Perpisahan Messi Menutup Kisah Panjang dan Penuh Perjuangan Bersama Timnas Argentina

Selasa, 06 Okt 2026, 06:00 WIB

BUENOS AIRES – Lionel Messi akan memainkan pertandingan terakhirnya bersama Argentina, Selasa (6/10). Laga melawan Benin di Stadion Monumental, Buenos Aires, bukan sekadar pertandingan persahabatan. Duel tersebut akan menjadi penutup perjalanan internasional selama lebih dari dua dekade yang penuh perjuangan, keraguan, kekecewaan, hingga akhirnya berubah menjadi kisah cinta yang sulit ditandingi dalam sejarah olahraga.

Perjalanan Messi bersama Argentina bahkan dimulai dengan sebuah ironi. Ketika masih remaja dan berkembang jauh dari tanah kelahirannya, federasi sepak bola Argentina nyaris tidak mengenal siapa dirinya.

Ket. Foto: Lionel Messi. — Sumber: FIFA

Kini, pemain asal Rosario itu bersiap menutup salah satu bab terpenting dalam sejarah sepak bola Argentina.

“Dia melewati begitu banyak momen sehingga benar-benar seperti berada dalam era yang berbeda-beda. Pada awalnya, dia sangat menderita bersama tim nasional. Dia benar-benar harus melewati banyak hal,” kata jurnalis dan penulis Argentina, Sergio Levinsky, penulis buku Messi and Everything Else.

Messi meninggalkan Argentina dan pindah ke Barcelona ketika masih remaja. Di Spanyol, bakatnya segera mendapatkan perhatian besar. Bahkan, federasi sepak bola Spanyol sempat berusaha membujuknya untuk memperkuat La Roja.

Ironisnya, Argentina sendiri justru nyaris tidak mengetahui keberadaan pemain muda tersebut.

Salah satu kisah paling menarik terjadi pada Piala Dunia U-17 2003 di Finlandia. Argentina kalah 2-3 dari Spanyol setelah perpanjangan waktu pada semifinal.

Menurut Levinsky, Cesc Fabregas, yang ketika itu merupakan rekan Messi di akademi La Masia Barcelona, mengatakan kepada delegasi Argentina setelah pertandingan:

“Kalian kalah karena kami memiliki pemain terbaik kalian di Barcelona dan dia seorang jenius.”

Pelatih tim muda Argentina saat itu, Hugo Tocalli, mengingat cerita serupa. Dalam sebuah kesempatan di Ole Summit bulan lalu, Tocalli mengatakan koki kepala tim Spanyol bahkan memberi tahu dirinya bahwa Argentina membutuhkan “seorang anak yang bermain di Barcelona” jika ingin memenangi turnamen.

Namun, menemukan “anak dari Rosario” tersebut ternyata tidak mudah.

Omar Souto, salah satu pegawai Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA), akhirnya berhasil menemukan keluarga Messi di Spanyol melalui buku telepon Rosario. Namun, ketika menghubungi keluarga tersebut, ia justru menanyakan seseorang bernama “Leonardo”.

“Namanya bukan Leonardo, tetapi Lionel,” jawab keluarga Messi, menurut dokumenter Messi: The Forgotten Tape.

Kekeliruan tersebut bahkan sampai terjadi dalam dokumen resmi. AFA pernah mengirim faks kepada Barcelona untuk menanyakan seorang pemain bernama “Mecci”, dengan nama belakang ditulis menggunakan dua huruf “c”. Para pejabat Argentina ketika itu bahkan mengira Messi mungkin memiliki keturunan Italia.

Setelah berbagai kesulitan tersebut, Messi akhirnya tampil dalam dua pertandingan persahabatan bersama Argentina U-20 pada 2004. Itulah awal kemunculannya dengan seragam biru-putih.

Namun, keraguan belum sepenuhnya hilang. Pada Piala Dunia U-20 2005 di Belanda, Messi bahkan memulai turnamen dari bangku cadangan ketika Argentina kalah dalam pertandingan pembuka.

“Ada penolakan yang cukup kuat terhadap pemanggilan seorang anak yang tidak bermain di Argentina,” ujar Levinsky.

Messi harus menghadapi kecurigaan awal, termasuk anggapan bahwa dirinya merupakan “orang asing” karena menjalani kehidupan dan karier di Spanyol.

