Waspada El Nino! Pemerintah Pantau Ancaman Kesehatan yang Bisa Muncul
📅 Jumat, 25 Sep 2026, 00:11 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoJAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memantau situasi dan meningkatkan kesiapsiagaan nasional menghadapi risiko kesehatan dari fenomena iklim El Nino serta memperkuat langkah perlindungan di seluruh daerah sesuai dengan tingkat risiko wilayah masing-masing.
"El Nino bukan hanya persoalan cuaca dan iklim, tetapi berdampak pula pada kesehatan masyarakat karena keterbatasan air bersih, peningkatan suhu, karhutla, penurunan kualitas udara, serta potensi gangguan ketahanan pangan. Kemenkes akan terus memantau perkembangan situasi dan memperkuat langkah-langkah perlindungan kesehatan masyarakat sesuai dengan tingkat risiko di masing-masing wilayah," ujar Juru Bicara Kemenkes Widyawati di Jakarta, Kamis.
Guna menekan risiko gangguan kesehatan yang mungkin timbul, masyarakat diimbau mengambil langkah pencegahan mandiri dengan selalu mengenakan masker dan membatasi kegiatan di luar ruangan, terutama saat kondisi udara tidak sehat.
Selain itu, katanya, penting bagi masyarakat untuk memantau Indeks Kualitas Udara (IKU) secara berkala serta memperbanyak konsumsi air putih guna mencegah dehidrasi akibat peningkatan suhu ekstrem.
Apabila mulai merasakan gejala sesak napas atau keluhan kesehatan lainnya, masyarakat diharapkan untuk segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) terdekat.
Kemenkes juga meminta masyarakat untuk tetap tenang, selektif dalam menerima informasi, serta tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang belum jelas kebenarannya. Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti pembaruan kondisi cuaca dari instansi berwenang, serta rujukan informasi kesehatan resmi dari Kemenkes dan pemerintah daerah setempat.
"Masyarakat tidak perlu panik, namun tetap waspada. Lindungi diri, lindungi keluarga, dan lindungi kelompok masyarakat yang paling rentan," kata Widyawati.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan ancaman kekeringan di Indonesia diprediksi berakhir seiring masuknya musim hujan mulai Oktober - Desember 2026, meskipun fenomena El Nino di Samudra Pasifik diproyeksikan bertahan hingga kuartal I 2027.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (22/9), menjelaskan masyarakat perlu membedakan antara keberlangsungan fenomena El Nino di tingkat global dengan dampaknya terhadap kondisi iklim di Tanah Air.
"Dampak El Nino terhadap kekeringan di Indonesia akan selesai dengan masuknya musim hujan yang dimulai bertahap pada Oktober, November, hingga Desember, meskipun fenomena El Nino di Pasifik diprediksi bertahan hingga akhir kuartal pertama 2027," katanya.
Ardhasena memaparkan fenomena El Nino merupakan anomali suhu muka laut yang berpusat di Samudra Pasifik dan memiliki durasi siklus panjang yang mempengaruhi berbagai kawasan dunia dengan dampak yang berbeda-beda.
Di Indonesia, dampak utama El Nino berupa penekanan curah hujan dan kemarau panjang akan terhenti begitu sirkulasi angin monsun memasuki wilayah Nusantara dan memicu pembentukan awan hujan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!