Literasi Keuangan Masih Timpang, OJK Andalkan SNLIK untuk Tepat Sasaran
Minggu, 27 Sep 2026, 14:00 WIBJAKARTA â Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang didukung oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi modal utama untuk merencanakan (mapping) program peningkatan edukasi keuangan yang tepat di berbagai daerah.
âSaya ingin menyampaikan betapa arti hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan itu sangat penting dan bermanfaat buat masyarakat. Dengan adanya Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan ini kami bisa tahu persis, ke mana kita mengarahkan kapal kita. Kita harus tahu kita berada di titik mana,â kata Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi di Jakarta, Sabtu (26/9).
âDan dengan hasil SNLIK ini, kami tahu berapa tingkat literasi masyarakat Indonesia dan berapa tingkat inklusinya. Dengan itu kami mapping berbagai program edukasi yang baik untuk dilakukan untuk setiap wilayah-wilayah yang dirasa masih kurang tingkat literasinya maupun tingkat inklusinya,â imbuhnya.
Friderica mengatakan, ini senada dengan tugas OJK yang tak hanya mendapatkan tugas untuk mengawasi seluruh sektor jasa keuangan, tapi sekaligus bertugas untuk melindungi masyarakat dalam aktivitas keuangan mereka melalui berbagai program.
âOJK by undang-undang, mendapat tugas yang mengatur, mengawasi seluruh sektor jasa keuangan. Namun, ada satu tugas juga, melindungi. Salah satu aspek pelindungan adalah memberikan literasi, edukasi kepada masyarakat,â ujar dia.
Lebih lanjut, Friderica turut mengapresiasi BPS sebagai mitra penting dalam survei literasi dan inklusi keuangan, seiring dengan keterlibatan aktif OJK sebagai anggota Jaringan Internasional untuk Edukasi Keuangan (INFE) OECD.
âSaat ini kita sedang dalam proses aksesi untuk negara OECD, tapi kami secara aktif menjadi member dari INFE-nya, International Network for Financial Education,â kata dia.
âOECD juga punya survei terkait literasi-inklusi di semua negara OECD. Mereka (OECD) kalau survei sekitar 1.000-2.000 (sampel), sedangkan dengan BPS, tahun pertama kita 10 ribu lebih sampelnya, dan terakhir kemarin 75 ribu, jadi luar biasa. Terima kasih untuk seluruh insan statistik Indonesia,â ujarnya menambahkan.
Ia pun berharap, BPS dapat memperkuat kerja sama dengan OJK terkait SNLIK agar mendapatkan data yang lebih akurat di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.
âKarena ini sangat penting, jadi kita bisa tahu provinsi mana yang masih di bawah angka nasional (literasi dan inklusi keuangan), dan mana yang sudah baik. Insya Allah tahun depan kita mau bekerja sama untuk (memperluas survei) tingkat kabupaten/kota,â ujar Friderica.
- Literasi Keuangan
- Inklusi Keuangan
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Telin Siap Gelar BATIC 2026 di Bali, Fokus pada Inovasi AI
-
Status Siaga Masih Berlaku, Kemenhub Minta Seluruh Kapal Jaga Jarak Radius 3 Km dari Gunung Anak Krakatau
-
Diserbu Pelajar Masuk Kuliah, Disdukcapil Rejang Lebong Akhirnya Dapat Amunisi Ribuan KTP-el
-
CIMB Niaga dan Ajaib Kolaborasi Integrasikan Layanan Perbankan dan Investasi
-
Lestari Moerdijat: Perlu Langkah Nyata dan Kolaboratif untuk Partisipasi Kerja Penyandang Disabilitas
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.