Mengejutkan! 670 Penari Caping Kalo Khas Kudus Berhasil Ukir Rekor Dunia MURI

Sabtu, 26 Sep 2026, 13:18 WIB

KUDUS - Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, berhasil mencatatkan rekor dunia Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui Tari Lajur Caping Kalo yang melibatkan 670 penari di halaman Pendopo Kabupaten Kudus, Sabtu.

"Pertunjukan tari tersebut menjadi bagian dari upaya melestarikan caping kalo, kerajinan khas Kudus yang dinilai mulai terancam punah karena minimnya generasi penerus. Berdasarkan hasil verifikasi, jumlah penari yang tampil mencapai 670 orang dari 477 peserta yang sebelumnya diusulkan," kata Senior Representative MURI Ari Andriani saat penyerahan piagam penghargaan di Pendopo Kabupaten Kudus, Sabtu.

Ket. Foto: Para penari menampilkan tarian Tari Lajur Caping Kalo untuk mencatatkan rekor dunia Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) yang melibatkan 670 penari di halaman Pendopo Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (26/9). — Sumber: Antara foto

Menurut dia para peserta tidak hanya menari, namun menunjukkan kecintaan yang mendalam terhadap seni dan budaya warisan leluhur melalui gerakan yang indah dan selaras.

Tari Lajur Caping Kalo, kata dia, tidak hanya dicatat sebagai rekor nasional, tetapi dikukuhkan sebagai rekor dunia karena mengangkat salah satu simbol budaya Kabupaten Kudus.

Ia berharap capaian tersebut menjadi pemantik semangat masyarakat untuk terus melestarikan, mengenalkan, dan memajukan kebudayaan daerah.

Sementara itu, Wakil Menteri Kebudayaan RI Giring Ganesha Djumaryo mengatakan pelestarian caping kalo perlu dilakukan secara berkelanjutan karena kerajinan tersebut sempat dikhawatirkan tidak memiliki penerus.

Ia menilai pelestarian kebudayaan tidak cukup hanya dengan menjaga bentuk dan ekspresi budaya, tetapi juga perlu menghidupkannya melalui pemanfaatan dalam kehidupan masyarakat.

"Caping kalo bukan lagi sekadar kekhawatiran saya di 2025, tapi berdiri dalam bentuk tari dan dicatat sebagai rekor MURI. Teman-teman dan adik-adik penari menjadi bagian dari sejarah yang luar biasa hari ini," katanya.

Menurut Giring pengembangan caping kalo melalui seni tari merupakan salah satu bentuk kreativitas yang dapat membuat budaya tersebut lebih dikenal, khususnya di kalangan generasi muda.

Ia juga mengajak generasi muda memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan caping kalo dan Tari Lajur Caping Kalo kepada masyarakat luas.

Giring menambahkan caping kalo juga sedang diupayakan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia di tingkat nasional sesuai arahan Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Sementara itu, Bupati Kudus Sam'ani Intakoris menyampaikan apresiasi kepada PT Nojorono Tobacco International dan Yayasan Karya Bhakti Nojorono yang turut mendukung rangkaian peringatan Hari Jadi ke-477 Kabupaten Kudus, termasuk penyelenggaraan Tari Lajur Caping Kalo.

Sam'ani mengatakan pencatatan rekor dunia Tari Lajur Caping Kalo menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali kearifan lokal Kudus. Salah satunya melalui kebiasaan mengenakan adat Kudus di tanggal 23 setiap bulan.

Ia berharap pelestarian budaya juga dapat berjalan beriringan dengan pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Kudus.

"Kami ingin wisatawan tidak hanya datang untuk wisata religi, tetapi juga menikmati berbagai potensi wisata lainnya sehingga mereka bisa lebih lama berada di Kabupaten Kudus," ujarnya.

Penampilan 670 penari Tari Lajur Caping Kalo tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Kebudayaan RI Giring Ganesha Djumaryo beserta istri Cynthia Riza, Direktur PT Nojorono Tobacco International Daniel Halim, dan Senior Representative MURI Ari Andriani.

MURI kemudian menyerahkan piagam penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten Kudus, PT Nojorono Tobacco International, dan Yayasan Karya Bhakti Nojorono sebagai pemrakarsa dan penyelenggara pencatatan rekor tersebut.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.