Kekeringan Melanda Sawah, Menteri PU Tetap Optimistis Swasembada Pangan 2026 Tercapai

Sabtu, 26 Sep 2026, 22:18 WIB

Cirebon - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo optimistis target swasembada pangan 2026 tetap tercapai meski menemukan sejumlah persawahan yang masih kekurangan air saat meninjau empat titik di Bekasi dan Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (26/9).

“Insya Allah tetap tercapai. (Target swasembada pangan 2026) Tetap tercapai,” kata Dody seusai peninjauan.

Ket. Foto: Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo (kanan) berbincang dengan seorang petani saat meninjau kondisi persawahan yang terdampak kekeringan di kawasan Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (26/9). — Sumber: Antara

Ia mengatakan Kementerian PU akan meningkatkan fokus penanganan kekeringan, terutama di daerah yang menjadi lumbung pangan nasional, guna menjaga ketersediaan air untuk lahan pertanian.

“Tempat-tempat yang memang menjadi lumbung-lumbung pangan nasional akan kita utamakan,” ujar dia.

Menurut Dody, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur merupakan wilayah yang saat ini paling berat menghadapi kekeringan sekaligus menjadi kawasan utama produksi pangan nasional. 

Ia mengatakan peninjauan lapangan serupa kemungkinan diperluas ke sentra pangan lainnya, antara lain Sulawesi, Lampung, dan Jambi, untuk memastikan kondisi ketersediaan air bagi pertanian.

Dody menyebut hasil peninjauan di Jawa Barat menunjukkan masih terdapat sawah yang kekurangan air, sehingga kondisi lapangan belum sepenuhnya tergambarkan dalam data internal Kementerian PU.

“Data kami yang dashboard-nya itu hijau semua, enggak ada merahnya, itu bisa dibuktikan bahwa sebenarnya tidak terlalu tepat, karena beberapa titik juga masih ada kekeringan,” ujar dia.

Karena itu, ia meminta jajaran Direktorat Jenderal Sumber Daya Air memperkuat data lapangan dengan informasi dari Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dan gabungan kelompok tani (Gapoktan).

Dody mengatakan Kementerian PU juga memiliki sumber pembiayaan untuk mengatasi persoalan ketersediaan air bagi pertanian, antara lain melalui anggaran Instruksi Presiden terkait irigasi dan anggaran reguler irigasi.

“Dana Inpres irigasi ada, dana irigasi yang reguler juga ada,” ujar dia.

Sebelumnya, Kementerian PU melaporkan telah menangani dampak kekeringan di 2.200 lokasi hingga 7 September 2026.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 240 lokasi merupakan daerah irigasi atau persawahan dengan luas sawah yang ditangani mencapai 53.052 hektare.

Penanganan pada lahan pertanian dilakukan antara lain melalui pemompaan air dari sungai ke sawah, normalisasi saluran irigasi utama dan sekunder, pembuatan saluran darurat, pengaturan pola giliran air, optimalisasi saluran, serta pemasangan pipa.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras untuk konsumsi masyarakat sepanjang Januari–September 2026 mencapai 28,71 juta ton, meningkat tipis 0,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

BPS mencatat potensi produksi beras pada Juli–September 2026 diperkirakan mencapai 9,36 juta ton atau turun 0,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Proyeksi tersebut masih dapat berubah akibat kekeringan, banjir, serangan hama, dan perubahan waktu panen.

Adapun Kementerian Pertanian dalam proyeksi neraca pangan 2026 memperkirakan produksi beras nasional mencapai 34,77 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional sebesar 31,10 juta ton atau terdapat proyeksi surplus sekitar 3,67 juta ton.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.