Festival Seni Budaya Mimika Bawa Efek Positif, UMKM dan Ekonomi Kreatif Ikut Ketiban Untung
📅 Selasa, 06 Okt 2026, 07:03 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoTIMIKA - Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Tengah Thomas Mutaweyau mengatakan pelaksanaan Festival Seni Budaya Mimika memberikan dampak bagi pelaku ekonomi kreatif (ekraf) khususnya pelaku kesenian dan kebudayaan daerah.
Thomas, di Kota Timika, Kabupaten Mimika, Senin, mengatakan melalui Festival Seni Budaya, yang dilaksanakan Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Mimika pada 5-10 Oktober 2026 itu, para pelaku kesenian dan kebudayaan dapat memperoleh keuntungan secara ekonomi dengan memasarkan hasil karya seni yang telah dihasilkan melalui sanggar seni.
"Dengan festival ini para pengukir, penganyam, penari, penabuh tifa itu ada uang atau nilai ekonomi (income) yang mereka dapat, baik untuk grup, sanggar seninya, ataupun untuk keluarga. Intinya mereka bisa hidup dari seni yang ditekuni," ujarnya.
Ia mendukung pelaksanaan festival seni dan budaya yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Mimika sebagai bentuk dukungan pemerintah kepada para pelaku seni di Mimika.
"Saya melihat yang ada di sini masih sedikit karena hanya ada di Kota Timika dan sekitarnya, tetapi belum sampai ke kampung pesisir dan pegunungan yang ada di Mimika. Kami berharap kalau diadakan lebih besar lagi dan tentunya harus didukung dengan anggaran yang besar dari Pemkab Mimika," ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Paulinus Yauniyuta dari Sanggar Seni Pokai, Kampung Amamapare, Distrik Mimika Timur, mengatakan bahwa melalui kegiatan ini, sanggarnya dapat memasarkan hasil seni ukir dan rajutan yang telah dihasilkan.
"Kami senang dengan kegiatan ini, karena kami dapat menjual hasil karya kami di sini," ujarnya.
Pelaku seni lainnya, Sabinus Kupakareyau dari Sanggar Titiri, Kampung Pomako, Distrik Mimika Timur, berharap kegiatan festival ini rutin dilaksanakan sehingga dapat membantu para pelaku seni memasarkan hasil karyanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kami berharap kegiatan ini dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahun dan berkelanjutan agar kami tetap memasarkan hasil karya kami," ujarnya.
Paulinus dan Sabinus memasarkan berbagai jenis ukiran khas Suku Kamoro seperti patung hingga miniatur rumah adat Karapau dengan kualitas terbaik.
Patung dan ukiran tersebut dijual dengan harga bervariasi mulai dari Rp100 ribu hingga Rp25 juta per patung. Ukiran yang paling mahal dijual ada replika rumah adat Karapau (rumah adat Suku Kamoro) yang dijual dengan harga Rp25 juta per unit.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!