Lifting Migas Mau Digenjot, Komisi XII Ungkap Strategi Perkuat Energi RI

Kamis, 08 Okt 2026, 06:48 WIB

JAKARTA - Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto mendukung upaya peningkatan produksi minyak mentah atau lifting minyak dan gas bumi (migas) dalam negeri untuk memperkuat ketahanan energi, sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

"Indonesia harus menemukan cadangan migas baru sebagai langkah meningkatkan lifting minyak," kata Sugeng saat diskusi buku "Senjakala Migas? Migas dan Pembangunan Indonesia 1899-2023 dan Seminar Tata Kelola Energi" di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (7/10).

Ket. Foto: Suasana diskusi buku "Senjakala Migas? Migas dan Pembangunan Indonesia 1899-2023 dan Seminar Tata Kelola Energi" di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (7/10). — Sumber: Antara foto

Sugeng dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis menyatakan bahwa harus ada kebijakan yang mendukung kemandirian dan swasembada energi nasional.

"Kondisi saat ini Indonesia masih eksportir gas alam, namun kita importir gas elpiji," ujar legislator yang membidangi sektor energi dan dan sumber daya mineral (ESDM) itu.

Untuk itu, kata dia, Komisi XII DPR RI saat ini tengah menyusun UU Migas baru yang akan membentuk Badan Usaha Khusus (BUK) Migas sesuai amanah Mahkamah Konstitusi (MK) yang bersifat penguasaan dan pengusahaan.

"Selain itu, Indonesia perlu memiliki Petroleum Fund sebagai cadangan masa depan generasi bangsa dari hasil migas," ucapnya.

Sementara itu dalam kesempatan sama, anggota Dewan Energi Nasional (DEN) M. Kholid Syeirozi menilai dibutuhkan perbaikan tata kelola hulu minyak dan gas bumi (migas) untuk meningkatkan lifting nasional.

"Diketahui, cadangan minyak nasional terbukti hingga tahun 2025 tersisa 2,3 miliar barel. Sementara prospek hidrokarbon Indonesia, dari 128 cekungan sedimen (basins) terdapat 68 cekungan yang belum dieksplorasi, baru 20 cekungan yang menopang produksi migas nasional," katanya.

Adapun, cadangan terbukti merupakan jumlah minyak yang berdasarkan data geologi memiliki tingkat kepastian tinggi untuk dapat diproduksikan secara ekonomis.

Sedangkan, Guru Besar Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Indonesia Prof. Eko Prasojo mengatakan pembentukan kebijakan dalam semua sektor, termasuk migas sejak awal harus memikirkan implementasi kebijakan agar tidak terjadi failure by design.

Ia menegaskan negara yang makmur dibangun oleh dua hal, yakni kebijakan yang bagus dan tata kelola yang baik.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan lifting minyak bumi naik menjadi 612.500 barel per hari pada 2027, dari target 610 ribu barel per hari pada 2026.

"Kami sepakati (target lifting minyak) menjadi 612.500 barel per hari," ujar Bahlil ketika dijumpai setelah Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (31/8).

Pada 2027, tutur Bahlil, akan ada penambahan sumur minyak di beberapa wilayah. Salah satunya adalah sumur minyak di wilayah Madura yang akan digarap oleh Petronas, perusahaan minyak, gas, dan energi nasional milik pemerintah Malaysia.

Selain itu, Bahlil melanjutkan, akan ada penambahan produksi minyak dari sumur-sumur yang menggunakan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR).

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.