Jelang GP Singapura, Pembalap F1 Terbelah soal Penggunaan Rompi Pendingin

Jumat, 09 Okt 2026, 08:54 WIB

SINGAPURA – Para pembalap Formula 1 (F1) berbeda pendapat mengenai penggunaan teknologi rompi pendingin (cooling vest) menjelang Grand Prix Singapura akhir pekan ini. Di tengah ancaman suhu panas ekstrem di Sirkuit Jalan Raya Marina Bay, juara dunia empat kali Max Verstappen menjadi salah satu pembalap yang paling skeptis terhadap perangkat tersebut.

Federasi Otomotif Internasional (FIA) telah menetapkan status bahaya panas untuk balapan akhir pekan ini.

Ket. Foto: Ilustrasi rompi pendingin pembalap Formula 1. — Sumber: Formula 1

Suhu udara diperkirakan melampaui 31 derajat Celsius, kondisi yang berpotensi menambah tantangan fisik bagi para pembalap meskipun balapan digelar pada malam hari.

Dalam kondisi seperti itu, pembalap bisa kehilangan hingga tiga kilogram berat badan selama balapan. Untuk mengantisipasi risiko panas berlebih, tim diwajibkan menyediakan sistem pendingin tubuh, termasuk rompi berpendingin cairan. Namun, pembalap tetap diperbolehkan tidak menggunakannya dengan konsekuensi harus membawa pemberat tambahan pada mobil.

Verstappen, yang pernah memenangi balapan di Malaysia ketika peringatan bahaya panas juga diberlakukan, tetap tidak tertarik menggunakan rompi pendingin.

“Bagi saya, perangkat itu tidak diperlukan. Memang panas, tetapi ini bukan sauna,” ujar Verstappen. “Dengan rompi pendingin ini, ada kabel-kabel yang merepotkan di dalam mobil sehingga gerakan saya juga menjadi terbatas. Saya tidak membutuhkannya.”

Ia juga meragukan efektivitas perangkat tersebut untuk balapan berdurasi panjang.

“Sekalipun perangkat itu bisa bekerja selama satu setengah jam, saya tetap tidak membutuhkannya. Lagipula, perangkat itu juga tidak bekerja selama satu setengah jam,” ujarnya.

Pembalap Ferrari, Charles Leclerc, juga belum sepenuhnya yakin dengan efektivitas teknologi tersebut. Ia mengatakan akan mempertimbangkan penggunaan rompi pendingin jika perangkat itu mampu bekerja lebih lama selama balapan.

“Anggap saja perangkat itu bekerja cukup baik selama 15–20 putaran. Setelah itu, untuk sisa balapan, tubuh Anda akan kembali merasa panas, sama seperti ketika tidak menggunakan rompi pendingin,” kata Leclerc.

Keraguan tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama teknologi ini bukan hanya kemampuannya menurunkan suhu tubuh, tetapi juga mempertahankan kinerja secara konsisten sepanjang balapan.

Pemimpin klasemen kejuaraan dari Mercedes, Kimi Antonelli, juga memiliki pandangan serupa dengan Verstappen. Pembalap muda Italia itu mengaku pernah mengalami masalah serius saat menggunakan rompi pendingin pada musim sebelumnya.

“Ketika menggunakannya tahun lalu, saya mengalami pengalaman yang sangat buruk. Pada penggunaan pertama, perangkat itu tidak bekerja selama yang kami harapkan,” kata Antonelli.

“Pada penggunaan kedua, sistem pompanya mengalami kerusakan. Itu terjadi di Austin. Saya menjalani seluruh sesi dengan sistem yang memompa air bersuhu 50 derajat Celsius. Setelah sesi tersebut, saya mengalami serangan panas. Pengalaman itu sama sekali tidak menyenangkan.”

Pengalaman tersebut membuat Antonelli memilih pendekatan berbeda untuk menghadapi kondisi panas.

“Sejak saat itu, saya berpikir, ‘Saya akan berlatih keras agar tidak perlu menggunakan perangkat itu saat akhir pekan balapan’,” ujarnya.

Meski demikian, Antonelli tidak sepenuhnya menutup pintu. Ia bersedia mempertimbangkan kembali penggunaan rompi pendingin apabila teknologi tersebut sudah cukup andal dan mampu bekerja sesuai durasi yang dibutuhkan.

Berbeda dengan rekan setimnya, George Russell justru menjadi salah satu pendukung paling vokal penggunaan rompi pendingin. Menurut pembalap Mercedes tersebut, dampak panas berlebih terhadap kondisi fisik dapat memengaruhi performa secara signifikan.

“Anda tidak pernah bisa mengukur secara pasti berapa banyak waktu putaran yang hilang ketika tubuh benar-benar mengalami panas berlebih. Namun, saya tahu dampaknya,” kata Russell.

Ia menyinggung pengalaman Alex Albon setelah GP Qatar 2023, ketika pembalap Williams tersebut dilaporkan mengalami kondisi fisik yang sangat buruk akibat suhu ekstrem.

“Saya berbicara dengan Alex Albon setelah balapan di Qatar pada 2023. Dia merasa seperti berhalusinasi selama balapan. Anda bahkan sulit bernapas di sana dan akan melakukan apa pun untuk mendinginkan tubuh,” ujar Russell.

Meski demikian, Russell mengakui bahwa perkembangan desain mobil telah membantu menurunkan suhu kokpit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada masa lalu, posisi perangkat elektronik, saluran hidraulis, dan radiator yang berdekatan dengan kokpit membuat suhu di dalam mobil terasa seperti berada di dalam tungku.

“Banyak hal tersebut sangat memengaruhi suhu kokpit. Tahun ini, kokpit kami jauh lebih sejuk dibandingkan beberapa tahun sebelumnya,” katanya.

Namun, penerapan sistem pendingin yang efektif tetap membutuhkan investasi besar dalam pengembangan teknis dan manufaktur. Tim serta FIA harus menyediakan sumber daya untuk menyempurnakan teknologi tersebut, yang berpotensi mengalihkan tenaga dan perhatian dari bidang pengembangan mobil lainnya.

Russell menegaskan bahwa dirinya siap menggunakan rompi pendingin hampir sepanjang musim, kecuali di sirkuit dengan kondisi yang sangat dingin, seperti Las Vegas.

“Saya akan menggunakannya pada setiap balapan, kecuali di Las Vegas dan sirkuit-sirkuit yang benar-benar dingin. Saya benar-benar melihat manfaatnya dan sangat menyukai perangkat ini,” ujarnya.

“Menurut saya, semua tim dan FIA harus bekerja sama untuk menemukan cara agar sistem ini bisa berfungsi dengan baik.”

Perbedaan pandangan di antara para pembalap memperlihatkan bahwa rompi pendingin masih menjadi teknologi yang perlu disempurnakan. Di Singapura, ketika suhu tinggi dan kelembapan menjadi tantangan utama, efektivitas perangkat tersebut kembali menjadi perhatian, bukan hanya untuk kenyamanan, tetapi juga demi menjaga kondisi fisik dan keselamatan pembalap sepanjang balapan.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.