncak kemampuan fisik serta kreativitasnya. Messi berusia 35 tahun saat membawa Argentina menjadi juara di Qatar. Kecepatan eksplosifnya memang tidak lagi seperti masa muda, tetapi digantikan kecerdasan permainan yang begitu matang.

Maradona 1986 mungkin merupakan penampilan individual yang lebih eksplosif. Messi 2022 adalah puncak evolusi seorang pemain yang mampu memilih dengan tepat kapan dan di mana harus memberikan pukulan menentukan.

Maradona seperti badai yang menerjang sebuah turnamen. Messi lebih menyerupai seorang grandmaster yang mengendalikan pertandingan dengan ketenangan dan kecerdasan.

Perjalanan Panjang di Copa América

Jika Piala Dunia memberikan panggung terbesar, Copa América justru menghadirkan perjalanan emosional yang berbeda bagi Messi.

Messi mencapai lima final Copa América. Ia mengalami kekalahan pada 2007, 2015, dan 2016 sebelum akhirnya mengakhiri penantian panjang dengan membawa Argentina mengalahkan Brasil di Stadion Maracanã pada 2021.

Kemenangan tersebut sangat penting karena mengakhiri penantian 28 tahun Argentina untuk meraih trofi senior bersama tim nasional.

Bagi Messi secara pribadi, keberhasilan itu juga menjadi jawaban terhadap kritik yang selama bertahun-tahun mengiringi karier internasionalnya.

Sebelumnya, Messi memang berkali-kali berada sangat dekat dengan trofi tetapi gagal di partai puncak.

Kekalahan dari Jerman pada final Piala Dunia 2014 kemudian disusul kekalahan beruntun dari Chile pada final Copa América 2015 dan 2016. Tekanan terhadap Messi pun semakin besar.

Bahkan, setelah kalah dari Chile pada 2016, Messi sempat mengumumkan keputusannya untuk berhenti dari tim nasional sebelum akhirnya berubah pikiran dan kembali memperkuat Argentina.

Keputusan kembali tersebut pada akhirnya mengubah seluruh perjalanan karier internasionalnya.

Messi memimpin Argentina meraih Copa América 2021, kemudian menjadi bagian penting dalam keberhasilan menjuarai Finalissima 2022 melawan Italia. Setelah itu, ia tampil menentukan dalam perjalanan menuju gelar Piala Dunia 2022.

Argentina kemudian kembali menjadi juara Copa América pada 2024. Meski Messi harus meninggalkan pertandingan final lebih awal karena cedera, keberhasilan tersebut tetap menambah satu lagi trofi penting dalam warisan internasionalnya.

Maradona memiliki cerita berbeda.

Ia tidak pernah memenangkan Copa América bersama tim senior Argentina. Karena itu, dalam urusan gelar kontinental, Messi memiliki keunggulan yang sulit dibantah.

Namun, perbandingan tersebut tetap harus mempertimbangkan era yang berbeda. Maradona menjalani karier internasional ketika Copa América memiliki format dan kalender yang berbeda dengan kompetisi modern.

Karena itu, sekali lagi, statistik dan jumlah trofi hanya menjadi salah satu bagian dari gambaran yang lebih besar.

Salah satu perbedaan paling mencolok antara keduanya adalah umur panjang.

Maradona memperkuat Argentina dari 1977 hingga 1994. Messi memulai karier senior internasionalnya pada tahun 2005 dan menjalani perjalanan lebih dari dua dekade.

Messi bermain dalam enam Piala Dunia dan tujuh Copa América. Ia tetap menjadi pemain sentral Argentina bahkan ketika memasuki usia 30-an, periode ketika banyak pemain besar mulai kehilangan peran utama di tim nasional.

Yang membuat perjalanan Messi semakin istimewa adalah perubahan gaya bermainnya.

Pada awal karier, Messi mengandalkan kecepatan, dribel, akselerasi, dan kemampuan melewati lawan. Seiring bertambahnya usia, ia semakin sering turun ke area tengah, mengatur permainan, memberikan umpan, dan menentukan ritme pertandingan.

Perubahan tersebut membuat Messi tetap efektif meskipun kemampuan fisiknya tidak lagi sama seperti ketika masih muda.

Maradona juga dikenal memiliki kemampuan luar biasa untuk mengendalikan permainan, tetapi karier internasionalnya tidak memiliki rentang waktu sepanjang Messi.

Di sinilah Messi mendapatkan keunggulan yang sangat penting: ia tidak hanya mencapai puncak, tetapi mampu bertahan di level elite selama bertahun-tahun.

Messi atau Maradona?

Inilah bagian tersulit dari perdebatan tersebut.

