IDF 2026 Siap Digelar, Bawa Tari Kontemporer Lebih Dekat ke Publik
📅 Kamis, 01 Okt 2026, 20:50 WIB | Oleh: Paundra ZakirullohJAKARTA - Indonesian Dance Festival (IDF) 2026 akan digelar satu bulan lagi dengan membawa semangat memperluas jangkauan tari kontemporer kepada publik. Festival yang telah hadir sejak 1992 tersebut akan berlangsung pada 29 Oktober-1 November 2026 di Taman Ismail Marzuki dan Komunitas Salihara, Jakarta.
Menjelang penyelenggaraan, tim IDF menggelar pertemuan bersama rekan media di MataWaktu, ITC Fatmawati, Jakarta Selatan. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali perjalanan IDF selama lebih dari tiga dekade sekaligus membahas posisi tari kontemporer di tengah perubahan audiens dan ekosistem kreatif.
Perwakilan IDF, Ratri Anindyajati, Kathalizsa, dan Kurnia Yaumil Fajar, turut berbagi mengenai perkembangan festival sejak pertama kali digelar pada 1992. Dalam pertemuan tersebut, tim juga memperlihatkan sejumlah arsip fisik berupa kliping media, album foto, dan katalog dari berbagai edisi IDF.
Arsip tersebut memperlihatkan perjalanan IDF yang berkembang bersama media, komunitas, serta perubahan dalam ekosistem tari kontemporer Indonesia. Lebih dari sekadar dokumentasi, arsip tersebut menjadi bagian dari perjalanan festival dalam menjaga kesinambungan pengetahuan dan perkembangan seni tari.
Direktur Indonesian Dance Festival, Ratri Anindyajati, mengatakan pertemuan dengan media menjadi kesempatan bagi IDF untuk kembali terhubung sekaligus memahami perubahan yang terjadi di tengah perkembangan lanskap media dan audiens. Ia berharap energi positif dari penyelenggaraan sebelumnya dapat kembali hadir dalam IDF 2026 dengan ruang kolaborasi yang semakin luas.
"Senang sekali bisa bertemu kembali dengan rekan-rekan media, menyapa, dan berkenalan lagi dengan berbagai perubahan yang terjadi hari ini. Pada penyelenggaraan 2024, IDF mendapat perhatian yang sangat baik, dan kami berharap tahun ini bisa kembali mendapat energi yang sama, bahkan lebih besar," ujar Ratri.
Selama lebih dari 30 tahun, IDF tidak hanya menjadi ruang pertunjukan tari kontemporer. Festival ini juga berkembang sebagai platform untuk pengembangan karya, pendidikan, riset, pengarsipan, pertukaran pengetahuan, serta pembentukan jejaring internasional dalam ekosistem tari kontemporer.
Pada penyelenggaraan 2026, IDF menghadirkan seniman dari Indonesia dan berbagai negara dengan karya yang membawa beragam cerita dan perspektif. Sejumlah isu yang diangkat melalui karya tersebut mencakup tubuh, identitas, budaya, sejarah, hingga hubungan manusia dengan lingkungan.
Festival Manager IDF, Kathalizsa, mengatakan keberagaman seniman dan program menjadi bagian penting dari pengalaman yang ingin dibangun dalam penyelenggaraan tahun ini. Kehadiran seniman dari dalam dan luar negeri juga diharapkan memperluas pertemuan antara publik dengan berbagai perspektif melalui karya tari.
"Tahun ini akan banyak penampil dan program seru selama IDF 2026 berlangsung. Tidak cuma dari dalam negeri, namun penari dari mancanegara membawa banyak cerita melalui karyanya di IDF 2026," jelas Kathalizsa.
Beberapa karya yang akan hadir di antaranya karya baru Hartati untuk pertunjukan pembuka, karya Team Chiipro dari Jepang, Fangas Nayaw dari Taiwan, serta karya Densiel Lebang. IDF 2026 juga menghadirkan KAMPANA sebagai ruang pengembangan artistik yang memberikan kesempatan bagi karya untuk berkembang melalui riset, eksperimen, percakapan, dan perjumpaan.
KAMPANA tahun ini mempertemukan proses pengembangan artistik dari sejumlah platform di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik. Program tersebut menjadi salah satu bagian IDF dalam memberikan ruang bagi proses kreatif, tidak hanya menampilkan karya yang telah selesai kepada publik.
Upaya memperluas akses terhadap tari kontemporer juga menjadi bagian dari pembahasan IDF bersama media. Festival tersebut menyasar berbagai kelompok pengunjung, mulai dari pelajar dan mahasiswa, kaum muda, profesional, ekspatriat, praktisi seni, seniman dan budayawan, hingga masyarakat umum.
Marketing Manager IDF, Kurnia Yaumil Fajar, mengatakan pihaknya ingin memahami cara publik menemukan dan menikmati karya seni di tengah perubahan pola konsumsi informasi. Menurutnya, dialog dengan media dapat membantu festival melihat cara agar karya tari dapat terasa lebih dekat dan relevan bagi masyarakat yang lebih beragam.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!