Musim Hujan Mundur, Distan Bali Petakan Lahan Rawan

Kamis, 08 Okt 2026, 19:15 WIB

DENPASAR – Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan Pangan) Bali I Wayan Sunada menyatakan telah memetakan sekitar 328 ribu hektare lahan pertanian yang rawan mengalami kekeringan.

“Memang saat ini kita sudah petakan, ada 328 ribu hektare yang berpotensi kekeringan, tetapi ketika tanaman itu berpotensi kekeringan, begitu terjadi kekeringan, kita akan antisipasi,” kata Sunada di Denpasar, Kamis (8/10).

Ket. Foto: Ilustrasi-Pengunjung menikmati suasana persawahan saat pembukaan Jatiluwih Eco Farm di Desa Jatiluwih, Tabanan, Bali. — Sumber: ANTARA/ Nyoman Hendra Wibowo.

Ia menyampaikan antisipasi disiapkan lantaran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan di Bali baru akan tiba pada bulan November atau Desember 2026.

Untuk merespons situasi tersebut secara cepat di lapangan, Distan Pangan Bali menyiagakan tim khusus yang dinamakan Gerakan Pengendalian (Gerdal).

“Untuk El Nino, kita sudah punya tim namanya Gerdal, baik itu di lahan maupun penyakit, ketika ada pertanaman kita kekeringan, Gerdal itu yang turun,” ujarnya.

Selain menerjunkan tim Gerdal, Sunada juga telah menyiapkan sekitar 50 pompa air guna mengambil air dari sungai demi menjaga pasokan irigasi lahan pertanian.

Langkah-langkah ini diambil agar tanaman padi yang baru ditanam maupun yang tengah memasuki masa pertumbuhan tidak mengalami gagal panen akibat kekurangan pasokan air.

“Ada juga yang sebulan baru tanam, berpotensi kekeringan, kita cepat antisipasi supaya tidak gagal panen, kasihan petaninya,” kata Sunada.

Distan Pangan Bali mencatat, wilayah yang masuk dalam pemetaan potensi kekeringan ini mencakup daerah-daerah penting seperti Jembrana dan Tabanan yang dikenal sebagai penyumbang panen padi terbesar di Bali.

Meski sudah menyiapkan antisipasi, Sunada melihat hingga saat ini kemunduran musim hujan belum sampai mengubah kalender tanam padi petani di Pulau Dewata.

Para petani dipastikan tetap menjalankan musim tanam pertama (MT1) dan musim tanam kedua (MT2) yang kini sudah memasuki tahap kedua.

Terkait tingkat produktivitas panen, Sunada menjelaskan bahwa hal tersebut sangat bergantung pada kualitas dan kondisi infrastruktur irigasi di masing-masing wilayah.

“Yang subak-subak atau lahan-lahan memiliki irigasi teknisnya bagus, kita sudah bisa sampai tiga kali,” ujarnya.

Sementara itu, untuk sawah berjenis tadah hujan, frekuensi panen umumnya hanya dapat berlangsung sebanyak satu kali dalam setahun.

Mengingat luasnya wilayah yang harus diawasi, Distan Pangan Bali secara khusus meminta para petani untuk segera melapor jika mulai mendeteksi tanda-tanda kekeringan.

Laporan tersebut dapat disampaikan secara langsung kepada dinas pertanian kabupaten, para penyuluh pertanian lapangan, maupun kepada pekaseh setempat.

Menurut dia, keterlibatan aktif petani dalam memberikan informasi sangat dibutuhkan mengingat keterbatasan jangkauan personel dinas dalam memantau seluruh lahan secara langsung.

"Kami kan tidak bisa menjangkau seluruh Bali, di sana ada kekeringan, kita tahu tidak bisa kecuali ada laporan, kita langsung turun,” tuturnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.