Malioboro Tak Sekadar Tempat Jalan-Jalan, Setu Sinau Hadirkan Ruang Belajar Budaya
Senin, 05 Okt 2026, 17:35 WIBYOGYAKARTA -- Malioboro kini tak hanya menjadi ruang bagi wisatawan dan masyarakat untuk menikmati suasana pusat Kota Yogyakarta. Setiap Sabtu pagi, kawasan pedestrian tersebut juga dimanfaatkan sebagai tempat belajar berbagai kesenian dan budaya Jawa melalui program Setu Sinau.
Program yang diinisiasi Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta itu berlangsung pukul 07.00â09.00 WIB. Kelas-kelas pembelajaran digelar di sejumlah titik pedestrian mulai dari depan Grand Hotel De Djokja hingga Plaza Malioboro.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, mengatakan, program tersebut dirancang agar kunjungan ke Malioboro tidak hanya menjadi aktivitas rekreasi. Masyarakat maupun wisatawan dapat memperoleh pengalaman sekaligus pengetahuan mengenai budaya Yogyakarta.
âSetu Sinau ini sebenarnya kita ingin memberikan makna yang lebih dari sekadar orang berkunjung ke Malioboro itu tidak hanya jalan-jalan, duduk, tetapi juga punya nilai,â ujar Yetti saat ditemui di Setu Sinau kelas dolanan anak, Sabtu (03/10).
Berbagai materi budaya diperkenalkan melalui kelas yang berbeda, antara lain aksara Jawa, tari, musik, gamelan, dolanan anak, hingga tata busana. Peserta tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga diajak mempraktikkan langsung materi yang dipelajari.
Menurut Yetti, pola pembelajaran tersebut sekaligus membuka ruang interaksi antarpeserta. Salah satunya terlihat dalam kelas tari yang dilakukan secara bersama-sama di ruang terbuka.
âTidak hanya bicara masalah tariannya saja, tetapi bagaimana kemudian menari itu juga ternyata butuh kebersamaan, srawung,â kata Yetti.
Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya Dinas Kebudayaan mendekatkan budaya kepada masyarakat. Budaya tidak hanya dikenalkan melalui pertunjukan, tetapi juga melalui kegiatan yang memungkinkan masyarakat mencoba, berinteraksi, dan merasakan langsung proses pembelajarannya.
Selain materi kesenian dan tradisi, keberadaan Setu Sinau sekaligus memperkenalkan Malioboro dari sisi sejarah dan budayanya. Pengunjung dapat memperoleh pengalaman berbeda ketika berada di kawasan tersebut karena ruang publik yang selama ini identik dengan aktivitas wisata juga digunakan sebagai tempat belajar.
âKita ingin orang yang berkunjung ke Malioboro punya pengalaman. Ada pengalaman tentang budaya Jogja, tentang budaya Jawa, yang mereka bawa begitu dan menjadi lebih terkenang lagi,â tutur Yetti.
Setu Sinau telah berlangsung sejak awal 2026. Kegiatan ini gratis dan terbuka untuk berbagai kalangan. Masyarakat dapat datang langsung ke lokasi, sedangkan pendaftaran tersedia bagi mereka yang ingin memperoleh informasi mengenai jadwal serta materi kelas.
Jenis kelas yang diberikan tidak selalu sama setiap pekan. Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, misalnya, kegiatan mencakup Sinau Aksara Jawa, Sinau Njoged, Sinau Dolanan Anak, Sinau Nggambar, Sinau Macapat, Sinau Nggamel, Sinau Ngadi Busana, Sinau Wayang Upcycle, Sinau Paduan Suara, dan Sinau Drum.
Pelaksanaan hari itu juga dibuka dengan penampilan 1.000 penari dari Kampung Menari. Sementara itu, informasi mengenai kelas yang tersedia pada setiap Sabtu dapat diketahui melalui kanal informasi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.
Dalam pelaksanaannya, Setu Sinau tidak hanya melibatkan pemerintah. Dinas Kebudayaan menggandeng sanggar-sanggar seni budaya untuk menjadi instruktur dan pengajar. Menurut Yetti, terdapat sekitar 470 sanggar di Kota Yogyakarta yang berpotensi terlibat dalam kegiatan tersebut.
