Trump Bantah Pernyataan Dubes AS Soal Tawaran Senjata ke Xi Jinping

Selasa, 29 Sep 2026, 10:00 WIB

WASHINGTON — Presiden AS Donald Trump membantah telah bertanya kepada pemimpin Tiongkok Xi Jinping apakah ia ingin membeli senjata dari Amerika. Pernyataan yang bertentangan dengan keterangan dari duta besar AS untuk Tiongkok.

Associated Press melaporkan, Trump tampak bingung ketika seorang reporter menanyakan tentang pernyataan Duta Besar David Perdue pada akhir pekan, yang menyiratkan bahwa diplomat tersebut keliru membedakan Tiongkok dengan Taiwan. Namun kemudian Trump berkata, "mungkin itu ide yang bagus" untuk mengajukan tawaran seperti itu kepada Tiongkok.

Ket. Foto: Presiden AS Donald Trump dan ibu negara Melania menghadiri jamuan teh bersama Presiden Tiongkok Xi Jinping dan istrinya Peng Liyuan di Gedung Putih, Washington DC, pada 25 Sepetember 2026. — Sumber: AP

Reaksi mendadak terkait prospek penjualan senjata dari AS ke rival geopolitiknya itu menggarisbawahi pendekatan pemerintahan Trump yang seringkali tidak terkoordinasi dan kontradiktif terhadap Tiongkok, termasuk kunjungan kenegaraan Xi yang penuh kemegahan ke Washington pekan lalu di mana Trump tampaknya hanya mendapatkan sedikit imbalan terkait isu-isu penting.

Dubes Perdue, saat berbicara dengan Shannon Bream di acara "Fox News Sunday" di Fox News Channel beberapa hari setelah KTT tersebut, tidak menyebutkan kapan tawaran itu diajukan. Namun, proposal semacam itu, jika terwujud, akan mengubah kebijakan AS terhadap Tiongkok dan Taiwan selama beberapa generasi dan mengekspos teknologi AS kepada musuh potensial.

Pemerintahan Trump Menyangkal 

Pada hari Senin (28/9), Departemen Luar Negeri AS berupaya menjauhkan pemerintahan Trump dari komentar Dubes Perdue, dengan mengatakan bahwa "hukum AS melarang penjualan senjata ke Tiongkok dan tidak ada tawaran atau rencana untuk menjual senjata ke Tiongkok."

Beberapa jam kemudian, Trump tampaknya melakukan hal yang sama.

"Ke Tiongkok? Maksudmu ke Taiwan?" katanya ketika seorang reporter menanyakan tentang pernyataan Perdue.

"Saya belum pernah mendengar tentang itu. Saya harus bertanya padanya," kata Trump.

Kemudian ia berpendapat bahwa Tiongkok mungkin ingin membeli peralatan AS, yang menurutnya lebih unggul. "Jadi mungkin itu ide yang bagus. Tapi kami tidak membahasnya. Dia mungkin sedang membicarakan Taiwan. Saya pikir dia mungkin sedang membicarakan Taiwan."

Perdue pada hari Minggu mengatakan bahwa presiden mengecilkan penjualan senjata AS ke Taiwan yang telah berlangsung lama -- yang telah menuai protes dari Beijing selama bertahun-tahun -- dengan menyebutnya sebagai salah satu dari banyak penjualan yang dilakukan Washington di seluruh dunia, dan bahkan bertanya kepada Xi apakah dia tertarik untuk membeli persenjataan AS.

Bream mengutip kekhawatiran dari anggota parlemen Partai Republik dan Demokrat mengenai keterlambatan paket bantuan dan pesanan senjata ke Taiwan. Bream bertanya apakah AS menolak memberikan senjata kepada Taiwan untuk menyenangkan presiden Tiongkok.

Perdue menolak anggapan tersebut, menyatakan bahwa Trump "sangat tegas terhadap Taiwan, lebih tegas dari siapa pun yang pernah saya lihat" dan telah menjual banyak senjata ke negara itu. Perdue juga mengatakan Trump dan Xi terus membicarakan penjualan senjata AS ke Taiwan di masa mendatang.

"Namun Presiden Trump terus mengatakan, 'Hei, kami menjual senjata kepada orang lain di seluruh dunia,'" kata Perdue. "Dia bahkan pernah bertanya kepada Presiden Xi, apakah beliau ingin membeli beberapa senjata."

Jika demikian, tawaran itu "menunjukkan perlakuan Trump terhadap Tiongkok yang hampir sepenuhnya bersifat komersial, bahkan dengan potensi mengorbankan posisi militer AS di Asia," kata Evan Sankey, seorang analis yang fokus pada kebijakan AS terhadap Tiongkok di lembaga libertarian Cato Institute.

Dia mengatakan AS terakhir kali menjual senjata ke Beijing pada tahun 1980-an dan melanjutkan penjualan tersebut akan menjadi "perubahan kebijakan yang mengejutkan."

Craig Singleton, seorang peneliti senior di lembaga kajian garis keras Foundation for Defense of Democracies, mengatakan anekdot yang diceritakan Perdue memberikan "gambaran yang mengungkap pandangan dunia transaksional Trump."

"Dia cenderung melihat senjata, tarif, dan akses pasar sebagai instrumen tawar-menawar, bahkan melintasi garis pemisah tradisional antara sekutu dan musuh," kata Singleton.

Tawaran seperti itu kepada Xi juga akan bertentangan dengan kewajiban AS berdasarkan hukum domestik untuk menyediakan sarana kepada Taiwan untuk mempertahankan diri dan mencegah invasi dari Beijing. Meskipun tidak mengakui Taiwan sebagai sebuah negara, AS adalah pendukung informal terkuat dan pemasok senjata utama pulau tersebut. Namun, beberapa pemimpin AS masih belum memberikan jawaban pasti apakah mereka akan mengerahkan kekuatan militer untuk membela pulau itu jika Tiongkok melakukan invasi.

Tiongkok telah menekan Washington untuk menghentikan penjualan senjata, terutama selama pertemuan puncak sebelumnya pada bulan Mei antara Trump dan Xi di Beijing. Setelah pertemuan itu, Amerika Serikat menghentikan penjualan paket senjata senilai $14 miliar yang memecahkan rekor—dan Trump menggambarkan penjualan senjata ke Taiwan sebagai "alat tawar-menawar yang sangat baik" dengan Tiongkok.

Dalam pembicaraan pribadi mereka di Gedung Putih pekan lalu, Xi mendesak Trump untuk menentang kemerdekaan Taiwan, menurut media pemerintah Tiongkok.

Di Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, tidak mengkonfirmasi pernyataan Perdue ketika ditanya tentang masalah tersebut pada hari Senin. Namun, ia mengatakan kepada wartawan bahwa Tiongkok selalu memperkuat kemampuan pertahanan nasionalnya berdasarkan kebutuhannya dan berkomitmen untuk menjaga perdamaian dan stabilitas dunia.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.