Warisan keduanya tidak mungkin hanya ditentukan melalui tabel statistik. Maradona membangun statusnya sebagai mitos nasional melalui momen-momen dramatis yang sulit dipercaya. Messi membangun argumennya melalui akumulasi kehebatan selama lebih dari dua dekade.

Argumen terbesar untuk Maradona selalu berada pada puncak performanya, terutama Piala Dunia 1986 ketika ia seolah menyeret Argentina menuju kejayaan dunia seorang diri.

Ia menghadirkan keberanian, kejeniusan, drama, dan teatrikalitas yang membuat seorang pesepak bola berubah menjadi figur mitologis.

Maradona bukan hanya pemain yang memenangkan pertandingan. Ia menjadi simbol dari sebuah bangsa pada masa tertentu.

Messi, di sisi lain, menghadapi tantangan yang berbeda.

Ia harus bermain di era ketika ekspektasi terhadap dirinya selalu dibandingkan dengan Maradona. Setiap kegagalan Argentina otomatis memunculkan pertanyaan apakah Messi benar-benar mampu mengikuti jejak El Diego.

Selama bertahun-tahun, Messi belum memiliki jawaban yang memuaskan bagi para pengkritiknya.

Namun, semuanya berubah setelah 2021.

Copa América 2021 menjadi awal dari rangkaian kesuksesan yang kemudian berlanjut melalui Finalissima 2022 dan mencapai puncaknya di Piala Dunia 2022.

Dalam rentang waktu tersebut, Messi tidak hanya memenangkan trofi. Ia juga menjadi figur utama Argentina.

Pada saat yang sama, ia mencatat rekor sebagai pemain dengan penampilan terbanyak dan pencetak gol terbanyak dalam sejarah tim nasional.

Jika seluruh perjalanan bersama Argentina diperhitungkan, Messi memiliki argumen yang lebih kuat.

Ia menghadapi tekanan untuk dibandingkan dengan Maradona selama bertahun-tahun. Ia mengalami kekalahan di sejumlah final besar, menanggung kritik, bahkan sempat meninggalkan tim nasional.

Namun, ia kembali dan akhirnya membawa Argentina meraih trofi-trofi yang selama bertahun-tahun sulit mereka dapatkan.

Itulah yang membuat kisah Messi begitu istimewa.

Ia tidak sekadar mewarisi bayang-bayang besar Maradona dan bertahan di bawahnya. Selama 21 tahun, Messi berjalan melewati bayang-bayang tersebut, menanggung ekspektasi sebuah bangsa, sebelum akhirnya menciptakan warisan yang berdiri dengan namanya sendiri.

Warisan itu memiliki segalanya: kejayaan, kegagalan, kekecewaan, penebusan, dan konsistensi luar biasa.

Dua Pilar Terbesar Argentina

Pada akhirnya, Argentina tidak harus memilih antara dua bentuk kehebatan.

Maradona memberikan Argentina salah satu mitos sepak bola paling menggugah dalam sejarah. Ia menjadi simbol sebuah generasi dan mengubah Piala Dunia 1986 menjadi panggung pribadi yang sulit dilupakan.

Messi memberikan sesuatu yang berbeda. Ia membangun warisan melalui dua dekade kecemerlangan, melewati berbagai generasi, menghadapi kegagalan, lalu menutup perjalanan internasionalnya dengan sederet gelar terbesar yang tersedia.

Maradona mungkin memiliki puncak permainan yang lebih eksplosif dan aura yang lebih liar. Messi memiliki konsistensi, umur panjang, statistik, serta koleksi trofi yang lebih lengkap.

Dan yang terpenting, Messi akhirnya berhasil melakukan sesuatu yang selama bertahun-tahun terlihat hampir mustahil: memenangkan hati Argentina bukan dengan menggantikan Maradona, tetapi dengan menjadi Lionel Messi.

Itulah sebabnya perdebatan ini tidak harus berakhir dengan menghapus salah satu legenda.

Maradona tetap menjadi El Diego, sosok yang membawa Argentina menuju kejayaan pada 1986 dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas sepak bola negaranya.

Messi kini meninggalkan warisan sebagai pemain dengan penampilan terbanyak, pencetak gol terbanyak, juara Copa América, juara Finalissima, dan juara dunia.

Jika penilaiannya didasarkan pada statistik, umur panjang, konsistensi dan jumlah trofi, keseimbangan akhirnya sedikit lebih condong kepada Messi.

Bukan karena legenda Maradona berkurang nilainya.

Justru sebaliknya, besarnya legenda Maradona membuat pencapaian Messi semakin luar biasa.

Messi tidak sekadar hidup di bawah bayang-bayang Maradona.

Selama 21 tahun, ia berjalan melewati bayang-bayang itu, hingga akhirnya menciptakan bayang-bayangnya sendiri.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.