Menyusuri Yokocho Jepang di Tengah Jakarta, Takoyaki Kini Punya Teman
📅 Selasa, 06 Okt 2026, 18:25 WIB | Oleh: Haryo BronoDengan susunan tersebut, satu meja dapat berisi beragam karakter makanan: takoyaki yang hangat, hidangan panggang, makanan yang digoreng, nasi dalam teishoku set, hingga kudapan penutup.
Pengalaman semacam itu membuat konsep yokocho tidak sekadar diterjemahkan melalui daftar menu. Ada upaya untuk menghadirkan suasana ketika makanan menjadi alasan orang berkumpul dan menghabiskan waktu bersama.
“Yang ingin kami hadirkan bukan hanya lebih banyak pilihan menu, tetapi juga pengalaman di baliknya. Ada keseruan ketika melihat makanan disiapkan, memilih beberapa hidangan yang berbeda, kemudian menikmatinya bersama,” ujar Devin.

Menu Takoyaki yang ditawarkan Gindaco Yokocho Central Park Mall (Koran Jakarta/Haryo Brono)Membawa Gang Kuliner Jepang ke Pusat Perbelanjaan
Yokocho memiliki sejarah yang erat dengan kehidupan kota di Jepang. Gang-gang kecil tersebut berkembang menjadi ruang kuliner yang menawarkan berbagai pilihan makanan dalam jarak yang berdekatan. Ukurannya yang tidak selalu besar justru menciptakan suasana yang akrab dan ramai.
Karakter itulah yang coba diadaptasi Gindaco Yokocho melalui konsep centered dine-in. Area makan dan aktivitas memasak dirancang agar pengunjung tidak hanya datang, mengambil makanan, lalu pergi, tetapi juga dapat menikmati proses dan suasana di sekitarnya.
Dalam konteks pusat perbelanjaan, pendekatan ini memberikan pengalaman yang berbeda dari gambaran food court biasa. Fokusnya bukan hanya pada makanan yang tersaji di meja, tetapi juga pada apa yang terjadi sebelum makanan tersebut sampai ke tangan pengunjung.
Suara proses memasak, aroma makanan yang baru disiapkan, serta pilihan menu yang beragam menjadi bagian dari pengalaman yang ingin dibangun.
Bagi F&B ID, Gindaco Yokocho juga menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas pengalaman kuliner global yang ditawarkan kepada masyarakat Indonesia. Takoyaki yang selama ini menjadi identitas Gindaco tetap dipertahankan, sementara konsep Japanese street food menjadi pintu untuk memperkenalkan hidangan lain.
“Semangat inilah yang ingin kami bawa melalui Gindaco Yokocho, yaitu menghadirkan more joy in every bite,” kata Devin.
Pada akhirnya, Gindaco Yokocho mencoba membawa sebagian kecil atmosfer gang kuliner Jepang ke tengah hiruk-pikuk Jakarta. Bukan dalam bentuk replika sebuah yokocho secara utuh, melainkan melalui gagasan tentang makanan yang dimasak di depan pengunjung, pilihan yang beragam, dan meja yang menjadi tempat untuk berbagi.
Takoyaki masih menjadi titik awalnya. Namun, bagi pengunjung yang datang dengan rasa ingin tahu lebih besar, perjalanan kuliner itu kini dapat berlanjut ke yakitori, teishoku, okonomiyaki, taiyaki, hingga berbagai hidangan Jepang lainnya—seolah menyusuri sebuah gang kuliner tanpa harus meninggalkan Jakarta.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!