Industri Tekstil RI Kalah Canggih dari China, Menperin Sarmuji Bongkar Biang Keroknya
Selasa, 06 Okt 2026, 23:35 WIBJAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tancap gas memperkuat daya saing industri nasional demi mengejar target ambisius pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029 sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Sektor yang jadi andalan adalah Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT). Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan, sektor ini adalah kunci untuk mendongkrak nilai tambah, ekspor, investasi, dan serapan tenaga kerja.
Untuk mencapai target 8 persen, PDB nasional harus melesat Rp7.674 triliun, dari Rp23.312 triliun di 2025 menjadi Rp30.986 triliun di 2029. Khusus sektor IKFT, ditargetkan tumbuh 7,85 persen pada 2029 dengan kontribusi ke PDB nasional 4,35 persen dan kontribusi ekspor 18,66 persen.
Kinerja IKFT sendiri cukup menjanjikan. Di Triwulan II 2026, industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh 6,36 persen, industri kulit dan alas kaki bahkan melonjak 11,30 persen. Sepanjang Januari-Juli 2026, ekspor IKFT tembus USD34,2 miliar, surplus dari impornya yang USD32,75 miliar.
Namun, ada pekerjaan rumah besar di industri padat karya, terutama Tekstil dan Produk Tekstil (TPT).Â
"Permasalahan mesin-mesin industri tekstil yang sudah tua harus segera ditangani. Tanpa modernisasi, industri kita akan semakin sulit bertahan dan bersaing dengan negara lain, khususnya Tiongkok, yang telah menggunakan teknologi produksi lebih maju," tegas Menperin Sarmuji, Selasa (6/10/2026).
Rata-rata usia mesin industri TPT di Indonesia sudah lebih dari 20 tahun. Kondisi ini membuat biaya produksi bengkak dan kalah bersaing dengan produk impor.
Untuk itu, Kemenperin mengoptimalkan jurus penyelamatan: program restrukturisasi mesin dan peralatan industri TPT, Kredit Industri Padat Karya (KIPK), serta penguatan akses pembiayaan dan perlindungan pasar domestik. Modernisasi akan dilakukan terencana agar tidak mengganggu produksi dan PHK.
Khusus industri TPT, jumlah tenaga kerja ditargetkan naik dari 3,95 juta orang di 2026 menjadi 4,07 juta orang di 2029.
Dirjen IKFT Kemenperin, Taufiek Bawazier, menambahkan Indonesia punya senjata rahasia yakni industri serat rayon yang bisa menjadi kekuatan tekstil nasional.
Selain mesin, Kemenperin juga menyoroti harga gas. Kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) akan dioptimalkan, tidak hanya soal harga, tapi juga jaminan volume, kontinuitas, dan infrastruktur. Pasalnya, evaluasi 2026 menunjukkan banyak industri baru menerima 60-70 persen dari alokasi gas.
Wamenperin Faisol Riza menekankan pentingnya target konkret hingga 2029, termasuk peta jalan pemenuhan bahan baku dalam negeri.
"Perlu dirumuskan secara konkret langkah dan target hingga tahun 2029, termasuk berapa persen kebutuhan bahan baku yang harus dapat dipenuhi dari dalam negeri. Dengan demikian, kebijakan HGBT dan penguatan bahan baku dapat berdampak nyata," ujar Faisol.
Tak hanya tekstil, Kemenperin juga memperkuat industri farmasi, khususnya obat tradisional dan obat bahan alam (OBA) berbasis sumber daya alam lokal untuk mengurangi ketergantungan impor dan mendorong produk herbal fitofarmaka.
"Melalui kebijakan strategis ini, kami komitmen memperkuat daya saing IKFT sekaligus mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029," pungkasnya.
- Industri Nasional
- Industri Tekstil
- Kementerian Perindustrian
- Pertumbuhan Ekonomi
- Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT)
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Menperin Sarmuji Bidik Rumput Laut RI Jadi Nomor Satu Dunia Lewat ISDAP 2026-2030
-
Peringati Hari Ozon Sedunia, Jakarta Padamkan Lampu Selama 60 Menit Malam Ini
-
Jobstreet by SEEK Meluncurkan Fitur AI Personalised Targeting dan Assist, Permudah HR
-
78% Produk RI untuk Pasar Domestik, Kemenperin: Ini Modal Besar Lawan Produk Impor
-
Pasar Makin Prospektif, Kemenperin Pacu Industri Mainan Tembus Pasar Global
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.