Voli Pantai Indonesia Harus Menghadapi Peraih Perunggu Olimpiade di Final

Jumat, 02 Okt 2026, 00:33 WIB

NAGOYA – Peraih perunggu voli pantai Olimpiade 2020 asal Qatar akan coba diatasi pasangan voli pantai putra Indonesia Bintang Akbar/Sofyan Rachman Efendi. Keduanya berambisi menggondol medali emas Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Bintang/Sofyan dipastikan melaju ke partai final usai membungkam tim tuan rumah Kota Kurosawa/Taito Mizumachi dua set langsung 21-19, 21-18 di babak semifinal.

Nantinya di babak final, pasangan unggulan ketiga tersebut akan bersua wakil Qatar Cherif Samba/Ahmed Janko pada Sabtu. "Memang berat, Samba/Janko meraih perunggu Olimpiade 2020. Tidak gentar, gas terus,” kata pelatih voli pantai putra Indonesia Andi Ardiansyah dalam keterangan resmi yang diterima, Kamis.

Ket. Foto: berharap emas — Sumber: ist

Semenjak voli pantai dipertandingkan di Asian Games mulai 1998, Indonesia tercatat belum bisa menggondol emas. Prestasi terbaik tim Merah Putih sejauh ini yakni menorehkan tiga medali perak yang masing-masing diperoleh Ade Candra Rahmawan/Muhammad Ashfiya pada Asian Games Jakarta-Palembang 2018.

Kemudian medali perak oleh Agus Salim/Koko Prasetyo Darkuncoro dalam Asian Games Busan 2002, selain itu Agus Salim/Irilkhun Sofana meraih medali perak pada Asian Games Bangkok 1998. Andi percaya diri bahwa Bintang/Sofyan bisa membungkam ganda Qatar meski lawan mempunyai jam terbang di Olimpiade.

Sejarah panahan

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Panahan Indonesia (PB Perpani) Arsjad Rasjid menyebut medali emas yang diraih Nurisa Dian Ashrifah pada Asian Games 2026 sebagai sejarah baru bagi panahan Indonesia.

"Itu sejarah bagi panahan Indonesia. Nurisa tampil tenang, konsisten, dan mampu melewati lawan-lawan kuat hingga final. Emas itu adalah hasil kerja keras atlet, pelatih, tim pendukung, dan semua pihak yang terus mendukung perkembangan panahan Indonesia," ujar Arsjad dalam keterangan yang di terima di Nagoya, Jepang.

Nurisa Dian, atau yang akrab disapa Hani, mencetak sejarah setelah memastikan medali emas dengan mengalahkan pemanah Filipina Amaya Amparo Cojuangco dengan skor 139-137 pada partai final.

Bagi Arsjad, pencapaian tersebut menunjukkan atlet panahan Indonesia mampu bersaing dengan pemanah-pemanah terbaik di kawasan Asia, sekaligus menjadi pijakan untuk memperkuat prestasi tingkat internasional.

"Prestasi itu menunjukkan atlet panahan Indonesia mampu bersaing di level tertinggi Asia. Tugas kami berikutnya adalah menjaga konsistensi dan terus memperkuat pembinaan agar prestasi itu dapat berlanjut," kata Arsjad. Hani yang berstatus sebagai unggulan kedelapan harus melewati sejumlah lawan unggulan dalam perjalanannya menuju podium tertinggi.

Pada perempat final, dia menyingkirkan unggulan pertama asal India Chikitha Taniparthi, sebelum mengalahkan unggulan keempat asal Korea Selatan Yeonseo Kang pada semifinal.

Manajer Tim Nasional Panahan Indonesia Aziz Armand mengatakan keberhasilan Hani merupakan gambaran kesiapan atlet dan tim dalam menghadapi persaingan Asian Games 2026.

"Nurisa menghadapi lawan-lawan unggulan sejak fase gugur dan tetap mampu menjaga fokus sampai final. Hasil itu menunjukkan kualitas atlet sekaligus kerja solid tim selama persiapan dan pertandingan," ujar Aziz.

Dia mengatakan keberhasilan tersebut akan menjadi bahan evaluasi sekaligus standard baru tim nasional dalam menghadapi kompetisi internasional lain. "Kami akan mengevaluasi hasil di Asian Games dan memastikan program latihan, kompetisi, serta dukungan kepada atlet terus diperkuat," katanya.

Raihan Nurisa menjadi medali emas pertama Indonesia dari cabang panahan sepanjang sejarah Asian Games. Sebelumnya, prestasi terbaik panahan Indonesia di ajang tersebut adalah medali perak pada Asian Games 1984, 1994, dan 2018.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.