Angkat Trauma Keluarga Tionghoa-Indonesia, Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang Tayang 28 Januari 2027
Sabtu, 07 Nov 2026, 16:25 WIBJAKARTA â Film drama keluarga Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang atau My Own Last Supper resmi memperkenalkan poster bioskop sekaligus mengumumkan jadwal penayangannya di seluruh Indonesia. Film garapan sutradara Ismail Basbeth tersebut dijadwalkan hadir di bioskop mulai 28 Januari 2027, menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.
Peluncuran poster berlangsung dalam konferensi pers di Roemah Umara, Bintaro, Jakarta, Jumat (6/11/2026). Acara tersebut dihadiri produser Nugroho Dewanto, sutradara Ismail Basbeth, serta para pemeran, di antaranya Ferry Salim, Nicholas Anderson, dan Jessy Davita.
Bagi tim produksi, peluncuran poster menjadi awal rangkaian promosi yang akan berlangsung hingga film tersebut tayang di bioskop. Produser Nugroho Dewanto mengatakan, sejumlah kegiatan promosi telah disiapkan, termasuk aktivasi acara dan pemutaran khusus di beberapa kota.
"Kami akan melakukan beberapa aktivasi event dan special screening di beberapa kota," ungkapnya.
Film ini juga terpilih sebagai salah satu official selection Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2026. Pemutarannya dijadwalkan berlangsung pada 30 November 2026 di Yogyakarta, kota tempat film tersebut diproduksi.
Sebelumnya, Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang mencatatkan pencapaian internasional dengan terpilih sebagai satu-satunya film dari Asia Tenggara yang masuk kompetisi film live-action panjang di Shanghai International Film Festival (SIFF) 2026 pada Juni lalu.
Kisah Makan Malam Terakhir Seorang Ayah
Film ini berkisah tentang Encek, seorang duda keturunan Tionghoa-Indonesia berusia 76 tahun yang hidup dalam kesepian setelah kehilangan istrinya 16 tahun sebelumnya.
Merasa kehilangan arah dalam kehidupannya, Encek memutuskan mengundang anak-anaknya untuk menghadiri sebuah makan malam terakhir. Jamuan keluarga yang awalnya tampak sederhana itu perlahan membuka berbagai persoalan masa lalu, luka yang belum sembuh, serta hubungan keluarga yang menyimpan banyak hal yang belum tersampaikan.
Di tengah persiapan makan malam, Encek kembali mengenang masa mudanya dan pertemuan pertamanya dengan sang istri, Encim. Namun, kenangan tersebut juga membawanya pada pengalaman traumatis, termasuk kerusuhan Mei 1998.
Ingatan itu kemudian membuka kembali masa kecil Encek ketika tinggal di sebuah panti asuhan Islam. Di tempat tersebut, ia mengalami diskriminasi dan kekerasan hingga akhirnya melarikan diri pada usia 15 tahun. Untuk bertahan hidup, ia bekerja sebagai kuli angkut di pasar tradisional.
Menjelang akhir kehidupannya, Encek memutuskan kembali mengunjungi panti asuhan tempat ia dibesarkan. Perjalanan tersebut menjadi upayanya untuk menghadapi masa lalu dan berdamai dengan pengalaman pahit yang selama ini membekas.
Melalui kisah tersebut, film ini mengangkat persoalan trauma antargenerasi, kehilangan, hubungan orang tua dan anak, serta perjuangan seseorang untuk memutus siklus penderitaan dalam keluarganya.
Cerita film diadaptasi dari novel berjudul sama karya Wisnu Suryaning Adji. Dengan latar kehidupan keluarga Tionghoa-Indonesia, film ini juga menyinggung dampak sosial dan emosional kerusuhan 1998 yang meninggalkan luka bagi sebagian masyarakat.
Menghadirkan Empati di Tengah Perbedaan
Sutradara Ismail Basbeth mengatakan, film ini tidak dimaksudkan hanya untuk keluarga keturunan Tionghoa, tetapi juga seluruh keluarga Indonesia yang hidup dalam keberagaman latar belakang suku dan budaya.
âEmpati dapat tumbuh ketika seseorang bersedia memahami pengalaman dan perasaan orang lain, termasuk tantangan kehidupan yang muncul akibat perbedaan identitas,â ujar dia pada kesempatan tersebut.
Dalam pernyataan penyutradaraannya, Ismail menyebut film ini lahir dari keinginan untuk memberikan ruang bagi suara komunitas Tionghoa-Indonesia yang kerap menjadi objek pertentangan dalam politik identitas dan wacana publik.