Keterlibatan para pelaku seni memberikan ruang bagi sanggar untuk memperkenalkan sekaligus membagikan kemampuan mereka kepada masyarakat.
âUntuk sanggar-sanggar, mereka lebih punya media untuk ekspresi supaya mereka juga, apa yang kemudian ingin mereka kontribusikan kepada masyarakat itu kita berikan ruang-ruang,â jelas Yetti.
Bagi masyarakat yang belum memiliki pengetahuan mengenai materi tertentu, kelas-kelas tersebut tetap dapat diikuti. Pembelajaran dibuat agar mudah dipahami sehingga peserta dari berbagai latar belakang dapat bergabung.
Yetti mengatakan, keberadaan ruang belajar semacam itu juga diharapkan mendorong masyarakat untuk lebih banyak berinteraksi. Budaya yang berkembang di kampung-kampung dapat dibawa ke ruang publik sehingga lebih banyak orang berkesempatan mengenalnya.
âJadi punya banyak teman untuk kemudian srawung bersama, tidak melakukan hal-hal yang tidak baik,â ucap Yetti.
Salah satu peserta yang merasakan langsung pengalaman tersebut adalah Meisya Nur, warga Prambanan. Ia semula datang ke Malioboro untuk berjalan-jalan. Namun, setelah melihat kegiatan Setu Sinau, ia tertarik mengikuti kelas Wayang Upcycle.
Dalam kelas tersebut, peserta tidak hanya membuat wayang, tetapi juga memperoleh penjelasan mengenai tokoh-tokoh wayang. Mereka kemudian dapat memilih tokoh yang hendak dibuat.
Bagi Meisya, kegiatan tersebut menjadi pengalaman pertama membuat wayang. Ia menggunakan botol plastik bekas yang sebelumnya telah diproses dengan heat gun hingga menjadi lembaran datar. Selanjutnya, peserta menggunakan solder panas yang telah disediakan untuk mengikuti pola gambar tokoh wayang.
âBaru pertama kali coba, ternyata menarik. Kita juga dijelaskan tentang tokoh-tokoh wayangnya dan bisa pilih mau membuat tokoh yang mana. Ternyata botol plastik bisa dibuat jadi wayang,â ungkap Meisya.
Hasil karya yang dibuat peserta dapat dibawa pulang. Kelas Wayang Upcycle tersebut dihadirkan Bank Sampah Pa-Q-One dari kawasan tepi Sungai Winongo.
Kegiatan itu mempertemukan pembelajaran budaya dengan pemanfaatan limbah. Botol plastik yang sebelumnya menjadi barang buangan diolah menjadi karya berbentuk wayang, sekaligus memberi pengalaman baru kepada peserta mengenai pemanfaatan kembali material yang sudah tidak terpakai.
Dengan konsep tersebut, Setu Sinau memperluas fungsi ruang pedestrian Malioboro. Di tengah aktivitas masyarakat yang datang untuk menikmati kawasan tersebut, tersedia pula ruang untuk belajar, berinteraksi, mengenal seni tradisi, dan mencoba keterampilan baru.
Program yang didukung Dana Keistimewaan DIY itu pun memberi pilihan aktivitas yang dapat diikuti masyarakat secara langsung. Pengunjung tidak hanya membawa pulang pengalaman menikmati Malioboro, tetapi juga pengetahuan mengenai budaya Yogyakarta.
Redaktur: Eko S
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Pegadaian Raih Sertifikasi ISO 9001:2015, Keamanan Vault Berstandar Global
-
Ye Live in Jakarta 2026, Pemprov DKI Siapkan Transportasi hingga Pengamanan
-
Kopaska dan Dislambair Selami Badan KM Virgo 8, Temuan Bukti Siap Diserahkan ke KNKT!
-
Laga Sepak Bola di Belanda Terancam Dihentikan Jika Suporter Nyalakan Kembang Api
-
Wayang Tak Boleh Punah! Disbudpar Buleleng Siapkan Lomba untuk Cetak Seniman Muda
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.