Jejak Tumbukan Komet dan Asteroid Ungkap Penyusutan Merkurius
Rabu, 23 Sep 2026, 07:42 WIBPLANET terdekat dengan Matahari ternyata kemungkinan telah menyusut lebih banyak daripada yang selama ini diperkirakan para ilmuwan. Petunjuknya dari fenomena itu terlihat pada permukaan Merkurius yang dipenuhi kerutan, tebing, dan punggungan batuan. Struktur geologi ini merupakan jejak ketika bagian dalam planet perlahan kehilangan panas dan mengalami penyusutan.
Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa sebagian tanda penyusutan Merkurius kemungkinan selama ini tersembunyi oleh material hasil tumbukan asteroid dan komet. Dengan memperhitungkan struktur geologi yang mungkin tertutup material tersebut, para peneliti memperkirakan penyusutan Merkurius bisa 10 hingga 30 persen lebih besar daripada perkiraan sebelumnya.
Temuan ini bukan sekadar soal perubahan ukuran sebuah planet. Besarnya penyusutan Merkurius dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi interiornya, termasuk ukuran dan komposisi inti logam, suhu awal planet, serta sejarah geologinya.
Penelitian yang dipimpin Gaku Nishiyama dari German Aerospace Center (DLR) Institute of Planetary Research tersebut diterbitkan pada September 2026 di jurnal Geophysical Research Letters, menyebutkan Merkurius merupakan planet terkecil sekaligus planet yang paling dekat dengan Matahari. Jarak rata-ratanya dari Matahari sekitar 58 juta kilometer, dan planet tersebut menyelesaikan satu kali revolusi mengelilingi Matahari hanya dalam 88 hari Bumi.
Planet berbatu ini terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu, ketika Tata Surya masih berada dalam tahap awal pembentukannya. Pada periode tersebut, ruang di sekitar Matahari dipenuhi material berupa gas, debu, asteroid, dan benda-benda batuan yang saling bertumbukan.
Tumbukan tersebut menghasilkan panas dalam jumlah besar. Merkurius yang baru terbentuk sudah sangat panas, sementara energi tambahan dari berbagai tumbukan membuat bagian dalam planet menjadi semakin panas.
Seiring waktu, panas dari interior planet perlahan dilepaskan ke ruang angkasa. Ketika bagian dalam Merkurius mendingin, volumenya menyusut. Penyusutan ini kemudian memberi tekanan pada lapisan batuan di bagian luar planet. Akibatnya, permukaannya mengalami deformasi dan membentuk struktur yang oleh para ilmuwan dikenal sebagai lobate scarps dan punggungan.
Beberapa tebing tersebut memiliki ketinggian hingga sekitar 1,6 kilometer dan dapat membentang hingga ratusan kilometer. Struktur inilah yang menjadi semacam âjejak fosilâ dari proses pendinginan interior Merkurius.
Tertutup Kawah
Persoalannya, permukaan Merkurius tidak pernah benar-benar tenang. Selama miliaran tahun, planet tersebut terus dihantam asteroid dan komet. Tumbukan meninggalkan kawah dalam jumlah sangat besar dan membuat permukaan Merkurius tampak seperti Bulan yang penuh cekungan.
Material yang terlempar dari tumbukan kemudian tersebar di berbagai wilayah. Akumulasi material tersebut dapat menutupi atau mengaburkan struktur geologi yang terbentuk ketika Merkurius menyusut. Kondisi inilah yang menarik perhatian Nishiyama dan timnya.
Para peneliti menggunakan data dari wahana antariksa Messenger milik NASA untuk membuat peta global kekasaran permukaan Merkurius. Mereka menemukan pola yang menarik: wilayah permukaan yang paling kasar justru memiliki lebih sedikit kerutan dan struktur penyusutan yang terlihat dibandingkan wilayah yang lebih halus.
Jika proses penyusutan Merkurius berlangsung secara relatif merata, seharusnya struktur tersebut tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu. Perbedaan ini kemudian menimbulkan dugaan bahwa sebagian struktur penyusutan bukan tidak pernah terbentuk, melainkan tertutup oleh material hasil tumbukan.
Tim peneliti selanjutnya memperkirakan jumlah struktur yang mungkin tersembunyi di wilayah-wilayah tersebut. Hasil perhitungannya menunjukkan bahwa penyusutan Merkurius bisa 10 hingga 30 persen lebih besar daripada perkiraan sebelumnya. Salah satu estimasi yang diperoleh menunjukkan perubahan radius sekitar 11,6 kilometer.
Sumber lain yang dirangkum dalam penelitian tersebut memperkirakan perubahan diameter Merkurius akibat penyusutan bisa mencapai hampir 19 kilometer, atau bahkan lebih tinggi dalam batas estimasi tertentu.
Space.com menyebut perhitungan baru menunjukkan kemungkinan perubahan diameter hingga sekitar 23 kilometer, dibandingkan kisaran 4 hingga 16 kilometer yang digunakan dalam sejumlah perkiraan sebelumnya.
Mengapa Ukuran Penyusutan Penting?
