Demi Gelar Juara, Timnas Indonesia Harus Berikan Segalanya saat Lawan Thailand
📅 Senin, 05 Okt 2026, 15:45 WIB | Oleh: SriyonoDalam final yang dipenuhi penonton di SUGBK kala itu, gol Yaris Riyadi dan Gendut Doni Christiawan sempat membuat SUGBK bergemuruh pada babak kedua setelah mereka tertinggal dua gol lebih dulu di babak pertama lewat Chukiat Noosarung dan Therdsak Chaiman.
Namun, sayangnya momentum di babak kedua tak menjadi hasil manis di akhir laga setelah Thailand keluar sebagai juara berkat kemenangan adu penalti 4-2.
Herdman menyebut laga nanti malam sebagai kesempatan emas Indonesia untuk juara. Terakhir kali Indonesia menjuarai kompetisi sepak bola dengan tim senior adalah pada SEA Games 1991 di Manila, Filipina. Ketika itu, Indonesia mengalahkan Thailand melalui adu penalti 4-3 setelah kedua tim bermain imbang tanpa gol selama 120 menit.
Setelah itu, kata juara seperti "haram" disentuh Indonesia. Tak ada lagi euforia bahagia setelah final. Di Piala AFF, Indonesia enam kali menjadi runner-up, yakni pada 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020. Enam final, enam kali pula langkah terakhir menuju gelar harus berakhir dengan kekecewaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejatinya, Indonesia memang kembali merasakan gelar sepak bola di SEA Games 2023 Kamboja. Namun, gelar tersebut diraih oleh tim U-22, bukan tim senior.
Selain soal 35 tahun belum juara lagi, laga nanti juga memotivasi Herdman untuk membalikkan tren melawan Thailand, setelah sejarah rekor pertemuan kedua tim lebih berpihak kepada tim yang kini diasuh Anthony Hudson tersebut.
Menurut catatan Kita Garuda, dari 35 pertandingan terakhir di berbagai kompetisi, Indonesia meraih 13 kemenangan, sementara Thailand mengantongi 19 kemenangan. Adapun, kemenangan terakhir Indonesia atas Thailand juga sudah terjadi sangat lama, yaitu satu dekade yang lalu di leg pertama final Piala AFF 2016.
"Jadi, saya yakin mereka akan percaya diri. Mereka memiliki sejarah kemenangan atas Indonesia. Bagi kami, itu merupakan langkah penting yang harus diambil para pemain ini untuk membalikkan tren tersebut," tegas pelatih yang pernah mengantarkan Kanada kembali ke Piala Dunia setelah penantian 36 tahun itu.
"Don't change the winning team"
Start Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 terbilang lamban. Tim Garuda memang mengawali turnamen dengan kemenangan 2-0 atas Singapura, tetapi permainan yang ditampilkan cenderung monoton dan belum menunjukkan identitas permainan yang diinginkan Herdman.
Pada laga kedua, Indonesia ditahan imbang Malaysia tanpa gol. Kartu merah Thom Haye melawan Malaysia membuat Indonesia gagal mengalahkan Malaysia, namun Herdman malah mengambil sisi positif dari situasi tersebut.
Di atas kertas itu sebuah kerugian untuk Indonesia, tetapi Herdman mengambil pandangan lain yang menyebut itu sebagai "anugerah" karena memberikan kesempatan para pemainnya mempererat persaudaraan tentang bagaimana rasanya berjuang bersama.
Baginya, perjalanan sebuah tim tidak selalu dibentuk dari kemenangan yang berjalan mulus. Ada kalanya sebuah tim justru menemukan ikatan yang lebih kuat ketika dipaksa menghadapi kesulitan bersama. Inilah pengalaman yang ia tularkan saat dulu mengarsiteki berbagai tim nasional Kanada di sebuah turnamen besar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!