Mantan PM Russia Ungkap Alasan Putin Belum Siap Akhiri Perang Ukraina

Minggu, 04 Okt 2026, 03:00 WIB

Paris - Di tengah memburuknya kondisi ekonomi dan meningkatnya keresahan di kalangan masyarakat Russia maupun elite, Presiden Vladimir Putin belum siap bernegosiasi untuk mengakhiri perang di Ukraina, kata mantan perdana menterinya, Sabtu (3/10).

Berbicara kepada AFP dalam sebuah wawancara, Mikhail Kasyanov, yang menjabat perdana menteri Russia pada 2000 hingga 2004, mengatakan dirinya meyakini mantan atasannya tersebut memahami bahwa keputusan menginvasi Ukraina pada 2022 merupakan sebuah kesalahan, tetapi akan tetap melanjutkan arah yang telah ditetapkannya.

Ket. Foto: Mikhail Kasyanov merupakan perdana menteri pertama Vladimir Putin. — Sumber: Antara

"Dia melakukan kesalahan yang tidak sanggup dia akui," kata Kasyanov, 68 tahun, di Paris. "Dia mempercayai laporan dari badan-badan keamanannya bahwa Ukraina lemah."

Mantan perdana menteri tersebut mengatakan dirinya tidak yakin perang akan berakhir tahun depan. Ia menambahkan bahwa Putin mendapat keuntungan dari tingginya harga minyak akibat konflik Amerika Serikat (AS) -Iran serta perselisihan antara AS dan Eropa mengenai cara menghadapi Kremlin terkait Ukraina.

"Putin, tentu saja, sangat gembira," kata Kasyanov. "Dia jelas meyakini dapat melanjutkan perang tanpa memberikan konsesi apa pun. Dan dia yakin sedang memenangkan perang atrisi melawan Ukraina."

Ia memperingatkan bahwa musim dingin mendatang dapat menjadi sangat berat bagi Ukraina. Kasyanov mendesak negara-negara Barat memberikan "tekanan psikologis terhadap Kremlin" dengan memperkuat persatuan serta segera memasok Kyiv dengan pencegat rudal Patriot untuk melindungi wilayah udaranya dari meningkatnya serangan Rusia terhadap infrastruktur sipil.

Putin, mantan agen KGB yang akan berusia 74 tahun pada Rabu, bersikeras bahwa jutaan warga Russia mendukung perang Moskow. Bulan lalu, partai berkuasa yang dipimpinnya meraih mayoritas super dalam pemilu, yang menurut para pengkritiknya berlangsung di bawah kendali ketat. Putin menggambarkan hasil pemilu tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap perang.

"Rasa Fatalisme"

Kasyanov, yang meninggalkan Russia pada 2022, kini tinggal di pengasingan di Riga. Pada 2023, Moskow menetapkannya sebagai "agen asing", istilah yang mengingatkan pada sebutan era Uni Soviet, "musuh rakyat".

Pengkritik Kremlin tersebut mengatakan dirinya masih berhubungan dengan sejumlah anggota elite penguasa Russia.

"Ketakutan berkuasa di sana -- saya berbicara tentang kelas penguasa.

"Semua orang ingin perang berakhir. Mayoritas mutlak menginginkannya," katanya.

Perbedaannya, menurut dia, terletak pada bagaimana perang tersebut ingin diakhiri. Sebagian menginginkan perang berakhir dengan kemenangan, sebagian ingin berakhir dengan kekalahan Putin, sementara lainnya hanya ingin perang dihentikan, terlepas dari hasil akhirnya.

Di kalangan masyarakat Russia, Kasyanov mengatakan dirinya "tidak melihat alasan untuk terjadinya pemberontakan", meskipun jumlah korban perang terus meningkat dan harga pangan mengalami kenaikan.

"Rakyat Russia telah hidup dengan inflasi tinggi selama 30 tahun terakhir," katanya. "Mereka sudah terbiasa menanggungnya."

Namun, ia menambahkan bahwa gelombang mobilisasi militer berskala besar yang baru dapat memicu aksi protes di jalanan.

Berbicara di sela-sela konferensi yang diselenggarakan oleh asosiasi berbasis di Paris, Russie-Libertes, untuk para eksil penentang Putin, Kasyanov mengatakan Russia telah menjadi "praktis totaliter" dalam beberapa tahun terakhir.

"Ada rasa fatalisme, permusuhan satu sama lain, dan ketegangan serius di masyarakat," katanya. "Orang-orang menarik diri ke dalam keluarga mereka sendiri, sementara perasaan negatif terhadap satu sama lain semakin berkembang."

Setelah diberhentikan oleh Putin, Kasyanov bergabung dengan kelompok oposisi dan menjadi salah satu pengkritik Kremlin yang paling vokal. Seperti banyak pihak lainnya, awal dan lamanya perang menjadi kejutan baginya. Kepada AFP pada 2022, Kasyanov mengatakan perang tersebut dapat berlangsung sekitar dua tahun.

"Sinis yang Penuh Perhitungan"

Setelah kepala Kremlin pada Kamis mengatakan Russia akan mempertimbangkan penggunaan "semua jenis senjata" jika wilayah eksklave Kaliningrad diserang, Kasyanov mengatakan negara-negara Barat tidak seharusnya terintimidasi oleh gertakan kekuatan militer Putin.

"Kesalahan terbesar Barat dan Eropa adalah mereka terlalu takut kepada Putin. Dia tidak sekuat yang terlihat," kata Kasyanov kepada hadirin yang memenuhi ruangan di Paris.

"Putin lebih takut pada tombol nuklir dibandingkan banyak warga Eropa."

Kasyanov mengatakan Putin ingin orang asing percaya bahwa "dia seorang psikopat", padahal kenyataannya dia hanyalah seorang "sinis yang sangat penuh perhitungan".

"Dan dia terus menaikkan taruhan dalam permainan ini."

Kasyanov mengatakan peningkatan "serangan hibrida" menunjukkan Putin sedang memprovokasi Barat agar mengambil langkah-langkah yang kemudian dapat dimanfaatkannya.

"Dia seorang provokator," tambahnya. "Satu-satunya modus operandi yang dia pahami adalah yang dia pelajari di akademi KGB. Dia sendiri yang mengatakan hal itu kepada saya."

Namun, Kasyanov mengatakan dirinya tidak percaya Putin sedang mempersiapkan perang terbuka dengan Eropa.

"Apa yang diinginkan Putin adalah penghormatan. Dia ingin memaksa seluruh Eropa untuk memberikannya."

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.