Pertunjukan Seni Seniman Lintas Negara di Yogyakarta

Selasa, 06 Okt 2026, 23:25 WIB

Sleman - Seniman dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura bersinergi menghadirkan dua pertunjukan seni dalam inisiatif tingkat regional Embracing Shared Heritage through Performing Arts digelar di Yogyakarta pada Oktober 2026.

Head of Culture UNESCO Regional Office in Jakarta Moe Chiba di Sleman, Selasa, mengatakan program ini hadir untuk menjembatani para seniman antar-negara agar dapat berkolaborasi secara langsung.

Ket. Foto: Kegiatan jumpa media di Studio Banjarmili, Kabupaten Sleman, DIY. — Sumber: Antara

​"Karya seni kerap melintasi batas negara dengan cara yang tak terduga. Namun, para senimannya sendiri belum tentu memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dan berkarya bersama. Melalui inisiatif ini, kami ingin memberi ruang bagi para seniman untuk bertemu, bertukar gagasan, dan menciptakan karya baru dari warisan budaya yang menghubungkan mereka," katanya.

​Inisiatif regional yang dilaksanakan oleh UNESCO dengan kemitraan Temasek Foundation tersebut bertujuan untuk mengangkat keterhubungan sejarah dan warisan budaya bersama di Asia Tenggara yang telah tumbuh melintasi batas negara selama berabad-abad.

​Sebanyak dua pementasan utama yang menjadi puncak program ini adalah "Hutan" dan "Rumah dari Lidah".

​Pertunjukan "Hutan" dipentaskan sebagai bagian dari Pesta Boneka pada 6–7 Oktober di Kampung Media.

Karya ini mengeksplorasi hubungan masyarakat dengan hutan sebagai ruang alam dan budaya, serta menerapkan pendekatan inklusif agar dapat diakses oleh beragam penonton, termasuk kelompok neurodivergent.

​"Rumah dari Lidah" dipentaskan dalam Bedog Arts Festival pada 9–10 Oktober di Studio Banjarmili.

Pementasan ini menyoroti warisan budaya serta identitas masyarakat peranakan yang terbentuk dari migrasi dan pertukaran budaya lintas generasi di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

​Head of Programmes Office and Resilient Societies Temasek Foundation James Chan menambahkan seni menjadi sarana penting untuk mempererat hubungan antar-budaya dan mendorong harmoni kawasan.

​Sutradara "Rumah dari Lidah" Melati Suryodarmo menyampaikan karya tersebut dirancang untuk merawat keberagaman narasi sejarah peranakan.

​"Saya tidak ingin menggambarkan budaya peranakan hanya melalui satu cerita. Saya ingin membuka ruang bagi beragam pengalaman pribadi, potongan sejarah, bahasa, makanan, dan ingatan yang mungkin selama ini tersembunyi atau terlupakan," ujar Melati.

​Sejak diluncurkan pada 2025, program Embracing Shared Heritage through Performing Arts telah melibatkan seniman, peneliti, mahasiswa, dan pelaku budaya dari ketiga negara melalui serangkaian lokakarya, diskusi, hingga pertukaran seni lintas negara.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.