James Gunn Balas Kritik Atas Film Clayface: “Siapa yang Meminta The Matrix?”
Jumat, 09 Okt 2026, 00:02 WIBJames Gunn merespons kritik terhadap keputusan DC Studios mengangkat Clayface menjadi film layar lebar. Kritik tersebut muncul dari seorang pengguna Threads yang mempertanyakan siapa sebenarnya yang menginginkan film tentang salah satu musuh Batman itu.
Gunn, yang kini menjadi salah satu pimpinan DC Studios, tidak menjawab dengan menjelaskan popularitas karakter Clayface. Sebaliknya, ia mempertanyakan logika bahwa sebuah film harus dibuat hanya karena sebelumnya sudah mendapat permintaan besar dari publik.
Dari Hollywood Reporter, ia kemudian menyebut sejumlah film yang kini dianggap klasik, seperti Back to the Future, Casablanca, Thereâs Something About Mary, Panâs Labyrinth, Fury Road, Weapons, hingga The Matrix. Menurut Gunn, tidak ada alasan bagi Hollywood untuk selalu menunggu publik menentukan karakter atau properti intelektual mana yang layak mendapatkan film.Â
Gunn kemudian memberikan penjelasan lebih panjang mengenai alasan di balik produksi Clayface. Ia menyebut proyek tersebut pada awalnya dikembangkan oleh Mike Flanagan, sebelum kemudian dilanjutkan oleh James Watkins dan Hossein Amini.
Menurut Gunn, ketiganya justru tertarik mengembangkan cerita dari karakter fiksi yang relatif kurang dikenal. Bagi dia, pendekatan seperti itu lebih menarik dibandingkan membuat film tentang karakter populer hanya karena nama besar karakternya memiliki nilai komersial.
Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan pendekatan Gunn terhadap DC Universe yang tidak selalu bergantung pada karakter paling populer seperti Superman atau Batman. Clayface menjadi salah satu proyek yang mencoba membawa DC ke wilayah berbeda dengan menggabungkan kisah superhero dan body horror.
Film ini disutradarai James Watkins dan dibintangi Tom Rhys Harries sebagai Matt Hagen, sosok yang kemudian menjadi Clayface. Ceritanya mengikuti Hagen, seorang aktor yang kariernya tengah menanjak sebelum mengalami cacat parah akibat ulah seorang bos kriminal.
Dalam kondisi tersebut, Hagen menjalani sebuah prosedur medis eksperimental yang awalnya berhasil mengembalikan penampilannya. Namun, efek pengobatan tersebut justru membawa konsekuensi mengerikan dan memengaruhi kondisi mentalnya hingga mendorongnya menuju aksi balas dendam.
Selain Harries, film ini juga menampilkan Naomi Ackie, David Dencik, Max Minghella, dan Eddie Marsan. Film tersebut dijadwalkan tayang di bioskop pada 23 Oktober 2026.Â
Pilihan Clayface memang terbilang tidak lazim untuk sebuah film DC. Karakter ini pertama kali diperkenalkan pada 1940 sebagai sosok yang berkaitan dengan dunia perfilman, sebelum kemampuan berubah bentuk menjadi salah satu ciri utamanya. Karakter tersebut sebelumnya sudah muncul dalam berbagai adaptasi Batman, tetapi film 2026 menjadi debutnya sebagai tokoh utama dalam film layar lebar mandiri.Â
Dengan demikian, jawaban Gunn terhadap kritik tersebut bukan sekadar pembelaan terhadap Clayface. Ia juga menyampaikan pandangannya bahwa industri film tidak seharusnya hanya membuat apa yang sudah diminta penonton. Bagi Gunn, sebuah karakter yang kurang populer tetap bisa menjadi dasar film yang kuat apabila para pembuatnya memiliki gagasan dan ketertarikan yang cukup besar terhadap cerita tersebut.Â
- Clayface
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
El Nino Bikin Satwa Liar Bergerak Lebih Jauh, Apa Dampaknya?
-
La Liga Spanyol: Mbappe Gagal Penalti, Betis Bungkam Real Madrid lewat Gol Parrott
-
Menkeu Tegaskan Setiap Rupiah APBN Harus Bermanfaat Buat Rakyat
-
Mentan Amran Sulaiman Targetkan Pengembangan Bioetanol Hemat Devisa Rp500 Triliun
-
Mengandung Kekerasan Berdarah, Adegan Mengerikan, dan Bahasa Kasar, 'Clayface' DCU dapat Rating R
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.