2.800 Ayam Mati Mendadak di Sinjai Positif Flu Burung H5, Kementan: Perketat Biosekuriti
📅 Kamis, 08 Okt 2026, 22:40 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA– Sebanyak 2.800 ekor unggas mati mendadak di Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, dalam kurun 23 September hingga 6 Oktober 2026. Hasil uji laboratorium Balai Besar Veteriner (BBV) Maros memastikan penyebabnya adalah Avian Influenza (AI) subtype H5 clade 2.3.2.
Kementerian Pertanian (Kementan) pun bergerak cepat memperkuat pengendalian dan kewaspadaan dini di lokasi kejadian.
Direktur Kesehatan Hewan Kementan Hendra Wibawa mengatakan, penanganan sudah dilakukan sejak laporan awal masuk melalui sistem iSIKHNAS pada 23 September lalu.
“Begitu laporan masuk, petugas kesehatan hewan di daerah bersama BBV Maros bergerak melakukan penelusuran, pengambilan sampel, pemeriksaan laboratorium, dan tindakan pengendalian di lokasi. Fokus kita adalah mendeteksi kasus sedini mungkin, membatasi penyebaran penyakit, serta melindungi peternak,” ujar Hendra di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Kepala BBV Maros Dinar Hadi Wahyu Hartawan menjelaskan, konfirmasi laboratorium melalui metode RT-PCR menjadi dasar untuk langkah pengendalian yang lebih terarah.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Konfirmasi laboratorium memberikan dasar ilmiah bagi langkah pengendalian di lapangan. Setelah penyebab teridentifikasi, langkah berikutnya adalah memperkuat biosekuriti, surveilans, penelusuran epidemiologi, serta memastikan setiap kejadian baru segera dilaporkan,” kata Dinar.
Sejak 30 September hingga 6 Oktober, tim gabungan Kementan dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sinjai telah melakukan penyelidikan epidemiologi, pengambilan sampel, serta pembersihan dan desinfeksi kandang terdampak.
Dari hasil penyelidikan, ditemukan faktor risiko berupa aktivitas rutin yang mempertemukan ayam aduan dari berbagai wilayah di Kelurahan Lappa. Sejumlah unggas diketahui berasal dari luar Kabupaten Sinjai.
“Pergerakan unggas merupakan salah satu faktor yang penting diperhatikan dalam pengendalian penyakit. Asal unggas, status kesehatannya, penerapan biosekuriti, serta riwayat pergerakannya perlu ditelusuri dengan baik,” ujar Dinar.
Meski begitu, Kementan menegaskan faktor tersebut masih dalam proses investigasi dan tidak serta-merta disimpulkan sebagai satu-satunya sumber penularan.
Kementan meminta peternak untuk tidak menunggu jika menemukan kematian unggas mendadak atau tidak wajar.
“Kami meminta peternak segera laporkan kepada petugas kesehatan hewan, Puskeswan, maupun dinas terkait agar dapat segera ditindaklanjuti,” tegas Dinar.
Masyarakat juga diminta meningkatkan biosekuriti dengan menjaga kebersihan kandang, memisahkan unggas sakit dari yang sehat, serta membatasi lalu lintas unggas, orang, dan peralatan dari lokasi kejadian.
“Yang paling penting adalah masyarakat tetap tenang tetapi waspada. Pemerintah terus bekerja di lapangan dan setiap perkembangan akan ditangani berdasarkan hasil pemeriksaan dan data yang terverifikasi,” tutup Hendra.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!