El Nino Bikin Musim Tanam Padi Kalbar Terlambat, Satu Musim Berpotensi Hilang pada 2026
Kamis, 01 Okt 2026, 14:04 WIBPontianak - Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) mencatat dampak fenomena El Nino berupa kemarau panjang menyebabkan keterlambatan musim tanam padi hingga berpotensi menghilangkan satu musim tanam pada 2026.
"Seharusnya Juli-Agustus 2026 sudah mulai tanam, tetapi Agustus justru mulai musim kering. Sampai sekarang belum bisa mulai tanam," ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar Herti Herawati di Pontianak, Kamis (1/10).
Ia mengatakan kondisi kekeringan menyebabkan sejumlah lahan pertanian belum dapat ditanami karena air tidak tersedia. Bahkan, penyaluran bantuan diminta untuk ditunda karena kondisi sumber air yang kering dan sebagian lainnya payau.
"Mudah-mudahan di ujung tahun ini bisa mulai tanam," kata dia.
Herti menjelaskan, produksi padi Kalbar pada Agustus 2026 sebenarnya mengalami peningkatan sebesar 3.212 ton gabah kering giling (GKG) dibandingkan Agustus 2025.
Namun, secara kumulatif Januari-Agustus 2026, produksi padi masih mengalami penurunan 57.490 ton GKG dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Ia berharap produksi padi dapat kembali meningkat hingga akhir tahun seiring dengan membaiknya kondisi untuk kegiatan tanam.
Selain faktor cuaca, Herti mengatakan luas lahan baku sawah juga mengalami penurunan. Sejumlah daerah belum dapat memenuhi target luas lahan baku sawah (LBS) minimal 87 persen dari Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), karena lahan juga digunakan untuk kebutuhan perumahan, perkebunan kelapa sawit, dan kepentingan lainnya.
Untuk mengatasi keterbatasan lahan, Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah menerapkan sistem pertanian modern melalui Modern Agriculture Advanced System (MAAS). Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dari rata-rata sekitar 3,5 ton menjadi hingga delapan ton per hektare.
"Untuk Kalbar dalam program itu ditargetkan 15 ribu hektare," katanya.
Saat ini, pemerintah mulai melakukan konsolidasi dengan pemerintah daerah Kabupaten Sanggau, Kubu Raya, dan Landak untuk pelaksanaan program tersebut, termasuk dukungan benih dengan padat bibit guna meningkatkan hasil produksi.
"Hingga kini belum ada laporan kerugian masyarakat secara langsung akibat El Nino. Masyarakat lebih banyak meminta penundaan penyaluran bantuan karena kondisi lahan dan sumber air yang belum mendukung," ujar dia.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.