Masker Dominasi Penyebab Inflasi Ibu Kota

Jumat, 02 Okt 2026, 03:23 WIB

JAKARTA – Musim kemarau dan erupsi Gunung Anak Krakatau mengharuskan warga menggunakan masker. Harga masker meningkat dua hingga sepuluh kali lipat. Hal ini berdampak inflasi Jakarta, bahkan masker menjadi penyebab paling dominan.

“Masker kesehatan menjadi komoditas dari kelompok kesehatan yang menjadi penyumbang utama inflasi Jakarta secara bulanan September,” jelas Kepala BPS Jakarta, Kadarmanto, Kamis (1/10).

Ket. Foto: — Sumber: ANTARA/Sulthony Hasanuddin

Masker memberi andil angka inflasi 0,02 persen. Sedangkan angka inflasi Jakarta selama September mencapai 5,83 persen. Harga masker kesehatan melonjak dua hingga 10 kali lipat setelah abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Jakarta.

“Kita mengalami dampak erupsi Gunung Anak Krakatau, sehingga warga Jakarta diminta mengenakan masker,” ujar Kadarmanto.  Dia menyebutkan kelompok kesehatan tercatat mengalami inflasi 0,63 persen.

Kelompok kesehatan menjadi penyumbang inflasi tertinggi kedua selama September. Pertama adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Angka inflasinya 0,46 persen dengan andil sebesar 0,08 persen. 

Kadarmanto juga mencatat dalam tiga tahun terakhir, inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau selalu berfluktuasi. Inflasi tertinggi terjadi Februari tahun ini, 2,23 persen.

Sedangkan deflasi terdalam terjadi Januari ini, 1,57 persen. Komoditas penyumbang utama inflasi kelompok tersebut adalah daging ayam ras, cabai rawit, beras, telur ayam ras, dan sawi putih.

Tahunan

Dari data tersebut inflasi tahunan Jakarta mencapai 2,71 persen pada bulan September 2026. Angka inflasi disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,73 persen.

Menurut Kadarmanto, berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 3,71 persen. “Komoditas yang memberikan inflasi terbesar adalah daging ayam ras, 0,19 persen,” ujar Kadarmanto.

Selain daging ayam ras, komoditas yang turut menyumbang inflasi Jakarta pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, adalah beras dan minyak goreng. Beras memberi andil 0,20 persen. Minyak goreng memberikan andil inflasi 0,09 persen.

Lebih lanjut, dia menyebutkan kelompok pengeluaran lain yang inflasi tahun ke tahun cukup tinggi adalah transportasi, 4,65 persen. Andilnya 0,63 persen. “Ini utamanya disumbang komoditas bensin, 0,46 persen,” ungkap Kadarmanto. Inflasi tahunan Jakarta September ini lebih rendah dari inflasi nasional yang mencapai 3,28 persen.

Secara nasional, penyumbang utama inflasi September secara tahunan, terutama makanan, minuman, dan tembakau, 1,28 persen. Kemudian, kelompok transportasi 0,58 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa pribadi lainnya 0,53 persen. Ant/G-1

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.