Bank Dunia: AI Dorong Pertumbuhan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik
📅 Selasa, 06 Okt 2026, 15:25 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA - Bank Dunia menilai perkembangan kecerdasan artifisial atau akal imitasi (artificial intelligence/AI) menjadi peluang baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik.
Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Carlos Felipe Jaramillo mengatakan kawasan tersebut memiliki posisi yang kuat untuk memperoleh manfaat dari perkembangan AI karena terintegrasi dalam rantai nilai global dan mempunyai dinamika ekonomi yang tinggi.
“Integrasi mendalam kawasan Asia Timur dan Pasifik pada rantai nilai global serta dinamika ekonominya telah menempatkan kawasan ini pada posisi yang tepat untuk memperoleh manfaat dari lonjakan aktivitas global terkait AI,” kata Jaramillo dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update Oktober 2026 bertajuk Riding the AI Wave.
Meski demikian, Jaramillo mengatakan tantangan utama kawasan adalah mengubah keunggulan AI agar adopsi teknologi tersebut secara luas bisa berdampak ke dalam perekonomian.
Sejumlah negara di kawasan telah memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas AI global lewat produksi dan ekspor barang berteknologi tinggi yang mendukung investasi AI.
Namun, adopsi AI di kawasan masih belum merata dan secara umum berada di bawah negara-negara maju. Kondisi ini antara lain dipengaruhi tingginya biaya, keterbatasan keterampilan sumber daya manusia, serta kekhawatiran mengenai keamanan dan privasi.
“Tantangannya saat ini adalah mengubah keunggulan kawasan ini dalam memproduksi barang-barang terkait AI menjadi adopsi AI yang luas, yang dapat meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dan lebih baik bagi jutaan orang. Jika negara-negara Asia Timur dan Pasifik bertindak berani sekarang, AI dapat menjadi mesin yang kuat untuk membuka peluang, meningkatkan pendapatan, dan mewujudkan masa depan yang lebih sejahtera bagi semua,” ujar Jaramillo.
Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Franziska Ohnsorge mengatakan Indonesia relatif lebih sedikit terpapar terhadap lonjakan aktivitas global yang berkaitan dengan AI dibandingkan negara-negara lain di kawasan.
“Khusus untuk Indonesia ini menarik. Indonesia relatif lebih sedikit terpapar dibandingkan negara-negara lain terhadap lonjakan aktivitas global yang berkaitan dengan AI ini,” kata Ohnsorge.
Menurut dia, kekuatan utama Indonesia justru berasal dari permintaan domestik yang menopang pertumbuhan ekonomi.
"Yang benar-benar kuat di (ekonomi) Indonesia adalah permintaan domestik. Hal itulah yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dan inilah yang sedikit membedakannya dari negara-negara lain di kawasan (Asia)," jelas dia.
Di sisi lain, Wakil Presiden Regional IFC untuk Asia dan Pasifik Sarvesh Suri mengatakan negara-negara berkembang dapat memperoleh manfaat besar dalam jangka pendek dengan mengadopsi teknologi AI yang telah tersedia, atau yang disebut sebagai Small AI.
Teknologi tersebut bisa dimanfaatkan guna meningkatkan produktivitas perusahaan, termasuk UMKM tanpa harus mengembangkan teknologi AI paling mutakhir.
Laporan Bank Dunia juga menekankan pentingnya dukungan terhadap infrastruktur digital dan energi, pembiayaan, serta pengembangan keterampilan agar adopsi AI dapat diperluas.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!