Penyelundupan Ular Terbongkar di KM Sinabung, Karantina Sulut Ungkap Temuan Ini

Sabtu, 26 Sep 2026, 03:11 WIB

MANADO - Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sulawesi Utara menggagalkan penyelundupan ular asal Papua di KM Sinabung yang sedang sandar di Pelabuhan Bitung.

Penyelundupan dilakukan dengan memasukkan ular ke dalam keranjang dan menyelipkan keranjang tersebut di bawah ranjang penumpang.

Ket. Foto: Salah satu spesies ular asal Papua yang berhasil diamankan Karantina Sulut yang dimasukkan ke dalam keranjang kemudian diletakkan di bawah ranjang penumpang KM Sinabung. — Sumber: Antara foto/HO-Karantina Sulut

"Keranjang itu tak diketahui pemiliknya. Ketika diperiksa, petugas Barantin menemukan 17 ekor ular yang diangkut tanpa dilengkapi dokumen karantina maupun dokumen pengangkutan satwa liar," kata Kepala Karantina Sulawesi Utara Agus Mugiyanto di Manado, Jumat.

Dari 17 ekor ular tersebut, sebanyak 16 ekor ular ditemukan dalam kondisi hidup, sementara satu lainnya telah mati.

Temuan bermula ketika petugas Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sulawesi Utara melakukan pengawasan rutin di dek lima ruang penumpang KM Sinabung yang melayani rute dari Papua menuju Surabaya.

Saat menyisir ruang penumpang, petugas mencurigai dua keranjang yang berada di bawah ranjang, tidak ditemukan pemilik yang mengakui membawa barang tersebut.

Kecurigaan petugas semakin kuat setelah keranjang diperiksa. Ular-ular itu ditempatkan di dalam botol minum bekas yang telah diberi lubang udara, kemudian dibungkus menggunakan kain karung.

Petugas selanjutnya mengamankan seluruh ular untuk dilakukan pemeriksaan dan identifikasi awal.

Hasil identifikasi Karantina Sulawesi Utara mencatat satwa tersebut terdiri dari dua ekor ular Candoia sp, 14 ekor sanca pohon hijau (Morelia azurea), serta satu ekor sanca cokelat (Leiopython albertisii).

“Upaya peredaran satwa liar ini sama sekali tidak dilengkapi dokumen karantina sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019. Selain itu, pengiriman ini juga tidak mengantongi dokumen Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Liar Dalam Negeri (SATS-DN) dari BKSDA, sehingga dapat dipastikan sebagai praktik peredaran satwa liar ilegal.

Menurut dia, kelengkapan dokumen menjadi bagian penting dalam pengawasan lalu lintas satwa antarwilayah, baik dari aspek perkarantinaan maupun ketentuan pengangkutan satwa liar.

Terlebih, pengiriman kali ini dilakukan dengan menempatkan ular di dalam wadah terbatas selama perjalanan kapal dari Papua menuju Surabaya.

Setelah pemeriksaan, Karantina Sulawesi Utara berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara untuk penanganan lebih lanjut dan di hari yang sama seluruh satwa tersebut kemudian diserahterimakan.

Agus mengatakan pengawasan lalu lintas satwa melalui pintu masuk dan keluar wilayah akan terus diperkuat untuk mencegah peredaran satwa tanpa dokumen.

“Kami berharap kejadian penyelundupan seperti ini tidak terulang kembali. Pengawasan di pintu-pintu masuk akan terus kami perketat, dan kami mengajak seluruh pihak untuk berkomitmen bersama dalam memerangi peredaran satwa liar secara ilegal,” ujar Agus.

Hingga proses penanganan dilakukan, berdasarkan keterangan yang tersedia, pemilik dua keranjang berisi ular tersebut belum diketahui.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.