IHSG Diperkirakan Kembali Uji Level Psikologis 6.000
📅 Jumat, 02 Okt 2026, 10:29 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan kembali menguji level psikologis pada posisi 6.000.
IHSG pada Jumat (2/10) pagi dibuka menguat 8,58 poin atau 0,14 persen ke posisi 6.018,08. Sementara indeks LQ45 naik 0,90 poin atau 0,15 persen ke posisi 593,28.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Jumat, menyampaikan apabila IHSG ditutup di bawah level 6.000, maka berpotensi akan menguji level berikutnya di posisi 5.800-5.900.
Dari global, obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) masih menjadi fokus perhatian utama, di mana para pelaku pasar beralih dari aksi melepas surat utang pemerintah menjadi membelinya.
Instrumen berjangka waktu lebih pendek, yang lebih sensitif terhadap suku bunga, lebih banyak diminati seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed. Sedangkan obligasi tenor lebih panjang mengalami tekanan akibat kekhawatiran terhadap inflasi jangka panjang.
Sementara itu, harga minyak menguat setelah dilaporkan bahwa kapal induk USS Theodore Roosevelt akan tiba di kawasan Timur Tengah pada akhir November.
Adapun harga minyak Brent pada Kamis (1/10) ditutup menguat 4,4 persen pada level 102 dolar AS per barel, karena kekhawatiran meningkatnya eskalasi serangan AS ke Iran setelah pemilu sela di AS pada November. Di sisi lain, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun 5 basis poin (bps) ke level 5.243 persen pada Kamis (1/10).
Dari dalam negeri, inflasi Indonesia tercatat 3,28 persen (year on year/yoy) pada September 2026, meningkat dari 3,19 persen (yoy) pada Agustus, dengan inflasi bulanan sebesar 0,30 persen dan inflasi inti 2,84 persen (yoy).
Meskipun inflasi headline meningkat, inflasi inti yang masih relatif terkendali menunjukkan tekanan permintaan domestik belum terlalu kuat, sehingga diperkirakan inflasi ini belum memberikan tekanan besar bagi Bank Indonesia (BI) untuk mengetatkan kebijakan moneter.
Namun, kenaikan harga pangan dinilai perlu dicermati karena dapat meningkatkan risiko tekanan inflasi ke depan. Sebab, dampak inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya daya beli konsumen.
Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus 3,55 miliar dolar AS pada Agustus 2026, meningkat signifikan dari 120 juta dolar AS pada Juli.
Surplus ini ditopang ekspor yang mencapai 26,61 miliar dolar AS atau tumbuh 6,72 persen (yoy), sedangkan impor mencapai 23,06 miliar dolar AS atau tumbuh 19,09 persen (yoy).
Pertumbuhan impor yang jauh lebih cepat daripada ekspor dinilai perlu dicermati karena dapat mempersempit surplus ke depan, terutama jika permintaan global dan harga komoditas melemah.
Bursa saham Asia pada Jumat pagi ini bergerak variatif, dengan indeks Nikkei melemah 0,62 persen ke level 68.532,50, indeks KOSPI turun 0,47 persen ke 6.938,27, indeks Shanghai menguat 0,23 persen ke 3.839,25, indeks Hang Seng terkoreksi 2,37 persen ke 24.031,00, sementara indeks Straits Times naik tipis 0,05 persen ke 5.670,70.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!