Bagi ilmuwan planet, ukuran penyusutan Merkurius bukan sekadar angka. Merkurius merupakan planet berbatu dengan inti logam yang sangat besar dibandingkan ukuran keseluruhan planet. Planet ini juga merupakan planet terpadat kedua di Tata Surya setelah Bumi.
Karena itu, seberapa besar Merkurius menyusut dapat memberikan petunjuk tentang apa yang terjadi di bagian dalam planet. Semakin besar penyusutan yang terbukti, semakin besar pula kemungkinan adanya kondisi interior tertentu yang menjelaskan proses tersebut.
Menurut Nishiyama, penyusutan yang lebih besar dapat mengindikasikan bahwa Merkurius memiliki inti logam yang lebih besar, kandungan unsur ringan seperti silikon yang lebih sedikit di dalam inti, atau suhu awal planet yang lebih tinggi.
Dengan kata lain, permukaan Merkurius dapat menjadi semacam jendela untuk mempelajari bagian planet yang tidak mungkin diamati secara langsung.
Besarnya penyusutan juga dapat membantu ilmuwan memperkirakan lapisan interior Merkurius, ukuran dan komposisi inti, sejarah tektonik dan vulkaniknya, serta proses yang menghasilkan medan magnet planet tersebut.
âMessengerâ Membuka Jalan
Pengetahuan mengenai penyusutan Merkurius berkembang berkat sejumlah misi antariksa yang telah mengunjungi planet tersebut. Merkurius sulit dipelajari karena posisinya sangat dekat dengan Matahari. Suhu ekstrem dan lingkungan radiasi di sekitarnya membuat misi menuju planet ini jauh lebih menantang dibandingkan misi ke sejumlah planet lain.
Sebelum misi terbaru, hanya dua wahana yang telah melakukan eksplorasi dekat terhadap Merkurius. Pertama Mariner 10 milik NASA pada 1970-an dan kedua Messener, yang mulai mengorbit Merkurius pada 2011.
Mariner 10 memberikan gambaran awal mengenai struktur permukaan Merkurius, termasuk tebing dan kerutan yang menjadi petunjuk penyusutan planet. Sementara itu, Messenger memberikan gambaran global yang jauh lebih lengkap mengenai permukaan Merkurius.
Namun, data Messenger tetap memiliki keterbatasan. Wahana tersebut tidak mampu menangkap seluruh struktur geologi berukuran kecil di permukaan planet. Menurut materi penelitian yang dirangkum Space.com, MESSENGER hanya dapat membedakan fitur dengan ukuran sekitar 5 kilometer atau lebih. Artinya, masih mungkin ada struktur penyusutan yang lebih kecil yang belum teridentifikasi.
BepiColombo
Kesempatan untuk menguji kembali perkiraan tersebut datang dari BepiColombo, misi gabungan Badan Antariksa Eropa (ESA) dan Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA). Setelah menempuh perjalanan hampir delapan tahun, misi tersebut memasuki tahap kedatangan menuju Merkurius.
Dua wahana pengorbit yang dibawanya dirancang untuk melakukan pengamatan lebih rinci terhadap planet tersebut. BepiColombo akan melakukan pengukuran topografi Merkurius dengan cakupan dan ketelitian yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Data tersebut penting karena Messenger belum mampu melakukan pengukuran topografi global dengan kemampuan yang sama. Dengan pemetaan baru, ilmuwan dapat memeriksa kembali persebaran tebing, punggungan, kawah, dan struktur permukaan lain yang berkaitan dengan kontraksi planet.
Wahana Mercury Planetary Orbiter juga akan memberikan pengamatan terhadap wilayah selatan Merkurius, melengkapi data Messenger yang memiliki cakupan resolusi tinggi terutama di belahan utara.
Selain topografi, BepiColombo akan mengukur berbagai aspek lain yang dapat membantu menyusun gambaran lebih lengkap mengenai interior Merkurius. Pengukuran tersebut mencakup anomali gravitasi, ketebalan kerak, struktur interior, serta komposisi unsur dan mineral di permukaan. Semua data tersebut saling melengkapi.
Apakah Merkurius Masih Menyusut?
Istilah âMerkurius menyusutâ dapat menimbulkan kesan bahwa planet tersebut sedang mengecil dengan cepat hingga saat ini. Namun, proses yang dibahas dalam penelitian ini berlangsung dalam rentang waktu geologis yang sangat panjang.
Penyusutan terutama berkaitan dengan pendinginan interior Merkurius sejak planet tersebut terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Ketika energi panas dari bagian dalam dilepaskan, material interior mengalami perubahan volume yang kemudian diteruskan ke lapisan batuan di permukaan. Jejak proses tersebut tetap terlihat hingga sekarang dalam bentuk tebing dan Âpunggungan.
Jadi, yang sedang dicari para ilmuwan bukanlah perubahan ukuran Merkurius yang dapat diamati dari tahun ke tahun, melainkan seberapa besar planet itu telah berkontraksi sepanjang sejarah Âgeologisnya. hay
- Tumbukan Komet dan Asteroid
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.