Gas Andaman Bisa Dialirkan ke Darat Aceh dari Bawah Laut, Begini Caranya

Minggu, 27 Sep 2026, 05:55 WIB

BANDA ACEH - Ahli Ekonomi Energi dari Universitas Pertamina, Rinto A Pudyantoro menyatakan bahwa pengembangan temuan gas di Tangkulo South Andaman dapat dialirkan ke daratan Aceh setelah diproses melalui offshore (lepas pantai).

"Gas Tangkulo diproses di fasilitas offshore, kemudian dialirkan ke daratan Aceh melalui pipa bawah laut, untuk mendukung industri, pembangkit listrik, dan pertumbuhan ekonomi daerah," kata Rinto A Pudyantoro dalam keterangannya yang diterima di Banda Aceh, Sabtu.

Ket. Foto: Infografis rencana pembangunan temuan gas Tangkulo South Andaman yang dibuat berdasarkan riset berbagai sumber yakni Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) migas, pakar, dan praktisi migas. — Sumber: Antara foto

Rinto mengatakan, pengembangan lapangan gas Tangkulo, South Andaman telah mendapatkan persetujuan pemerintah dalam bentuk Plan of Development (PoD).

Ia menjelaskan, berdasarkan informasi yang dikembangkan dari riset berbagai sumber yakni Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) migas, pakar, dan praktisi migas, gas tersebut diproses di fasilitas offshore, kemudian dialirkan ke daratan Aceh melalui pipa bawah laut.

Dialirkan ke fasilitas penerima (onshore receiving facility/ORF) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun, Aceh untuk mendukung industri, pembangkit listrik, dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Rinto memaparkan pengembangan cadangan 2 TCF (trillion cubic feet) di Tangkulo ini dapat dibawa ke KEK Arun melalui skema alur operasi ​subsea wells (Sumur-sumur bawah laut), dan mengalirkan gas alam dari reservoir ke fasilitas FPSO pada kedalaman laut - 1,200 m.

FPSO (Floating Production Storage Offloading, kata dia, memproses gas alam menjadi sales gas dan kondensat sesuai spesifikasi. Lalu, ​gas export pipeline, menyalurkan semua sales gas dari offshore ke daratan Aceh, (pipa bawah laut - 85 km).

Selanjutnya, Onshore Receiving Facilities (ORF) di KEK Arun menerima gas dari offshore untuk pengukuran, pengaturan tekanan, dan penyaluran ke jaringan distribusi.

"​Pemanfaatan di daratan Aceh, gas disalurkan ke industri, pembangkit listrik, hilirisasi, dan sebagainya," ujar mantan Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas itu.

Rinto memenuturkan, masih terdapat beberapa tantangan dalam pengembangan gas Andaman. Sehingga perlu dilakukan beberapa hal agar prosesnya berjalan baik.

Pertama, tantangan pengembangan deepwater. Di mana, Tangkulo merupakan lapangan gas deepwater yang membutuhkan teknologi kompleks, investasi besar, dan menghadapi risiko tinggi. Pengembangannya oleh Mubadala Energy mendukung ketahanan energi Indonesia.

Kemudian, kepastian pasar dan keekonomian, investasi deepwater membutuhkan kepastian pasar dan harga gas yang mendukung keekonomian proyek. Skema harga yang tepat menjadi kunci keberlanjutan investasi dan pengembangan gas laut dalam.

Lalu, dari sisi proses panjang menuju produksi, pengembangan deepwater memerlukan waktu panjang dari penemuan hingga produksi melalui eksplorasi, studi teknis dan ekonomi, kepastian pasar, pengeboran, serta pembangunan fasilitas dan infrastruktur.

Rinto menilai, ​gas south Andaman membuka peluang hilirisasi dan dampak ikutan bagi ekonomi Aceh. Tetapi, tantangannya kemudian adalah kesiapan industri dan infrastruktur untuk menyerap pasokan gas.

​"Jika rencana ini dapat berjalan baik, Tangkulo menjadi langkah awal pengembangan potensi gas Andaman, sekaligus membuka peluang investasi, industri, dan pertumbuhan ekonomi Aceh di masa depan," demikian Rinto Rinto A Pudyantoro.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.