âPersoalan paling mendasar yang perlu diperjuangkan bukan semata pengakuan terhadap identitas kelompok, melainkan hak setiap manusia untuk hidup secara setara,â paparnya.
Melalui karakter Encek dan keluarganya, ia ingin mengajak penonton memahami pengalaman traumatis yang dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Meski Encek merupakan tokoh fiksi, pengalaman hidupnya merepresentasikan sejumlah realitas yang dialami keluarga keturunan Tionghoa-Indonesia.
Film ini juga berupaya menggambarkan bagaimana seseorang dapat berusaha menghentikan siklus trauma dan mengubah arah kehidupan keluarganya, meskipun harus menghadapi berbagai kehilangan dan penderitaan dalam proses tersebut.
Ismail berharap film ini dapat menjadi bagian dari dialog yang lebih sehat dan manusiawi di tengah keluarga Indonesia. Ia juga ingin karya tersebut menjadi ruang untuk membangun pemahaman lintas identitas, tanpa menghilangkan fungsinya sebagai tontonan yang menghibur.
Ferry Salim Perankan Encek
Dalam film ini, Ferry Salim dipercaya memerankan Encek, tokoh utama yang menjalani kehidupan sebagai seorang duda lanjut usia dengan kesepian dan kenangan masa lalu. Encek bukanlah sosok laki-laki tua yang selalu marah-marah, egois, atau tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.
âBagi saya, dia adalah seorang laki-laki yang sudah cukup lama dan berat memikul beban hidupnya di dunia ini,â tuturnya.
Ia berharap cerita tersebut dapat menyentuh penonton, terutama dalam mengingatkan pentingnya hubungan antara anak dan orang tua. Ia juga mengajak penonton yang menyaksikan film ini untuk pulang ke rumah dan menghubungi orang tua mereka, sekadar menanyakan kabar dan memastikan keadaan mereka.
Sementara itu, Nicholas Anderson dan Jessy Davita hadir sebagai pemeran muda yang masing-masing memerankan Encek dan Encim pada masa muda. Keduanya mengawali keterlibatan dalam film melalui proses audisi terbuka sebelum akhirnya terpilih mendapatkan peran. Melissa Karim turut bergabung sebagai pemeran Encim, istri Encek.
Kehadiran para pemeran dari generasi berbeda menjadi bagian penting dalam membangun perjalanan cerita, terutama untuk menggambarkan hubungan masa lalu dan masa kini dalam kehidupan keluarga tersebut.

Para personal film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang berfoto bersama poster resmi. (Koran Jakarta/Haryo Brono)
Menuju Bioskop Jelang Imlek 2027
Melalui Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang, tim produksi berharap dapat menghadirkan warna berbeda bagi perfilman Indonesia, khususnya melalui cerita keluarga yang menyentuh persoalan sejarah, identitas, dan trauma antargenerasi.
Setelah menjalani pemutaran internasional di Shanghai International Film Festival 2026 dan mengikuti JAFF 2026, film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 28 Januari 2027.
Peluncurannya menjelang Tahun Baru Imlek diharapkan menjadi momentum bagi penonton untuk menyaksikan kisah tentang keluarga, kehilangan, penerimaan, dan keberanian berdamai dengan masa lalu.
Lebih dari sekadar cerita tentang seorang ayah yang menyiapkan makan malam terakhir, film ini mengajak penonton melihat kembali arti keluarga dan pentingnya memahami pengalaman hidup orang-orang terdekat sebelum kesempatan untuk berbicara dan saling memaafkan benar-benar berakhir.
- industri film
- Film Indonesia
- Film Drama
- perfilman nasional
- bioskop indonesia
- Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang
- JAFF
- SIFF
- Ferry Salim
- Ismail Basbeth
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Momentum Sumpah Pemuda, PT Pertamina Dorong Pengembangan Ruang Inovasi Anak Muda
-
El Nino Belum Memuncak, Ancaman Karhutla Kian Membesar
-
Tayang 19 November, Film 'Hamka Awal Mula Vo.3' Garapan Fajar Bustomi Dibintangi Vino G. Bastian
-
Air Mata di Balik Jersey Merah Putih! Film Dokumen Perjuangan Timnas Indonesia "The Longest Wait" Siap Guncang Bioskop!
-
Khawatir Situasi Keamanan, Trump Larang Warga AS ke Prancis
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.