Swasembada Susu Masih Terbentur Impor

Selasa, 29 Sep 2026, 00:00 WIB

Swasembada susu tak cukup berhenti pada target produksi, melainkan membutuhkan ekosistem peternakan yang mampu tumbuh dan memenuhi kebutuhan dalam negeri.

JAKARTA – Di tengah target swasembada, tingginya ketergantungan impor susu menunjukkan masih adanya celah besar dalam kemandirian pangan nasional. Karenanya, penguatan produksi lokal menjadi krusial, bukan hanya untuk menekan ketergantungan dari luar negeri, tetapi juga memastikan keberlanjutan usaha peternak dan stabilitas pasokan susu domestik.

Ket. Foto: Kemandirian Pangan - Sekitar 75-80 Persen Kebutuhan Susu Nasional Masih Dipenuhi dari Impor — Sumber: antara

Data terbaru menunjukkan sekitar 75-80 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi dari produk impor. Dengan begitu, produksi susu lokal hanya mampu memenuhi sekitar 20-25 persen dari total kebutuhan.

Anggota Komisi IV DPR RI Endang Setyawati Thohari mendorong penguatan potensi sapi lokal dan koperasi peternak sebagai langkah mewujudkan kemandirian susu nasional. Hal itu disampaikan saat kunjungan kerja Komisi IV DPR RI ke Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur, Pasuruan, Jawa Timur, Senin (28/9).

“Upaya tersebut perlu didukung perlindungan sumber daya genetik, pengembangan teknologi reproduksi, regulasi, serta akses pembiayaan bagi peternak,” ujarnya, dikutip dari laman resmi DPR RI.

Endang menilai sapi lokal yang telah beradaptasi dengan iklim dan lingkungan Indonesia merupakan aset penting bagi kedaulatan pangan. Dia mendorong penyusunan kembali undang-undang tentang sumber daya genetik dan menekankan peran Badan Karantina dalam mencegah keluarnya sumber daya genetik Indonesia ke luar negeri.

Pemerintah juga diminta memberikan bantuan yang lebih spesifik kepada sapi lokal sesuai karakteristik dan potensi masing-masing daerah. “Selain itu, pengembangan inseminasi buatan, akses permodalan, serta penghargaan melalui skema royalti bagi peneliti dan peternak yang mengembangkan sumber daya genetik, termasuk sapi Grati, dinilai penting,” jelasnya.

Dalam upaya mencapai kemandirian susu nasional, Endang menegaskan produksi peternak dalam negeri harus diprioritaskan. Dia mengingatkan agar kebijakan impor susu tak melemahkan peternak dan koperasi lokal.

“Jika impor tetap diperlukan, yang diutamakan adalah impor sapi untuk dikembangkan di dalam negeri, bukan susu,” tegasnya.

Koperasi seperti KUTT Suka Makmur dinilai memiliki posisi strategis dalam memperkuat rantai pasok susu, mulai dari produksi, pengolahan, penyerapan hingga pemasaran.

Pacu Swasembada

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Abdul Kharis Almasyhari mendorong percepatan swasembada susu nasional melalui peningkatan produksi dalam negeri dan pengembangan sapi lokal yang mampu beradaptasi dengan iklim Indonesia. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak.

“Pemenuhan kebutuhan susu dari produksi dalam negeri merupakan pekerjaan besar yang harus dilakukan bersama pemerintah, peternak, koperasi, dan industri,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua KUTT Suka Makmur Evi Zainal Abidin mengatakan sapi perah dataran rendah yang dikembangkan di Pasuruan telah bertahan lebih dari 100 tahun secara turun-temurun. Kondisi tersebut menunjukkan kemampuan sapi lokal beradaptasi dengan lingkungan tropis serta keterampilan peternak dalam mengelolanya.

Evi berharap pola pengembangan sapi perah dataran rendah dapat didukung dan direplikasi di wilayah lain, khususnya luar Jawa. Saat ini sekitar 95 persen produksi susu nasional masih berasal dari Pulau Jawa, sementara potensi hijauan pakan ternak banyak tersedia di luar Jawa.

“Pengembangan sapi dengan genetika yang sudah stabil dan dikenal sebagai sapi dataran rendah Indonesia dapat menjadi salah satu pilihan untuk pengembangan peternakan di luar Jawa,” ujarnya.

  • Kemandirian Pangan

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.