Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bukankah Petasan Sudah Dilarang, Mengapa Ada yang Menyalakan 'Semalaman'

4 Selasa, 06 Okt 2026, 00:23 WIB | Oleh:
Bukankah Petasan Sudah Dilarang, Mengapa Ada yang Menyalakan 'Semalaman' Bukankah Petasan Sudah Dilarang, Mengapa Ada yang Menyalakan 'Semalaman' Doc: ist
Ket. larangan petasan

JAKARTA – Membuat, menjual, dan menyalakan petasan sudah dilarang. Lalu bagaimana ceritanya ada yang dibiarkan menyalakan petasan “semalaman?”

Warga Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mengeluhkan suara petasan dan kembang api dalam kegiatan haul yang dinilai mengganggu anaknya yang berkebutuhan khusus.

"Anak saya sampai bangun. Anak saya sampai sampai kaget dan kejang. Saya cuma mikirnya anak dan orang tua saya aja," kata warga bernama Amanda Andono (50) kepada wartawan di Jakarta, Senin.

Dia mengatakan suara kembang api itu terdengar sangat keras dan berlangsung terus-menerus. Menurut dia, suara itu berbeda dari kembang api yang biasa digunakan dalam acara-acara kebanyakan.

“Ini benar-benar dentuman, seperti suara bom. Tidak selesai-selesai,” ujar Amanda. Dentuman itu, kata dia, berdampak pada anaknya yang memiliki kebutuhan khusus dan sensitif terhadap suara keras.

Dia menyebutkan anaknya sempat terbangun, terkejut, dan mengalami kejang setelah mendengar suara tersebut. Selain anaknya, Amanda juga mengkhawatirkan kondisi ibunya yang berusia 76 tahun.

Akibat dentuman yang tak kunjung berhenti, dia kemudian mendatangi lokasi acara tersebut untuk meminta penjelasan kepada pihak yang bertanggung jawab.

"Sampai di menit ke-15, belum juga berhenti. Jadi, akhirnya saya langsung keluar, tuh. Saya langsung keluar, saya enggak peduli ini mau gimana-bagaimana, tapi ini enggak bener," ucap Amanda.

Dia pun mengaku kesulitan menemui penyelenggara acara. Terlebih, dia justru mengalami tindakan fisik saat meminta agar dipertemukan dengan panitia.

Amanda mengaku sempat didorong dan ditarik oleh sejumlah orang. Ia juga mengaku wajahnya disembur air dan diminta agar meninggalkan lokasi. Situasi itu kemudian semakin memanas ketika sejumlah orang mendatanginya.

Sementara itu, putranya yang menolongnya disebut mengalami luka cakaran pada tangan ketika berusaha menahan orang yang menurut Amanda hendak menyerangnya.

Amanda menilai penggunaan kembang api dengan suara dentuman keras seharusnya mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar. Menurut dia, kawasan tersebut dihuni anak-anak, bayi, lansia, serta warga yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Keluhan serupa juga disampaikan Amanda melalui media sosial. Dalam unggahannya melalui akun Threads @amandaandono, ia mengatakan anaknya yang memiliki kebutuhan khusus sampai terbangun dan mengalami ketakutan. 

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...

Malaysia Benar-benar Menggunduli Indonesia

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Malaysia Benar-benar Menggu...
Megapolitan
Cari Solusi Problem Kota-ko...

Cadangan Gas Eropa Terendah Sejak 2013

1.5 jam yang lalu | Lukman

Luar Negeri
Cadangan Gas Eropa Terendah...
Nasional
Daya Beli Melemah, Penguata...
Megapolitan
Anggaran Perumahan Jakarta ...
Advertisement
Terkonfirmasi, Jenderal LSP Ditahan di Rutan Mabes Polri   

Terkonfirmasi, Jenderal LSP Ditahan di Rutan Mabes Polri  

03 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.