Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemerintah Usut Dugaan WNI Direkrut Jadi Tentara Russia

📅 Kamis, 24 Sep 2026, 15:35 WIB | Oleh:
Pemerintah Usut Dugaan WNI Direkrut Jadi Tentara Russia Doc: TikTok Satria @zstorm689

JAKARTA - Pemerintah tengah mengusut dugaan penipuan dan eksploitasi warga negara Indonesia (WNI) yang direkrut untuk menjadi tentara bayaran Russia. Wakil Duta Besar RI untuk Russia di Moskwa, Hartyo Harkomoyo, mengungkapkan perekrutan WNI menjadi tentara Russia memiliki dua kategori utama.

Menurut dia, sebagian WNI direkrut melalui tawaran pekerjaan sipil, sementara lainnya bergabung secara sadar sebagai personel militer Russia setempat. Hartyo menjelaskan, tawaran pekerjaan tersebut mencakup pengemudi, tukang bangunan, juru masak, perawat, serta tenaga medis bagi pekerja Indonesia.

“Mereka dijanjikan pekerjaan yang bukan sebagai tentara bayaran, tetapi setelah tiba di Russia ada unsur militer,” papar Hartyo.

Hartyo mengatakan terdapat dua pintu masuk perekrutan, yakni WNI yang direkrut dari Indonesia dan WNI yang sudah berada di Russia, terutama mahasiswa atau pelajar. Menurut Hartyo, rata-rata mereka dijanjikan pekerjaan yang bukan sebagai tentara bayaran.

Tetapi, ada juga pekerjaan sipil di bawah Kementerian Pertahanan Russia, seperti pengemudi, tukang bangunan, juru masak, perawat dan lainnya.

Hartyo mengakui sulit untuk mengindentifikasi WNI dalam kasus tentara bayaran. Mereka datang ke Russia bergabung di kedinasan militer Russia menggunakan visa turis, dan tidak melapor ke KBRI di Moskwa, sehingga tidak diketahui kapan mereka tiba di Russia.

Menurut dia, perekrutan di Indonesia berlangsung melalui media sosial, dengan tawaran penghasilan tinggi yang menarik perhatian pencari kerja. Dari hasil penelusurannya, kontrak awal, mendapatkan uang 1,9 juta rubel atau sekitar USD22 ribu (dikonversi Rp 393.179.408).

"Perbulan penghasilan mereka itu sekitar 420 ribu rubel, itu sekitar hampir USD5 ribu (Rp 89.375.000). Jadi bisa dibayangkan dengan gaji segitu, banyak orang yang akan tergiur," ujar dia.

KBRI memperkirakan jumlah WNI yang berada di garis depan mencapai puluhan orang dari penelusuran yang dilakukan. Menurutnya, akses KBRI terbatas karena wilayah pertempuran merupakan zona militer yang sulit dijangkau perwakilan asing secara langsung pun.

“Bagi mereka yang sudah berada di medan perang, wilayah tersebut tidak dapat dijangkau KBRI. Aksesnya terbatas," ujar dia.

Hartyo mengimbau masyarakat Indonesia memahami risiko besar sebelum menerima tawaran pekerjaan yang berpotensi mengarah pada dinas militer Russia. Diharapkan, masyarakat teliti dan mengecek ulang setiap lowongan kerja di luar negeri. ils/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Ekonomi
Danantara Borong Saham Burs...
Ekonomi
BI Tangkap Sinyal Ekspansi ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Jangan Lupa Catat Tanggalnya! CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan, Jaksel Adakan di Jalan Iskandar Muda

Jangan Lupa Catat Tanggalnya! CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan, Jaksel Adakan di Jalan Iskandar Muda

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.