Sawah Karawang Terancam Kekeringan, Bupati Siapkan Langkah Ini
📅 Rabu, 07 Okt 2026, 04:05 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoKARAWANG - Bupati Karawang Aep Syaepuloh mengatakan perbaikan embung dan normalisasi saluran irigasi sekunder diperlukan untuk mengatasi kekeringan yang melanda areal persawahan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
“Kami sudah berkoordinasi dengan BBWS dan PJT II Jatiluhur dalam penanganan kekeringan areal sawah di wilayah utara Karawang,” kata Aep di Karawang, Selasa.
Untuk wilayah selatan Karawang, kata Aep, penanganan jangka panjang perlu dilakukan melalui optimalisasi embung yang mengalami pendangkalan.
Menurut dia, penanganan kekeringan perlu segera dilakukan untuk menjaga produktivitas padi dan mengurangi dampak terhadap areal persawahan.
Berdasarkan catatan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Karawang, hingga akhir September 2026 terdapat 4.248 hektare sawah yang terdampak kekeringan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Areal persawahan tersebut tersebar di Kecamatan Cilamaya Wetan, Telagasari, Jayakerta, Pedes, Pakisjaya, Kutawaluya, Cilebar, Telukjambe Barat, Telukjambe Timur, dan Pangkalan.
Sementara itu, Kepala BBWS Citarum Mochammad Dian Al Ma’ruf mengatakan kekeringan di wilayah utara Karawang terjadi karena sejumlah area tidak terjangkau jaringan irigasi teknis.
Selain itu, beberapa titik saluran mengalami kerusakan infrastruktur, sedangkan sebagian lahan terdampak pergeseran waktu tanam.
“Total potensi lahan yang terdampak kekeringan di Pakisjaya tersebar di tiga desa, yaitu Desa Solokan, Desa Telukjaya, dan Desa Tanahbaru,” kata Dian dalam keterangannya.
Untuk menangani kondisi tersebut, BBWS Citarum mengoperasikan 20 unit pompa berkapasitas sekitar 40-80 liter per detik.
Pemompaan dilakukan dengan mengambil air dari Sungai Citarum karena wilayah tersebut tidak memiliki sumber air lain dan berbatasan dengan kawasan air asin.
Selain pemompaan, BBWS Citarum melakukan normalisasi saluran irigasi pada sejumlah titik yang menghambat aliran air.
Kegiatan normalisasi dan pemompaan yang dilakukan sejak 19 Agustus hingga 28 September 2026 telah membantu mengairi sekitar 400 hektare sawah.
“Dari total 1.150 hektare lahan terdampak di Pakisjaya, upaya penanganan telah berhasil mengairi dan menyelamatkan sekitar 400 hektare, baik untuk tanaman yang sudah tumbuh maupun lahan yang bersiap untuk ditanam,” kata Dian.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!