Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Akademisi: Makan Siang Sekolah Bergizi Bisa Jadi Pelajaran Kewarganegaraan di Sekolah

📅 Kamis, 24 Sep 2026, 17:43 WIB | Oleh:
Akademisi: Makan Siang Sekolah Bergizi Bisa Jadi Pelajaran Kewarganegaraan di Sekolah Doc: Antara Foto
Ket. Kepala BGN Sudaryono (lima dari kiri) dalam audiensi bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesia di Jakarta pada Rabu (23/9) untuk mempelajari praktik baik free meals di negeri Sakura itu untuk perbaikan kualitas Program Makan Siang Sekolah Bergizi.

Program Makan Siang Sekolah Bergizi dapat menjadi sarana bagi anak untuk mengenal gizi, kebiasaan hidup sehat, serta hubungan antara negara dan warga. Namun, sekolah perlu memberi ruang bagi siswa untuk bertanya dan menyampaikan keluhan ketika layanan makanan tidak sesuai standar, menurut akademisi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Apri Damai Sagita Krissandi.

Dalam tulisan berjudul “MBG dan Cara Baru Negara Mendekati Anak” yang dimuat TIMES Indonesia, dosen PGSD, penulis, dan peneliti bidang pendidikan bahasa Indonesia serta sastra anak itu mengingatkan bahwa makanan yang diterima siswa merupakan layanan publik yang dibiayai anggaran negara. Karena itu, anak dapat belajar memahami haknya sebagai penerima layanan, sekaligus cara menilai pelaksanaannya.

“MBG bisa menjadi pelajaran kewarganegaraan yang nyata,” tulis Apri. Ia mengusulkan agar guru mengajak siswa membahas asal anggaran, pihak yang mengelola makanan, cara pengawasan, dan langkah yang perlu ditempuh bila makanan bermasalah.

Makan bersama sebagai ruang belajar

Gagasan itu sejalan dengan kebijakan pendidikan karakter yang mengaitkan MBG dengan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Salah satu kebiasaannya ialah makan sehat dan bergizi. Kemendikdasmen juga telah menyiapkan pedoman pendidikan karakter dan modul edukasi gizi untuk mendampingi pelaksanaan program di sekolah.

Dalam evaluasi Kemendikdasmen yang melibatkan 1.203.309 responden murid pada 2025, sekolah penerima Makan Siang Sekolah Bergizi mencatat penurunan gangguan belajar akibat lapar rata-rata 2,37 poin persentase lebih besar dibandingkan sekolah yang belum menerima. Angka tersebut mengukur gangguan belajar akibat lapar, bukan langsung mengukur perubahan karakter atau pemahaman kewarganegaraan siswa.

BGN, melalui Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Mariman Darto, turut mendorong kebiasaan baik saat makan bersama, termasuk mencuci tangan, tertib mengambil makanan, berdoa, mempelajari gizi dan keamanan pangan, serta menjaga kebersihan setelah makan. Guru didorong mendampingi kegiatan itu agar kebiasaan sehat tidak berhenti pada pembagian porsi.

Bagi Apri, pendampingan juga perlu mencakup pemahaman bahwa menerima layanan pemerintah tidak menghapus hak siswa untuk bertanya. Dalam praktiknya, guru dapat memakai percakapan sesuai usia anak: siapa yang menyediakan makanan, mengapa menu perlu aman dan bergizi, serta kepada siapa siswa dapat melapor jika menemukan masalah.

Pengawasan dimulai sebelum makanan disantap

Aspek keamanan pangan membuat ruang bertanya itu semakin relevan. Pada 15 September 2026, Kepala BGN Sudaryono meminta sekolah menolak makanan  apabila wadahnya tidak memiliki label waktu. Guru juga diminta memeriksa kondisi makanan sebelum disantap dan menghentikan konsumsi bila makanan terindikasi tidak aman.

BGN sebelumnya mengumumkan penutupan sementara 1.999 SPPG yang, menurut pembaruan data per 7 September 2026, belum mendaftarkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Jumlah tersebut merupakan temuan pada tanggal itu, bukan angka seluruh dapur yang bermasalah saat ini.

Sekolah dapat menindaklanjuti keluhan siswa dengan mencatat temuan, menghentikan pembagian makanan yang diragukan keamanannya, dan menyampaikan laporan kepada SPPG serta kanal pengaduan resmi. Sudaryono secara terbuka meminta kepala sekolah dan guru memberikan umpan balik kepada pengelola dapur ketika label maupun menu bermasalah.

Dengan cara itu, kegiatan makan bersama menjadi kesempatan belajar yang konkret: siswa mengenal manfaat program sekaligus memahami bahwa mutu layanan publik dapat diperiksa dan diperbaiki. Usulan pendidikan kewarganegaraan tersebut adalah pandangan Apri; keberhasilannya di sekolah tetap memerlukan pendampingan guru dan mekanisme tanggapan yang berjalan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Luar Negeri
FAO Serukan Kerja Sama Glob...
Luar Negeri
OPEC Proyeksikan Permintaan...
Luar Negeri
Bank of America Didenda $1,...
Advertisement
Parah, Ombudsman RI Temukan Gangguan Layanan BBM di 11 Provinsi

Parah, Ombudsman RI Temukan Gangguan Layanan BBM di 11 Provinsi

14 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.