Bioetanol Bisa Hemat Devisa Rp500 Triliun per Tahun, Mentan Ungkap Caranya
📅 Selasa, 22 Sep 2026, 01:04 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoJAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pengembangan bioetanol nasional berpotensi menghemat devisa hingga sekitar Rp500 triliun setiap tahun.
Penghematan devisa tersebut berasal dari pengembangan bioetanol sebagai energi terbarukan yang selama ini diproduksi negara lain, sehingga nilai ekonominya dapat berputar di dalam negeri.
"Karena yang terpenting adalah etanol diproduksi negara lain, itu nilainya energi, ya, biofuel, itu nilainya Rp500 triliun. Kalau Rp500 triliun ini berputar di petani Indonesia," kata Mentan usai Rapat Koordinasi Percepatan Pengembangan Bioetanol bersama 44 bupati dari berbagai daerah sentra produksi di Jakarta, Senin.
Mentan mengatakan pemerintah mendorong pengembangan bioetanol berbasis tiga komoditas strategis pertanian, yakni tebu, singkong, dan jagung sebagai bahan baku utama energi.
Untuk mendukung program tersebut, pemerintah menyiapkan pengembangan lahan seluas 1 juta hingga 2 juta hektare yang akan menjadi basis produksi bahan baku bioetanol nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Amran menjelaskan pengembangan kawasan bioetanol membutuhkan kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sektor swasta untuk mempercepat realisasi program.
Lebih lanjut, dia menyebutkan sebanyak 44 bupati yang menghadiri rapat tersebut telah menyatakan dukungan dalam konsolidasi awal pengembangan kawasan bioetanol dengan menyiapkan potensi wilayah, lahan, serta komoditas yang sesuai kebutuhan industri.
Amran menegaskan pemerintah akan memprioritaskan pemanfaatan lahan yang tersedia, seperti lahan yang telah dilepaskan dan kawasan yang sesuai untuk pengembangan tanaman energi.
Selain itu, pemerintah juga akan melibatkan BUMN serta swasta dalam pembangunan industri bioetanol dengan skema investasi yang mendukung percepatan pengembangan kawasan.
"Anggarannya mungkin 30 persen dari BUMN, 70 persen dari swasta, dan pasti swasta mau, karena tanahnya disiapkan oleh negara, pasti berbondong-bondong," tutur Amran.
Dia menilai pengembangan bioetanol menjadi langkah lanjutan setelah penguatan sektor pangan dan protein untuk mewujudkan kedaulatan energi nasional melalui potensi pertanian Indonesia.
"Intinya adalah bagaimana kita berdaulat energi, pangan, protein. Insya Allah, Indonesia menjadi negara besar, negara super power ke depan. Sekarang, pangan selesai, protein sudah selesai. Sekarang, etanol kita kejar," pungkas Amran.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!