Foto: Bogor Microgreens, Sulap Kamar Menjadi Lahan Pertanian Modern Berbasis Teknologi

Keterbatasan lahan tidak lagi menjadi penghalang untuk mengembangkan usaha pertanian. Melalui penerapan teknologi budidaya dalam ruangan atau indoor farming, ruang kecil sekalipun dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk pertanian bernilai ekonomi. Salah satunya dilakukan Bogor Microgreens yang mengembangkan budidaya sayuran muda atau microgreens di kawasan Bogor.

Usaha yang dirintis Hernando bersama rekannya sejak April 2026 tersebut memanfaatkan ruangan kamar di kawasan Cimanggu, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, sebagai tempat produksi. Dengan memanfaatkan rak bertingkat, nampan semai, media tanam, serta pencahayaan buatan, mereka mengembangkan pertanian yang tidak bergantung sepenuhnya pada ketersediaan lahan terbuka.

Microgreens merupakan sayuran yang dipanen pada usia muda, umumnya sekitar 7–14 hari setelah berkecambah, bergantung pada jenis tanaman. Meski berukuran kecil, sayuran ini memiliki daya tarik tersendiri karena menawarkan cita rasa, warna, tekstur, dan kandungan nutrisi yang menjadikannya banyak digunakan dalam berbagai menu makanan sehat.

Sejumlah jenis tanaman yang dapat dibudidayakan sebagai microgreens antara lain brokoli, lobak, kale, sawi, bunga matahari, dan kacang polong. Di Bogor Microgreens, beberapa varietas yang dikembangkan antara lain pea shoot, radish, brokoli, dan red amaranth.

Mengandalkan Teknologi Pencahayaan

Berbeda dengan pertanian konvensional yang mengandalkan sinar matahari, sistem pertanian indoor memungkinkan proses budidaya dilakukan dengan bantuan pencahayaan buatan atau grow light.

Lampu tersebut berfungsi menyediakan cahaya yang dibutuhkan tanaman untuk menjalankan proses fotosintesis. Intensitas, spektrum, dan durasi pencahayaan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing varietas agar pertumbuhan berlangsung optimal.

Penggunaan lampu tanaman juga membuat kegiatan produksi dapat dilakukan di ruangan yang memiliki akses terbatas terhadap sinar matahari. Dengan rak bertingkat, kapasitas penanaman dapat ditingkatkan tanpa harus memperluas bangunan.

Selain pencahayaan, pengaturan suhu dan kelembapan menjadi faktor penting. Kipas ventilasi maupun pendingin ruangan dapat digunakan untuk membantu menjaga kondisi lingkungan tumbuh, terutama ketika produksi dilakukan di ruang tertutup.

Masa Panen Singkat, Peluang Produksi Berulang

Salah satu keunggulan microgreens terletak pada masa tanam yang relatif singkat. Jika sayuran konvensional membutuhkan waktu lebih panjang untuk mencapai ukuran panen, microgreens dapat dipanen ketika masih berada pada fase pertumbuhan awal.

Siklus produksi yang singkat memungkinkan pelaku usaha melakukan penanaman secara bertahap dan berulang. Dengan perencanaan jadwal semai dan panen, ketersediaan produk dapat disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

Selain itu, penggunaan media tanam dalam nampan membuat proses produksi lebih mudah dikendalikan. Pelaku usaha dapat mengatur jumlah benih, media tanam, kebutuhan air, serta waktu panen untuk setiap jenis tanaman.

Menyasar Pasar Kuliner dan Konsumen Sehat

Dari sisi pemasaran, microgreens memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk pangan premium. Sayuran muda ini dapat digunakan sebagai pelengkap salad, sandwich, sup, hidangan utama, hingga dekorasi makanan di restoran dan hotel.

Pasar potensial lainnya adalah katering sehat, kafe, komunitas kebugaran, serta konsumen rumah tangga yang mulai memperhatikan kualitas bahan pangan.

Dalam laporan mengenai Bogor Microgreens pada September 2026, usaha tersebut disebut mampu membukukan omzet sekitar Rp5 juta hingga Rp8 juta per bulan. Pea shoot menjadi salah satu produk yang diminati konsumen.

Alternatif Pertanian Perkotaan

Kehadiran Bogor Microgreens menjadi gambaran berkembangnya pendekatan pertanian modern yang memanfaatkan teknologi untuk menjawab persoalan keterbatasan lahan.

Konsep ini dapat menjadi alternatif bagi masyarakat perkotaan yang ingin memulai usaha pertanian tanpa harus memiliki kebun atau lahan luas. Pemanfaatan ruangan yang tersedia, termasuk bagian rumah yang tidak terpakai, dapat menjadi langkah awal untuk membangun usaha produktif.

Ke depan, pengembangan pertanian indoor juga berpotensi didukung penggunaan teknologi yang lebih efisien, seperti sensor suhu dan kelembapan, pengatur pencahayaan otomatis, serta sistem pemantauan konsumsi listrik.

Untuk pertanian modern ini dalam sebulan hanya menghabiskan biaya listrik sebesar 250-300 ribu rupiah karena memang penggunaan AC selama 24 jam full

Doc. Foto: Koran Jakarta/Wahyu AP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.