Bukan Sekadar Konsolidasi, Pemira Punya Agenda Besar untuk Pemuda Menuju 2045
📅 Jumat, 02 Okt 2026, 05:54 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoJAKARTA - Pemuda Mahasiswa Indonesia Raya (Pemira) akan menggelar konsolidasi besar pemuda secara masif pada Kamis (8/10) di Gedung Sumpah Pemuda, Jakarta menjelang perayaan Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober.
“Pertemuan inklusif ini memproyeksikan perjumpaan akbar lintas elemen mulai dari pemuda, mahasiswa, BEM, santri, pegiat lingkungan, atlet, gamers, pekerja kreatif, seniman, hingga perwakilan organisasi daerah dari seluruh penjuru tanah air yang menegaskan kesiapan mereka mengambil alih estafet kepemimpinan nasional,” kata Koordinator Pemira, Bintang Wahyu Saputra di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan pertemuan ini merupakan langkah awal menuju agenda puncak "Konsolidasi Kekuatan Aktivis, Pemuda, Mahasiswa, Lintas Profesi, Agama, dan Golongan Menuju Indonesia Emas 2045"
Menurut dia, secara filosofis dan historis, Pemira memaknai Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai lompatan kesadaran radikal di mana generasi terdahulu berani melampaui sekat identitas demi melahirkan identitas tunggal kebangsaan.
Menjelang usia 100 tahun momentum Sumpah Pemuda, pihaknya menegaskan bahwa tantangan zaman telah berubah dari yang mulanya merebut kemerdekaan menjadi perjuangan mengisi kemerdekaan, menegakkan kedaulatan multidimensi baik pangan, energi, teknologi, industri, dan data serta membangun keadilan sosial.
Ia menambahkan konsolidasi ini tidak bertujuan untuk menyeragamkan organisasi atau pandangan, melainkan untuk melahirkan titik temu perjuangan (common ground) demi agenda bangsa yang lebih besar di atas kepentingan sektoral.
“Jika Sumpah Pemuda 1928 menyatukan kesadaran kita sebagai satu bangsa, maka konsolidasi menuju satu abad Sumpah Pemuda harus menyatukan cita-cita kita tentang Indonesia yang hendak dibangun,” kata dia.
Pihaknya juga menyoroti berbagai tantangan kebangsaan kontemporer yang mendesak untuk segera disikapi oleh generasi muda demi menjaga keutuhan dan kemajuan bangsa.
Mulai dari polarisasi sosial akibat maraknya politik identitas, kesenjangan ekonomi yang melebar, serta masifnya disinformasi di era digital menjadi ancaman nyata bagi persatuan nasional.
Selain itu, ketergantungan pada penguasaan teknologi asing dan isu krisis lingkungan menuntut pemuda tidak lagi menjadi penonton pasif.
Ia menegaskan pemuda harus segera bergerak mengambil peran strategis sebagai pemecah masalah, memperkuat literasi.
“Serta membangun kolaborasi nyata untuk memastikan fondasi kebangsaan tetap kokoh di tengah dinamika global yang kompetitif,” kata dia.
Dalam pertemuan tersebut dihadiri sejumlah tokoh pemuda mulai dari Ketum PB Serikat Mahasiswa Muslimin Periode 2018-2026, Bintang Wahyu Saputra, Ketum Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Periode 2023-2025, I Wayan Darmawan, Ketum DPP Forum Komunikasi Santri Muhammad Natsir Sahib.
Kemudian Korpus BEM Seluruh Indonesia periode 2025/2026 Muzammil Ikhsan, Sekjen Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia 2019-2025 Muh Ageng Dendy.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!