Uang Beredar Tembus Rp10.448 T, Likuiditas Ekonomi Makin Gemuk
Kamis, 24 Sep 2026, 23:30 WIBJAKARTA â Likuiditas perekonomian menjadi salah satu penopang penting bagi keberlangsungan aktivitas ekonomi, karena menentukan seberapa leluasa rumah tangga, dunia usaha, dan sektor keuangan memperoleh serta mengalirkan dana.
Namun, likuiditas yang terlalu ketat dapat menahan konsumsi dan investasi, sementara likuiditas yang berlebihan juga perlu dikelola agar tidak memicu tekanan inflasi dan ketidakseimbangan ekonomi.
Bank Indonesia (BI) melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Agustus 2026 tumbuh sebesar 8,2 persen secara tahunan (year on year/ yoy) sehingga mencapai Rp10.448,1 triliun.
Posisi tersebut melanjutkan pertumbuhan M2 pada Juli 2026 yang sebesar 8,3 persen (yoy).
âLikuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh positif pada Agustus 2026,â kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (24/9).
Lebih lanjut, perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 9,0 persen (yoy) dan uang kuasi sebesar 6,5 persen (yoy).
Adapun perkembangan M2 pada Agustus 2026 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit.
Penyaluran kredit tumbuh sebesar 13,3 persen (yoy) pada Agustus 2026, meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada Juli 2026 sebesar 13,0 persen (yoy).
Dalam hal ini, kredit yang diberikan hanya dalam bentuk pinjaman (loans), dan tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman seperti surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (bankerâs acceptances), dan tagihan repo.
Selain itu, kredit yang diberikan tidak termasuk kredit yang diberikan oleh kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri, dan kredit yang disalurkan kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk.
BI juga melaporkan perkembangan uang primer (M0) adjusted yang pada Agustus 2026 tumbuh sebesar 16,3 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada Juli 2026 sebesar 17,1 persen (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp2.281,5 triliun.
Menurut bank sentral, perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di BI adjusted sebesar 19,0 persen (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 12,9 persen (yoy).
Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 adjusted telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted).
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Tiongkok Lukai Pelaut Filipina dalam Bentrokan di LTS
-
Lulusan SD Bisa Berpenghasilan Setara UMR Rp5,7 Juta
-
Kemenhub Siap Antisipasi Lonjakan Penumpang Pesawat Saat Libur Nataru
-
RI Gandeng Panama, Taruna Pelayaran Kemenhub Berpeluang Magang & Studi ke Luar Negeri
-
Pesawat Garuda GA-604 Pecah Ban Saat Terbang ke Makassar, 149 Penumpang dan Awak Selamat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.