- Home
-
- Luar Negeri
-
- Serangan Udara di Sudan Te...
Serangan Udara di Sudan Tewaskan Sopir Truk Bantuan PBB
Senin, 05 Okt 2026, 00:26 WIBKHARTOUM â Serangan udara menghantam konvoi truk pembawa bantuan pangan milik Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa atau World Food Programme (WFP) di negara bagian Kordofan Selatan, Sudan, Sabtu (3/10). Insiden tersebut menewaskan seorang pengemudi.
Dari Al Jazeera, WFP dalam pernyataannya pada Minggu (4/10) mengatakan kendaraan yang menjadi sasaran serangan membawa bantuan makanan dan jelas ditandai sebagai kendaraan kemanusiaan. Namun, badan PBB itu tidak menyebutkan pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Konvoi tengah melakukan perjalanan antara dua kota yang berada di bawah kendali Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) ketika serangan udara terjadi.
WFP masih melakukan penilaian terhadap tingkat kerusakan serta rincian lain mengenai insiden tersebut. Badan PBB itu juga menyerukan agar serangan tersebut diselidiki.
âInsiden-insiden ini menggarisbawahi lingkungan keamanan yang semakin menantang di Sudan dan risiko yang dihadapi para pekerja bantuan ketika memberikan bantuan penyelamatan jiwa kepada masyarakat yang membutuhkan,â kata WFP.
Kordofan Selatan menjadi salah satu wilayah yang mengalami peningkatan pertempuran sejak akhir 2025. Kawasan tersebut kini menjadi medan perebutan pengaruh antara SAF dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF), yang telah berperang untuk menguasai Sudan sejak April 2023.
Penggunaan drone oleh kedua pihak juga semakin meningkat. Serangan udara dan drone dilaporkan semakin sering terjadi di wilayah Kordofan, termasuk terhadap kawasan perkotaan dan infrastruktur sipil.
Kordofan menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak konflik. Sejak perang pecah pada April 2023, sekitar satu dari lima serangan di Sudan tercatat terjadi di kawasan tersebut. SAF menguasai sebagian besar wilayah utara, sedangkan RSF mempertahankan kendali atas sebagian besar wilayah barat. Kordofan Selatan sendiri masih menjadi wilayah yang diperebutkan.
Konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun itu menyebabkan sekitar 14 juta orang mengungsi dan menimbulkan salah satu krisis pangan terbesar di dunia saat ini.
Menurut penilaian Integrated Food Security Phase Classification (IPC), hampir 19,5 juta orang atau sekitar 41 persen populasi Sudan menghadapi krisis pangan akut pada periode Februari hingga Mei. Dari jumlah tersebut, lebih dari lima juta orang menghadapi tingkat kekurangan pangan ekstrem yang mengancam jiwa, sementara sekitar 135.000 orang berada dalam risiko kelaparan.
- Konflik Sudan
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Fenomena Langka, Bayi Kembar Monyet Bekantan Lahir di Pulau Cariak, Kalimantan Selatan
-
Memphis Grizzlies Tumbangkan Denver Nuggets 125-118
-
Milan Terancam Terlempar dari Empat Besar Usai Dikalahkan Atalanta 2-3
-
Jalan Putus di Lembah Anai, Guru SMP Negeri 1 Malalak Tidur di Sekolah Agar Tetap Mengajar
-
Wonderful Indonesia Gastronomy Angkat Asal Usul Bahan Pangan dan Kuliner Lokal Khas Daerah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.