Masalah tersebut kemudian berlanjut di level senior. Sebagian suporter menganggap Messi tidak mampu menampilkan performa luar biasa seperti yang ia tunjukkan bersama Barcelona ketika membela Argentina.

Ia bahkan sempat mendapat cap “pecho frio”, istilah yang digunakan sebagian penggemar untuk menyebut pemain yang dianggap tidak memiliki keberanian, gairah, atau semangat bertarung.

Persepsi tersebut perlahan berubah setelah pertandingan kualifikasi Piala Dunia melawan Kolombia pada 2011.

Argentina tertinggal lebih dulu dalam kondisi pertandingan yang sulit. Messi kemudian memimpin kebangkitan timnya hingga meraih kemenangan.

“Dia sangat kelelahan, bahkan muntah, tetapi akhirnya dia membawa mereka meraih kemenangan,” kata Levinsky. “Itu adalah pertama kalinya para suporter melihatnya dengan cara yang berbeda.”

Hubungan Messi dengan publik Argentina semakin kuat setelah salah satu titik terendah dalam karier internasionalnya.

Pada final Copa America 2016, Argentina kembali kalah dari Chile melalui adu penalti. Messi gagal menuntaskan momen tersebut dengan trofi dan kemudian mengumumkan keputusan untuk pensiun sementara dari tim nasional.

Namun, reaksi publik Argentina kali ini berbeda.

Alih-alih menyalahkan Messi, masyarakat justru memintanya kembali.

“Orang-orang menyadari bahwa dia bukan penyebab kekalahan. Dialah yang membawa mereka ke final,” ujar Levinsky.

Messi akhirnya kembali. Di bawah kepemimpinan Lionel Scaloni, ia kemudian berubah menjadi pemimpin tak terbantahkan bagi generasi baru Argentina.

Hasilnya luar biasa. Messi membawa Argentina meraih dua gelar Copa America dan akhirnya mengakhiri penantian panjang dengan memenangkan Piala Dunia 2022 di Qatar.

Perubahan Messi sebagai kapten juga terlihat jelas. Ia menjadi lebih vokal, lebih berani menyampaikan pendapat dan semakin kuat dalam memimpin rekan-rekannya.

Perkembangan tersebut membuatnya kerap dibandingkan dengan Diego Maradona, ikon terbesar lain dalam sejarah sepak bola Argentina.

Namun, bagi Levinsky, perdebatan mengenai siapa yang lebih hebat antara Messi dan Maradona justru kehilangan makna.

“Ini adalah Messi dan Maradona. Mereka berdua jenius di era yang berbeda,” katanya.

Bagi masyarakat Argentina, kecintaan terhadap Messi tidak hadir seketika seperti yang pernah dirasakan terhadap Maradona.

Hubungan tersebut tumbuh perlahan, seiring Messi melewati kegagalan demi kegagalan, kritik, tekanan, hingga akhirnya memberikan trofi yang selama bertahun-tahun dinantikan.

Kehidupan dan karier Messi memang sebagian besar berkembang di luar Argentina. Namun, semakin lama, jaraknya dengan para suporter di tanah kelahirannya justru semakin dekat.

Levinsky menggambarkan hubungan tersebut dengan sebuah analogi yang sederhana tetapi kuat.

“Messi seperti tiba-tiba mengetahui bahwa Anda memiliki seorang putra berusia 18 tahun,” katanya. “Anda harus mulai mencintainya tanpa pernah mengetahui bahwa dia ada. Itu adalah cinta yang dibangun perlahan.”

Kini, setelah lebih dari dua dekade, kisah tersebut sampai pada halaman terakhir.

Messi akan kembali mengenakan seragam Argentina untuk terakhir kalinya di Stadion Monumental. Setelah bertahun-tahun mengejar pengakuan, menghadapi kritik dan menanggung beban ekspektasi sebuah bangsa, ia akhirnya meninggalkan tim nasional sebagai juara dunia dan salah satu pemain yang paling dicintai dalam sejarah Argentina.

Sebuah kisah yang dahulu dimulai dengan federasi bahkan salah menyebut namanya, kini berakhir dengan satu nama yang tidak mungkin lagi dilupakan: Lionel Messi.

  • Lionel Messi
  • Timnas Argentina

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.