Prancis dan Italia Adu Kedalaman Skuad

Jumat, 02 Okt 2026, 07:09 WIB

PARIS - Prancis dan Italia kembali berhadapan dalam laga dua kekuatan tradisional sepak bola Eropa. Pertemuan di Stade de France, Sabtu (3/10) dini hari WIB bukan sekadar pertarungan dua tim besar, tetapi juga ujian terhadap arah baru yang sedang dibangun Zinedine Zidane dan Roberto Mancini.

Prancis datang dengan modal sempurna. Dua pertandingan, dua kemenangan, enam poin. Italia membawa momentum berbeda setelah bangkit dari kekalahan 0-2 melawan Belgia dengan kemenangan telak 4-1 atas Turki. Karena itu, laga Grup A1 UEFA Nations League ini menjadi pertarungan antara konsistensi Prancis dan respons Italia terhadap tekanan.

Ket. Foto: Gelandang Prancis bernomor punggung 11, Michael Olise (kedua dari kanan), mendapat ucapan selamat dari rekan-rekan setimnya setelah mencetak gol pembuka dalam pertandingan sepak bola UEFA Nations League Grup A1 antara Belgia dan Prancis di Stadion King Baudouin, Brussels, pada 28 September 2026. — Sumber: NICOLAS TUCAT / AFP

Zidane menikmati awal yang nyaris ideal dalam masa jabatannya sebagai pelatih Les Bleus. Setelah mengalahkan Turki 1-0 di Kocaeli melalui gol Kylian Mbappe, Prancis kembali meraih kemenangan dengan skor sama ketika menghadapi Belgia di Brussel.

Menariknya, kemenangan atas Belgia justru memperlihatkan satu kekuatan yang ingin dibangun Zidane: kedalaman skuad. Pelatih itu melakukan sembilan perubahan dari tim yang menghadapi Turki. Mbappe absen karena cedera. Sedangkan sejumlah pemain baru mendapat kesempatan tampil. Namun Prancis tetap mampu mencuri kemenangan melalui Michael Olise pada menit ke-88.

Olise masuk dari bangku cadangan dan mengubah pertandingan. Ia membawa bola dari wilayah pertahanannya sendiri sebelum menerobos pertahanan Belgia dan melepaskan penyelesaian yang menentukan. Dua pemain pengganti lain, Ousmane Dembele dan Rayan Cherki, juga memberi energi baru pada fase akhir pertandingan.

Bagi Zidane, situasi itu lebih penting daripada sekadar tiga poin. Prancis menunjukkan bahwa permainan mereka tidak sepenuhnya bergantung pada Mbappe. Ketika sang kapten absen, masih tersedia pemain dengan kualitas untuk menciptakan perbedaan.

“Dia adalah talenta murni dan hanya ingin bermain. Anda bisa melihatnya. Dia merasakan permainan. Saya senang bisa berada di sisinya,” ujar Zidane mengenai Olise setelah kemenangan atas Belgia.

Kini Zidane menghadapi Italia di Paris, kota yang memiliki arti khusus dalam perjalanan kariernya. Sebelum menjadi pelatih Prancis, dia menghabiskan lima tahun sebagai pemain Juventus. Pertemuan dengan Italia karena itu memiliki dimensi personal, sekaligus menjadi ujian pertama Zidane di kandang sendiri setelah memulai era barunya dengan dua kemenangan tandang.

Rekor pertemuan juga berpihak kepada Prancis dalam periode terakhir. Sejak kemenangan Italia atas Prancis pada final Piala Dunia 2006, Les Bleus unggul dalam enam pertemuan berikutnya dengan empat kemenangan berbanding dua. Namun sejarah tidak otomatis menentukan pertandingan kali ini.

Italia justru datang dengan kepercayaan diri yang baru pulih. Kekalahan 0-2 dari Belgia pada pertandingan pembuka sempat membuat awal periode kedua Mancini terasa berat. Namun tiga hari kemudian Azzurri memperlihatkan wajah berbeda ketika menghancurkan Turki 4-1 di Bursa.

Mancini melakukan delapan perubahan dan keputusan tersebut menghasilkan respons yang diinginkan. Alessandro Bastoni membuka skor, kemudian Davide Frattesi dan Michael Kayode membuat Italia unggul tiga gol sebelum turun minum. Pio Esposito menambah gol keempat setelah Turki sempat memperkecil ketertinggalan.

Kayode menjadi salah satu cerita utama. Pemain yang menjalani debut senior itu langsung mencetak gol dan memberikan energi di sisi permainan Italia. Pio Esposito juga melanjutkan perkembangan impresifnya dengan mencetak gol keenam dalam 11 penampilan internasional. Lebih menarik lagi, dia tampil bersama saudaranya, Sebastiano Esposito.

Kondisi Tim

Kondisi kedua tim juga membuat pilihan pemain menjadi bagian penting dari pertandingan. Prancis kehilangan Mbappe. Sedangkan Ibrahima Konate dan William Saliba juga tidak tersedia. Jeremy Jacquet sebelumnya dipercaya mendampingi Maxence Lacroix di jantung pertahanan. Andy Diouf dan Lucas Da Cunha bahkan telah memperoleh debut internasional.

Di lini depan, Esteban Lepaul yang tampil melawan Belgia berpotensi digantikan Dembele. Olise juga memiliki peluang lebih besar setelah menjadi penentu kemenangan di Brussel. Italia menghadapi persoalan berbeda. Mateo Retegui tidak dipanggil, sedangkan Giacomo Raspadori mengalami cedera. Moise Kean dan Gianluca Scamacca harus bersaing dengan keluarga Esposito untuk posisi di lini depan.

Nicolo Barella, Gianluca Mancini dan Honest Ahanor termasuk pemain yang berpeluang kembali ke dalam komposisi setelah tidak dimainkan pada laga sebelumnya. ben/G-1

Perkiraan Formasi

Prancis 4-3-3

Maignan

Kalulu, Upamecano, Lacroix, Truffert

Cherki, Kone, Rabiot

Olise, Dembele, Doue

Italia 4-3-3

Donnarumma

Kayode, Mancini, Bastoni, Calafiori

Barella, Fagioli, Tonali

S. Esposito, P. Esposito, Cambiaghi

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.