Mendiktisaintek Minta Kampus Tak Cuma Kejar Publikasi, Riset Harus Punya Dampak

Selasa, 29 Sep 2026, 01:22 WIB

JAKARTA - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk memperkuat kapasitas riset untuk menjawab berbagai persoalan pembangunan dan meningkatkan nilai tambah Indonesia.

Mendiktisaintek mengajak civitas akademika di Indonesia agar mengaitkan penguatan riset dengan kebutuhan Indonesia, untuk meningkatkan nilai tambah dari sumber daya yang dimiliki. Dalam hal ini, ia menggunakan kopi dari dataran tinggi Sumatera Utara (Sumut) sebagai salah satu contoh.

Ket. Foto: Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto membawakan sambutan dalam rangka pengukuhan mahasiswa baru Institut Teknologi Del di Toba, Sumatera Utara, Sabtu (26/9). — Sumber: Antara foto/HO-Kemdiktisaintek

Ia menyebut kopi dari wilayah Sumut memiliki permintaan di dunia, tetapi sebagian sebelumnya keluar dari daerah dalam bentuk biji mentah, dan kembali dalam bentuk produk olahan dengan nilai yang lebih tinggi. Perbedaan nilai tersebut berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Selisih harga itulah sebenarnya yang kita sebut sebagai pengetahuan dan teknologi. Kampus sesungguhnya adalah tempat dihasilkannya, diproduksinya, sains, teknologi, dan inovasi," kata Menteri Brian, Senin..

Brian juga mengaitkan kapasitas riset dengan kemampuan suatu negara untuk keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah atau middle-income trap. Ia menyebutkan perbandingan jumlah peneliti antara negara berpenghasilan tinggi dan kelompok negara berpenghasilan menengah.

Menurut data yang dihimpunnya, negara berpenghasilan tinggi memiliki sekitar 4.100 peneliti per satu juta penduduk, sedangkan kelompok negara berpenghasilan menengah memiliki kurang dari 1.000 peneliti per satu juta penduduk.

"Kalau kita ingin naik kelas menjadi negara maju, jumlah peneliti kita tidak bisa ditawar lagi, jumlah kapasitas riset kita tidak bisa kita berdiam diri, harus kita naikkan," ujarnya.

Mendiktisaintek menekankan pentingnya keterhubungan antara perguruan tinggi dan industri dalam membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Ia juga menegaskan bahwa lembaga riset yang unggul tidak cukup dinilai dari banyaknya makalah atau jurnal yang dihasilkan.

Publikasi ilmiah tetap penting sebagai bagian dari proses pengujian pengetahuan oleh komunitas ilmiah, tetapi hasil penelitian juga perlu diarahkan untuk menjawab persoalan di dunia nyata.

"Penelitian yang berhenti di lemari perpustakaan tentu belum bisa menciptakan apapun. Dampak baru dirasakan ketika ada orang di luar kampus yang hidupnya berubah karena penemuan-penemuan yang kita lakukan," tutur Brian Yuliarto.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.