Batik Tak Lagi Terlihat Jadul, Begini Cara Menyesuaikan Desain dengan Gaya Anak Muda
📅 Minggu, 27 Sep 2026, 06:13 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoSEMARANG - Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Samuel Wattimena menyampaikan perlunya desain batik bisa terus berinovasi disesuaikan dengan selera anak muda.
"Motif-motif batik selama ini kan klasik ya. Nah, kalau kita ketemu anak-anak muda, mereka kemudian merasa kalau pakai batik kok kayak orang tua. Kira-kira salah enggak pendapat mereka?" katanya, di Semarang, Sabtu.
Hal tersebut disampaikannya saat Bimbingan Teknis (Bimtek) Penumbuhan dan Pengembangan Wirausaha Baru Industri Kecil di Kota Semarang yang digelar Kementerian Perindustrian.
Menurut dia, anggapan anak muda seperti itu tidak salah karena mereka sudah melihat motif itu di batik dipakai ayahnya, pamannya, hingga gurunya yang merupakan orang tua.
"Apakah motif tua tidak baik? Tidak. Motif tua baik, motif klasik bagus. Tapi, kita menyadari saat ini pertumbuhan generasi muda itu besar sekali volumenya," katanya.
Jika generasi muda yang saat ini menjadi pasar potensial tidak menyukai batik karena desainnya yang itu-itu saja, kata dia, berarti para pengrajin batik bisa mencoba desain atau motif yang lebih modern.
Ia mengamati selama ini produk UMKM, termasuk batik seringkali terjebak pada persaingan harga untuk menjual produknya, justru bukan pada persaingan kreativitas.
"Kalau kita enggak memberikan gagasan baru, akhirnya persaingan kita bukan pada kreativitas tapi persaingan kita pada harga. Siapa yang ngasih harga batik lebih murah? Akhirnya terjebak di situ," katanya.
Ia mengusulkan agar batik mengaplikasikan desain, motif, atau gambar yang selama ini disablon pada kaos-kaos yang selama ini banyak dipakai anak-anak muda.
"Umumnya motif-motif sablon itu lebih muda kan. Saya bilang tadi, coba dong motif sablonnya kita batik. Jadi, batik menggunakan motif-motif yang diterapkan di sablon," katanya.
Pemilik Batik "Chilomita" Sri Suharti mengatakan bahwa pengaplikasian motif sablon untuk batik tidak masalah untuk mendekatkan ke pangsa pasar anak muda.
"Motif sablon diolah menjadi desain motif untuk batik, kalau menurut saya enggak masalah ya," kata Cici, sapaan akrabnya yang juga menjadi pelatih membatik pada bimtek tersebut.
Ia berharap pelatihan tersebut bisa berlangsung secara intens agar UMKM di Kota Semarang terus berdaya dan berdampak untuk kehidupan perekonomian keluarga, terutama kepada perempuan.
Bimtek tersebut berlangsung selama tiga hari diikuti sekitar 375 para pelaku UMKM berbagai sektor, mulai batik, logam, dan roti yang nantinya akan disaring menjadi 25 peserta untuk setiap bidang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!