Bukan Sekadar Siaga, Peneliti Ungkap Kenapa Kesiapsiagaan Bencana Harus Jadi Budaya
Selasa, 29 Sep 2026, 01:25 WIBJAKARTA - The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII) memandang bahwa kesiapsiagaan bencana sudah sepatutnya menjadi budaya bersama di masyarakat.
Peneliti Bidang Sosial TII Made Natasya Restu Dewi Pratiwi mengatakan keterampilan kesiapsiagaan bencana perlu menjadi bagian dari kesadaran, pemahaman, dan keseharian masyarakat.
âBelajar dari hal tersebut, tugas utama Indonesia adalah memastikan keterampilan kesiapsiagaan bencana menjadi bagian dari kesadaran, pemahaman, serta keseharian masyarakat, bahkan sebelum bencana terjadi,â kata Natasya dikonfirmasi di Jakarta, Senin.
Natasya kemudian mengatakan pentingnya kesiapsiagaan tersebut di antaranya terlihat dari dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kelompok rentan, termasuk anak-anak.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga 21 September 2026, tercatat 174.694 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di provinsi terdampak karhutla, dengan 40.363 kasus terjadi pada balita.
âArtinya, sekitar 23,1 persen dari seluruh kasus ISPA yang tercatat merupakan kasus pada balita. Data ini sangat ironis mengingat asap karhutla berisiko meningkatkan kerentanan terhadap gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan penyakit paru atau asma," ucapnya.
Menurut dia, masyarakat perlu didampingi dan dibekali kemampuan untuk melindungi diri, keluarga, serta kelompok yang memiliki kebutuhan khusus ketika bencana terjadi.
Kesiapsiagaan yang telah menjadi kebiasaan, ujar dia melanjutkan, dapat membantu masyarakat mengurangi kerugian kesehatan sekaligus meningkatkan kemampuan untuk mengetahui cara mengakses perlindungan ketika bencana terjadi.
Natasya menilai kesiapsiagaan juga perlu dibangun secara inklusif dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, seperti kader kesehatan, kelompok perempuan, organisasi penyandang disabilitas, kelompok pemuda, masyarakat adat, dan organisasi masyarakat sipil. Keterlibatan tersebut, kata dia, dapat dilakukan mulai dari pemetaan kebutuhan sebelum bencana, simulasi kebencanaan, penyusunan rencana kontingensi, hingga evaluasi respons setelah bencana.
âDengan demikian, manajemen bencana tidak hanya bergerak ketika krisis telah terjadi, tetapi juga mampu mengantisipasi risiko dan memastikan kebutuhan kelompok rentan telah diperhitungkan sejak awal,â ucapnya.
Berikutnya, Natasya menambahkan kesiapsiagaan perlu menjadi budaya bersama agar masyarakat tidak selalu menunggu bantuan setelah bencana terjadi, tetapi telah memiliki kapasitas untuk melindungi diri dan orang-orang di sekitarnya dari risiko bencana.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Marcellus Widiarto
Berita Terkait:
-
Perum Bulog Sultra Serap Gabah Petani Capai 11.200 Ton hingga Agustus 2026
-
Karhutla Mengganas, Bengkayang Naikkan Status Jadi Tanggap Darurat Asap
-
Menko PMK Pratikno Bantah Rumor Dirinya Minta Mundur
-
Terobosan Baru! AI Dinilai Mampu Tingkatkan Transparansi Pengadaan Barang dan Jasa
-
Bandara Husein Kembali Beroperasi, Bandung Perkuat Branding Pariwisata untuk Wisatawan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.