Jangan Ikut-ikutan! Kenapa Kontrasepsi Harus Disesuaikan Kondisi Kesehatan? Ini Penjelasan Dokter Obgyn
📅 Jumat, 25 Sep 2026, 00:07 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoJAKARTA - Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) Indra Tarigan mengatakan pemilihan metode kontrasepsi perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan pasangan, karena respons tubuh setiap orang terhadap kontrasepsi dapat berbeda.
"Respons tubuh setiap orang itu kan berbeda-beda. Karena itu ketika istri mengatakan misalnya kepada suami, 'Pak, saya merasa tidak nyaman dengan KB itu'. Jangan jawab 'Itu cuma perasaan Ibu', justru itu keluhan. Itu adalah saat yang tepat untuk berdiskusi dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan," kata Indra.
Hal itu dia sampaikan saat menjadi narasumber dalam Webinar Nasional KB Pria Seri Ketiga bertajuk "Berbagi Peran dengan Istri: Peran Suami dalam Kesehatan Reproduksi dan Perencanaan Keluarga Dalam Rangka Hari Kontrasepsi Sedunia 2026" seperti diikuti secara daring di Jakarta, Kamis.
Lebih lanjut Indra menjelaskan penggunaan kontrasepsi hormonal pada perempuan dapat menimbulkan respons yang berbeda, seperti perubahan pola haid, flek, perubahan suasana hati, perubahan berat badan, hingga penurunan libido.
"Jadi jangan membandingkan. Artinya gini, teman saya pakai IUD itu enggak apa-apa, tapi saya kok sakit? Karena memang bisa berbeda-beda. Setiap perempuan itu mempunyai kondisi medis dan respon tubuh yang berbeda-beda," ujarnya.
Menurutnya, keluhan yang muncul setelah menggunakan kontrasepsi sudah seharusnya menjadi kesempatan bagi pasangan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
"Karena itu, pilihan kontrasepsi yang ideal itu bukan hanya berdasarkan cerita tetangga atau cuplikan-cuplikan di media sosial, melainkan lebih berdasarkan kondisi kesehatan dan kebutuhan pasangan," kata Indra.
Dalam kesempatan yang sama dia menjelaskan bahwa selain kontrasepsi hormonal, terdapat metode non-hormonal seperti IUD. Pada sebagian perempuan, terutama pada masa awal penggunaan, IUD dapat menimbulkan keluhan seperti kram atau perubahan jumlah perdarahan. Namun respons tubuh setiap perempuan dapat berbeda.
Di sisi lain ndra mengatakan pilihan kontrasepsi juga tersedia bagi pria sehingga perencanaan keluarga tidak hanya dibebankan kepada perempuan.
"Jadi ada tiga yang bisa dipilih, yang pertama ada kondom, ada MOP, dan ada senggama terputus," ujarnya.
Ia mengatakan kontrasepsi hormonal untuk pria masih dalam tahap penelitian dan belum direkomendasikan, sementara kondom, Metode Operasi Pria (MOP) atau vasektomi, serta senggama terputus, menjadi pilihan yang dapat dipertimbangkan.
Indra menekankan pemilihan kontrasepsi perlu menjadi pembicaraan bersama pasangan, termasuk dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan ibu, kondisi ekonomi keluarga, serta metode KB yang paling sesuai.
"Idealnya, pasangan itu duduk bersama membicarakan kapan ingin punya anak, berapa jumlah anak yang direncanakan. Bagaimana kondisi kesehatan ibu, bagaimana kondisi ekonomi keluarga, misalnya metode KB apa yang paling sesuai," ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!